Sabar Menjadi Kunci Orang Besar

Imam para orang-orang sabar yaitu Nabi Ayub AS. Ketika beliau ditimpa penyakit, beliau diusir dari daerahnya karena penyakitnya berefek bau. Beliau menahan kesabarannya. Kemudian beliau memohon kepada Alloh SWT tetapi beliau tidak meminta untuk sembuh pada Alloh. Beliau sandarkan badannya yang sakit itu ke batu. Beliau merintih kepada Alloh “Ya Alloh, aku sedang ditimpa kepayahan. Aku sedang ditimpa bencana akibat setan. Engkau Maha Pemurah. Engkau Maha Penyayang”. Dalam rintihan itu, beliau tidak meminta supaya Alloh sembuhkan dia. Dan beliau pun berbicara dengan istrinya “wahai istriku, berapa tahun anugerah yang Alloh berikan kepada engkau?”. Istri menjawab “telah lama aku terima anugerah dari Alloh. 80an tahun. Semua nikmat telah kita terima. anak sholeh, istri sholeha, kekayaan berkah”. Nabi Ayub bertanya lagi “Sekarang, berapa tahun kau di uji?”. Istri menjawab “baru 10 tahun”. Lalu Nabi Ayub berkata “Seimbangkah antara anugerah dan ujian? Aku malu meminta sehat kepada Alloh. Karena aku takut kalau aku sehat, aku tidak bisa mensyukuri sehatku”. Beliau tidak meminta untuk sehat karena begitu malu dihadapan Alloh SWT. Dia hanya melaporkan keadaan dirinya. Namun Alloh tahu gumaman seorang kekasihNya itu. Lantas Alloh memerintahkan kepada Nabi Ayub “Wahai Ayub, hentakkan kakimu nanti akan keluar air dan mandilah dengan air itu. Engkau akan sehat”.

Menyampaikan keadaan kepada Alloh, Alloh akan kasih jawaban kepada kita. Jangan kita yang kasih jawaban. Misalnya “Ya Alloh, anakku belum kenal sholat. Ya Alloh suamiku belum tahu sholat. Tolong beri aku petunjuk”. Laporkan saja kepada Alloh. Jeritkan saja semua kepada Alloh seperti Nabi Ayub yang hanya melaporkan keadaannya kepada Alloh.

Agama mengajarkan kepada kita bahwa sabar itu ada tiga makna. Satu, menahan gejolak nafsu. Kedua, sabar itu batu yang kokoh. Ketiga, sabar itu ketinggian sesuatu. Ketiga makna tersebut saling kait mengkait. Kalau seseorang mampu menahan gejolak nafsu maka dia akan kokoh jiwanya sekokoh batu. Semakin kokoh jiwanya maka dia akan semakin tinggi derajatnya.

Sabar itu tandanya jarang bicara atau tidak basa-basi. Tapi lebih jiwanya yang nampak. Bila kesabaran ini dicabut dari diri seseorang, maka tunggu kehancuran orang itu. Ketika kita belajar SD 6 tahun, kalau tidak sabar maka tidak akan selesai. Kalau tidak sabar, udah ah cape. Kesabaran itu identik dengan orang sukses. Semakin dia sabar, semakin terbuka kesuksesan untuk orang itu.

