Kebalikan dari “GRATIS”lah yang lebih Membahagiakan

Kebalikan dari "GRATIS"lah yang lebih Membahagiakan
Kebalikan dari "GRATIS"lah yang lebih Membahagiakan

Hal-hal gratis sangat lekat dengan paradigm para pelaku kegiatan social konvensional. Ada sebuah pertanyaan, apa kebalikan dari “GRATIS” ? Sebagian besar menjawabnya dengan “MEMBAYAR”. Tidak salah memang, hanya jika kita merenungkan lebih dalam lagi tentang rasa bahagia yang kerap kali timbul dari sesuatu hal gratis. Padahal, ada sesuatu hal yang lebih membahagiakan jika memiliki pemikiran bahwa yang berkebalikan dari gratislah yang lebih membahagiakan.

Kebalikan dari gratis adalah “MEMBERI”, karena gratis berarti “diberikan sesuatu tanpa syarat” oleh pihak lain, namun jika kita memaknainya lebih dalam tentang “mampu memberi” pada pihak lain, maka akan menjadi sebuah kebahagiaan yang melompati rasa bahagia dari sekedar gratis.

Berlatih lebih dalam tentang bagaimana kita memaknai & melihat sudut pandang lain akan membuat kita terlatih untuk senantiasa dimampukan & lebih berkapasitas.

Melatih berharap dari momen-momen gratis akan lebih sulit mendapatkan pembelajaran meski berstrategi untuk “memperoleh”, karena mengharap sesuatu gratis secara perlahan ternyata juga melatih kita untuk tetap minim kapasitas.

Coba kita maknai lebih dalam tentang makna memberi, maka kebahagiaan yang kita peroleh dari kemampuan memberi tidak hanya saja tentang perolehan kebahagiaan tersendiri, namun kita menjadi mampu dan berangsur-angsur berkapasitas.

Melatih kemampuan memberi juga membuat kita meningkatkan kapasitas untuk memiliki kemampuan berstrategi memberikan lebih banyak kebahagiaan bagi orang lain. Bayangkan jika terlena dengan harapan hal-hal gratis, akan jauhlah pula kita dari media-media belajar untuk menjadi individu kuat.

Bisnis social adalah tentang perjalanan bagaimana kita mampu berlatih memaknai, berlatih berstrategi menyumbangkan kebahagiaan pada orang banyak dan menimbulkan kepuasan batin pada diri tanpa menghadirkan proses pemiskinan lebih lanjut walau tak terasa sekalipun.

Sebagai contoh, salah satu tantangan dalam membudayakan “agile mindset” sebagai bagian integral dari tim adalah membuatnya untuk peka terhadap hal-hal yang ada disekelilingnya. Terlebih membuatnya untuk belajar meninggalkan mental Silo.

“The Silo Mentality” adalah pola pikir yang hadir ketika sebuah unit tertentu tidak ingin berbagi informasi dengan orang lain di bagian lain di organisasi yang sama. Jenis mentalitas ini akan mengurangi efisiensi dalam keseluruhan operasi, mengurangi moral & berkontribusi pada matinya budaya produktif.

Kaitannya dengan Agile Mindset yang meski sudah berkembang dalam beberapa dekade, tampaknya masih menghadapi tantangan dengan banyaknya terantuk-antuk pada budaya konvensional-hierarkis yang masih menempel kuat pada setiap karakter individu bahkan tidak disadari mengakar sangat kuat dibeberapa tim, meski timnya terdiri dari anak muda sekalipun.

Ada beberapa hal mengganggu pikiran seiring dengan cukup sering terjadinya beberapa hal kesalahan fundamental yang terjadi pada beberapa tim yang konon menganggap katanya agile dan kolaboratif, seperti: (1) menginginkan agile, tapi terkait scope & waktu masih fixed, bahkan bekerja sekedar cepat, (2) terkait kewajiban melakukan pekerjaan yang minim inisiatif, tanpa perasaan bersalah menunggu ditugaskan, (3) jika terjadi chaos malah merasa bagian dari agile, padahal visi solid terkait produk dan bisnis sudah jelas namun minim kemauan memaknainya lebih dalam, (4) melakukannya asal cepat, padahal perbaikan kualitas menjadi hal utama, (5) mengandalkan bos untuk mengambil keputusan, yaah kamu!, (6) menganggap evaluasi itu penting tapi jadi bagian paling malas dilakukan, yaah jika ini malas, apalagi melakukan retrospektif!

Hidup ini memang senantiasa penuh dengan perbedaan, hanya tidak selalu harus memilih salah satu diantaranya. Hidup juga kadang kala dipenuhi dengan beragam persamaan, hanya tidak selalu harus berakhir dengan persaingan memenangkan salah satunya.

Jika kita berbeda sesungguhnya kita bisa saling memperkaya, saling melengkapi. Begitu pun jika kita memiliki aneka ragam persamaan, maka kita bisa saling memperkuat.

Dalam keseharian, di kampus misalnya, sudah jengah dengan kompetisi yang saling meniadakan. Atau kompetisi yang saling mengeliminir karena harus memilih salah satu ide. Mengapa kita perlu mengumbar energi untuk memenangkan salah satunya atau bahkan mengalahkan yang lain? Sudah saatnya mendalami arti “memperkuat” jika kita memiliki kesamaan dan “saling memperkaya” jika kita memiliki aneka  perbedaan.

Dalam design thinking beragam proses yang tampaknya seperti memakan waktu lama, sesungguhnya adalah momentum membangun proses untuk saling menguatkan serta memperkaya ide dari setiap individu dengan beragam model mental yang dibawanya. Setiap prosesnya mengarahkan untuk mengatakan “kita bisa melakukan ini dan itu” ketimbang memilih ini atau itu. Sudah saatnya mengalihkan kata “atau” menjadi “dan” serta mulailah saling menguatkan dan memperkaya.

Sumber : Dwi Indra Purnomo. Dosen UNPAD.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*