Al Malik. Alloh Maha Raja & Berkuasa

Imam Al Ghazali menafsirkan Alloh Al Malik yaitu Alloh yang tidak membutuhkan segala sesuatu. Bagaimana Dia membutuhkan sesuatu padahal sesuatu itu adalah ciptaanNya dan milikNya. Justru kepada Alloh segala sesuatu itu membutuhkan. Bagaimana tanda bahwa Alloh itu adalah Penguasa dan Raja? Di dalam Al Qur’an, Alloh berfirman “mintalah kepadaNya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi”. Itu tanda bahwa Alloh Raja dan Penguasa. Karena Alloh Maha Raja maka di tanganNya ada anugerah dan pencabutan. Alloh berfirman “Katakanlah Alloh pemilik Kekuasaan dan Kerajaan karena milikNya Dia berbuat sesukaNya”. Kata Alloh “Aku beri kekuasaan kepada siapa yang Aku kehendaki bukan kepada yang mau”. Ketika Alloh berkehendak untuk mencabut dengan paksa kekuasaan, kira-kira yang berkuasa masih ingin kekuasaan? Masih. Tapi Alloh paksa dia untuk turun. Pernahkah kita lihat di Negara besar, penguasanya sangat terkenal dan diturunkan paksa oleh Alloh? Pernah. Kalau demikian siapakah Raja yang sebenarnya? Alloh SWT. Karena itu, mudah-mudahan Alloh Al Malik sebagai Raja membuat hati kita semakin tenang karena kita adalah hamba dari seorang Raja yang sangat penyayang kepada kita.

Sebenarnya ketika kita mendengar nama Alloh, hati kita otomatis tenang. Apa yang membuat tidak tenang padahal yang menjaga kita, tidak mengantuk dan tidak tidur. Apa yang membuat tidak tenang padahal Alloh tidak berat bagiNya untuk menjaga alam semesta. Cara kita untuk bisa tenang adalah selain menyebut nama Alloh juga memahami kekuasaan Alloh sehingga kita merasa bergantung kepada yang tidak ada duanya dalam kekuasaanNya.

Alloh berfirman “Alloh tidak ditanya mengapa Dia berbuat sesuatu. Sementara kita ditanya mengapa Anda melakukan sesuatu”. Ketika orang yang kita cintai di cabut oleh Alloh nyawanya, kita bilang “Ya Alloh, mengapa dia?” Kata Alloh “itu milikKu”. Karena Dia Al Malik “jika itu adalah Ibumu, jika itu adalah anakmu tetapi dia milikKu. Aku lebih dekat hubunganKu dengan dia dibandingkan engkau karena Aku adalah Al Malik yang menguasainya dan memilikiNya”.

Imam Al Ghazali mengatakan Al Malik untuk jenis manusia tapi bukan mutlak adalah orang yang tidak menginginkan sesuatu kecuali Alloh dan dia menguasai kerajaannya. Kalau kita mau jadi Raja di dunia, jadilah orang yang tidak membutuhkan sesuatu kecuali Alloh. Dan kita menguasai kerajaan kita. Apa itu kerajaan kita? Raja kita adalah hati kita dan qolbu kita. Sementara bala tentara kita adalah nafsu, syahwat yang ada di dalam diri kita. Dan rakyat kita adalah mata, telinga dan seluruh anggota tubuh kita. Cara tercepat untuk jadi Raja adalah jadikanlah nafsu, syahwat, amarah dan juga rakyat kita tunduk dibawah kekuasaan hati maka kita telah menjadi Raja. Jangan turuti kemalasan.

Suatu hari ada seorang Kiai menasehati murid yang minta nesehat kepada Kiai nya. “Pak Kiai nasehatilah aku”. Pak Kiai menjawab “jadilah engkau Raja di dunia dan di akhirat”. Sang murid “bagaimana caranya supaya saya menjadi Raja?”. Maka Pak Kiai pun menjawab, “Putuskanlah ketamakanmu terhadap dunia. Putuskanlah kerakusanmu dari dunia. Putuskanlah hawa nafsumu yang membabi buta terhadap dunia. Maka engkau akan menjadi raja di dunia dan akhirat”. Karena sesungguhnya kerajaan itu adalah ketika engkau tidak membutuhkan sesuatu kecuali Alloh. Dan sesungguhnya kerajaan itu adalah ketika hawa nafsumu tunduk kepada hatimu.

Jadilah engkau leader bagi dirimu. Engkau yang menentukan mau mu dalam hidup ini seperti apa. Janganlah orang lain yang menentukan masa depanmu. Kebahagianmu tidak dikendalikan oleh orang lain. Malik adalah dia yang menentukan. Dia leader bagi dirinya. Kebahagiannya adalah keputusannya. Dan ketika dia memutuskan, dia konsekuen atas keputusan yang telah dia buat. Itulah salah satu cara untuk menauladani sifat Alloh Al Malik.

Salah satu cara mengaktivasi nama Alloh Al Malik adalah kita tidak terlena dengan jabatan. Mengapa demikian? Karena kita tahu jabatan kita itu Cuma sementara. Sesungguhnya kekuasaan yang sebenarnya adalah milik Alloh SWT. Karena itu pernah Rasulullah SAW dalam menjalankan kebenaran, kejujuran dan kebaikan di rayu oleh orang-orang yang melakukan dosa agar Nabi berhenti mengumandangkan kejujuran, kebaikan dan kebenaran. Mereka menawarkan “kalau engkau menginginkan kekayaan, kami kumpulkan harta dan engkau akan menjadi orang yang terkaya di dunia ini”. Tapi Rasulullah yang mengenal Al Malik tidak tergoda oleh itu semua. Lalu beliau berdiri dan mengatakan di depan pamannya “wahai paman, jika mereka meletakkan matahari tangan kanan ku, bulan di tangan kiri ku agar aku tidak jujur maka aku tidak akan pernah tinggalkan sampai aku mati karenaNya atau Alloh memenangkan kebenaran ini”

Seorang Raja berjalan ke pinggir kota, dan bertemu seorang kakek tua. Kata Raja kepada Kakek “Siapa engkau?”. Lalu kakek menjawab “Aku adalah Raja”. Sambil tertawa, Raja yang sebenarnya ini “engkau raja? Di kerajaan mana engkau memerintah?”. Kakek “Ya aku raja. Aku memerintah di kerajaan diriku sendiri. Aku memerintah diriku sendiri”. Bahkan seorang Raja tersebut menawarkan kepada Kakek “mintalah sesuatu kepadaku”. Kakek ini berkata “Maaf ya. Karena aku punya dua budak yang telah aku kuasai sementara dua budak ini yang menguasai dirimu”. Raja berkata “Siapa dia?” Kakek menjawab “hawa nafsu, syahwat, amarah telah menguasai dirimu. Sementara ketamakan dan kerakusan hawa nafsu telah aku kuasai”. Lalu siapakah Raja yang sebenarnya?

Sumber : Ust. Jumharuddin, Lc. Asmaul Husna Al Malik tv one.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*