Banyak kehidupan Rasulullah SAW diwarnai penuh dengan kesabaran. Ada seorang kakek yang tua sekali, buta, miskin dan dia Yahudi. Beliau selalu hidup di Pasar. Dan kebiasaannya mencaci Rasulullah dengan berkata “jangan percaya agama Muhammad. Jangan percaya ucapan Muhammad karena itu bohong”. Oleh Rasulullah cacian itu dirangkul. Rasul datangi orang itu dan memberi makan kakek tersebut. Ketika disodori makan, dia senang dikasih makan. Setiap hari Rasul kasih makan kakek itu. Sampai Rasulullah meninggal. Usai Rasulullah meninggal, Abu Bakar tampil menjadi khalifah. Dia bertanya ke istri Rasulullah (anak Abu bakar) “ya aisyah, bolehkan engkau lihat bapakmu ini. Ada tidak yang belum aku lakukan yang Rasul lakukan?”. Siti aisyah menjawab “semua yang apa Rasulullah lakukan, ayah sudah melakukannya. Cuma satu yang belum ayah lakukan. Rasul pernah pergi ke Pasar kasih makan orang yang mencacinya. Coba Ayah lakukan itu”. Abu Bakar pun pergi ke Pasar mencari orang itu. Dan ternyata masih hidup. Kemudian Abu bakar memberikan makan kakek tersebut. Setelah dikasih makan, kakek itu merasa ada yang beda. Tidak seperti yang sebelumnya. Lalu dia bertanya “engkau siapa?”. Abu bakar menjawab “saya Abu bakar”. Kakek bertanya lagi “lantas siapa yang memberi saya makan sebelumnya?”. Abu bakar menjawab “yang kasih makan sebelumya adalah Muhammad yang sering kau caci”. Kakek itu pun menangis. Yang dia caci adalah dia yang memberinya makan. Karena akhlak kesabaran Rasulullah, kakek Yahudi itu bersyahadat kepada Abu bakar “demi nama Muhammad, aku bersyahadat ya Abu Bakar As Sidiq”.

Kisah Rasulullah tersebut adalah sabar yang paling tinggi. Ketika dia mencaci kami, balas dengan sapaan. Ketika dia ambil hak kami, ambil. Mungkin dulu kami tidak pernah berbuat baik atau tidak zakat sehingga terambil oleh orang itu. Serba lapang dada orang yang sabar itu. Kalau minta sesuatu jangan dengan paksaan. Mintalah dengan ridho “saya bolehkan minta uang?”. Ketika tidak dikasih, jangan diambil. Tetapi kalau dia memaksa mengambil, kalau boleh dia sabar tinggi maka berikan saja.

Sabar itu kunci orang besar. Bila ia sabar maka ia akan menjadi orang besar. Sabar itu bukan menampakkan dirinya lemah. Sabar itu justru menampakkan kekuatan jiwanya. Orang yang sabar bukan orang yang lemah. Dia adalah orang yang sangat kuat sekali. Sampai Alloh menyampaikan “Wahai hambaKu minta tolonglah kalian kepada sabarmu dan sholatmu”. Sabar didahulukan dari sholat karena kekuatan sabar itu seperti firman Alloh “Alloh itu akan selalu beserta orang-orang sabar”. Sabar tidak identik dengan orang lemah.

Sabar itu landasan karena isi sabar itu ada tiga yaitu ilmu, keadaan/hal, aksi amal perbuatan. Semakin tinggi ilmunya, dia akan semakin arif menghadapi kehidupan. Kalau sudah arif, dia akan aksi amal sholeh. Ilmu itu pohon, keadaan itu ranting, dan amal itu buah. Maka orang-orang sabar akan semakin banyak buahnya / amalnya.

Sabar itu tidak ada batasnya. Yang membatasi adalah kemampuan keimanan kita. Karena semakin tinggi keimanannya, akan semakin bergaris lurus dengan kesabarannya. Iman itu 50 % sabar, 50 % syukur. Tinggal kualitas kesabaran seseorang. Itu yang membedakan. Mungkin kita sabar dalam beribadah kepada Alloh tapi belum sabar dalam musibah. Kadang ada orang sabar dalam musibah tapi tidak sabar dalam menahan kemaksiatan. Kesabaran adalah sebuah keniscayaan. Alloh menyampaikan dalam firmanNya “Aku ciptakan kehidupan, Aku ciptakan kematian untuk menguji engkau. Sabar atau tidak”. Alloh ingin memfilter mana manusia yang imannya hebat, mana manusia yang imannya biasa. Diberikanlah ujian. Dan ujian itu bukan hanya musibah. Jabatan ujian, kekayaan ujian. Bahkan Nabi Sulaiman baru menerima jabatan Raja. Nabi Sulaiman dikasih kekayaan. Nabi Sulaiman berujar pada Alloh “ya Alloh ini adalah anugerah dari Engkau untuk mengujiku”.

Ketika seorang Muslim beriman dan terkena musibah, Alloh menyampaikan dalam firmanNya “Jika musibah menimpa kalian segera meminta kepada Alloh. Semua milik Alloh, kembalikan semua kepada Alloh”. Karena ketika musibah datang, Alloh punya maksud. Ada orang ditinggikan derajatnya akibat musibah. Sehingga sabar terbagi tiga yaitu sabar dalam taat kepada Alloh, sabar ketika tertimpa musibah, sabar ketika menjauhi maksiat. Disitulah Alloh melalui RasulNya memberikan pesan kepada kita “kalau engkau sabar menahan gejolak nafsu untuk selalu taat kepada Alloh, Alloh kasih 300 derajat lebih tinggi. Tapi bila engkau sabar dalam musibah (tahan tidak mencaci Alloh, tidak menyalahkan Alloh bahkan tidak mencari kambing hitam), Alloh kasih 600 derajat lebih tinggi. Dan ketika engkau sabar untuk tidak maksiat (kesempatan ada, uang ada, tenaga ada) maka Alloh kasih 900 derajat”.

Dalam kehidupan hanya ada 2 keadaan yaitu yang sesuai dengan keinginan kita dan yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Kalau sesuai dengan keinginan kita, syukur alhamdulillah. Tetapi bila tidak sesuai dengan keinginan kita, sabar. Pasti Alloh punya maksud untuk kita naik kelas bila kita sabar.

Cara untuk menanggapi musibah itu, kita harus siap-siap. Sedia payung sebelum hujan. Hidup hanya minus atau plus. Kalau terkena musibah, kita ridho. Katakan nasi sudah jadi bubur, jangan meratapi buburnya. Segera ambil ayam, cakwe, kacang supaya jadi bubur ayam. Nanti Alloh gantikan dengan pahala yang lebih tinggi.

Kadang ketika kita menerima musibah langsung melihat “apa salah saya ya atau kok Alloh tidak adil padahal Saya sudah tahajud, saya sudah haji, sudah sedekah kok masih musibah terus sih”. Dalam konteks ini ada beda definisi. Apa itu ujian/musibah, apa itu adzab, apa itu fitnah. Ujian / musibah itu keniscayaan hidup. Jadi pasti ada. Ujian itu datangnya dari Alloh. Kalau adzab datang dari dirinya. Kalau fitnah, seseorang berbuat salah disebuah komunitas kemudian komunitas yang lain tidak menegurnya maka, itu akan menjadi fitnah bagi dirinya. Maka ketika ada adzab, semua akan kena. Contoh fitnah, ayahnya taat pada Alloh, ibunya taat kepada Alloh, anaknya tidak taat kepada Alloh. Alloh akan mengadzab orang itu bukan kepada orangtuanya dan bukan anaknya, melainkan seluruhnya.

Ketika engkau menghadapi kehidupan ini, kenali kebenaran itu. Lalu jalankan kebenaran itu dan ajarkan kebenaran itu. Terakhir, sabar dalam menjalani kebenaran, sabar dalam menjalani ibadah, sabar menanggapi orang yang sabar.

Sabarlah dalam segala sikap. Siap-siaplah (sedia payung sebelum hujan). Siapkan batinmu bahwa misalnya saya akan keluar rumah dan akan ketemu macet atau tidak macet sama saja. Ajarkan hati kita. Ketemu macet, innalillahi wa innaillahi rojiun. Setelah itu, ridho. Isi waktu selama macet itu misalnya dzikir, baca buku.

Ketika kita tidak punya kekuatan, badan sedang letih, sedang tidak punya apa-apa, itu sering mengundang ketidak sabaran. Tidak perlu marah. Cape marah itu. Marah itu api. Lebih enak jadi air. Kalau engkau marah, apakah ada buahnya?

Sumber: Kang Rashied. Butiran Ilmu tv one 18 April 2015

Pages

Posts by category

My Templates

Ads

loading...
Share

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*