Happy Birthday, bu Sitti Hartinah..

Sitti Hartinah
Sitti Hartinah

“Wanita berpendidikan tinggi bukan untuk menyaingi laki-laki, tetapi bekal untuk membangun satu generasi. Karena pendidikan anak bukan dimulai sejak dini melainkan sejak memilih istri atau suami”. Dan aku bersyukur karena mama saya adalah Sitti Hartinah.,DS. Beliau adalah sosok yang tangguh, sederhana, apa adanya, pekerja keras. Mama tangguh merawat 4 anak yang masih kecil karena Papa bertugas di Sorong. Fondasi agama sudah mama papa tanamkan sejak kami masih kecil karena itu kami 4 anak dari TK hingga SD masuk ke sekolah Islam.

Walaupun mama kerja, tapi mama tetap memperhatikan anak-anaknya. Mama adalah pendengar yang baik. Sepulang sekolah, sembari mama suapin makan dengan tangannya, saya akan menyerocos cerita tentang kejadian di sekolah. Karena itulah saya lebih suka di rumah dengan mama dibanding main dengan teman-teman sekolah. Saat pulang sekolah, saya lebih suka ke kampus untuk menemani mama ngajar. Walau sebenarnya karena ingin ke kantin dan naik pohon beringin.

Paling gak enak kalau guru-guru kenal dengan mama. Saat di TK, SD, SMP dan SMA pasti ada aja guru-guru yang kenal mama karena guru-guru saya adalah mahasiswanya mama. Jadi mau gak mau, saya harus jaga nama mama. Dan mungkin saja nilai saya jadi bagus karena anaknya mama. Disitu saya merasa bersyukur. Hehe.

Mama bukan berasal dari keluarga yang kaya. Mama tinggal di Desa. Rumah mama dari Kayu, lantainya pun dari tanah liat, saat masak masih pakai kayu. Apalagi saat mandi harus nimba di sumur dulu. Tapi saya suka dengan rumah mama. Hal paling ditunggu adalah saat lebaran karena akan liburan ke Solo. Dan saat di Solo, mama benar-benar menjadi seseorang yang berbeda. Mama akan menggunakan logat jawanya dalam berkomunikasi. Mama akan ke kebun dan paling suka kalau mama bercerita tentang masa kecilnya yang susah.

Saat ke Solo, disitu aku tahu bahwa mama sangat sayang dengan nenek. Sekarang, nenek sudah tidak ada. Tapi mama tidak pernah absen untuk ke makam nenek dan kakek kalau mama ke Solo. Suksesnya mama saat ini karena mama yang sangat sayang dengan orangtuanya.

Mama beda dengan mama yang lain. Mama lebih suka dengan ketela, singkong, gembili, kacang rebus dibandingkan pizza, salad. Mama juga suka dengan tanaman. Tiap minggu kalau gak ada acara keluar rumah, mama akan eksplore tanaman di pot. Wajah mama akan sumringah kalau sudah pegang tanaman. Saya pernah berdoa pada Alloh SWT semoga bisa dijodohkan dengan laki-laki yang suka tanaman biar bisa temani mama.

Mama amat sayang anak-anaknya. Mama akan ijin gak masuk kantor kalau saya sakit. Disaat mama sedang sibuk bimbingan disertasi, mama tetap menyempatkan diri datang ke wisuda S1 saya. Perjuangan mama luar biasa dalam mencapai pendidikannya.

Mama pernah bilang “Mama gak mau anak mama susah seperti mama dulu. dulu mama ingin ini, tidak bisa beli karena gak punya uang”. Disitulah, mama selalu menolong orang. Mama gak mau orang susah terutama keluarganya.

Papa pernah pesan ke saya “Jangan sakiti mama mu ya nak. Suksesnya hidupmu karena mamamu”.

Begitu banyak perjalanan hidup yang telah mama lalui. Mama pernah merasakan di titik tertinggi dan titik terendah. Tapi mama tidak berubah dalam menolong orang dan tetap sederhana.

Dear mama… Mama tidak akan tergantikan. Mama ada di posisi ke 3 di hati ais setelah nama Alloh SWT dan Nabi Muhammad SAW. Mama yang pertama mengenalkan ais tentang shalat. Mama yang pertama mengenalkan ais tentang Al Qur’an. Ais bisa jadi dosen saat ini karena melihat sosok mama yang juga dosen. Ais bisa sampai saat ini karena doa-doa mama. Maafin ais ya ma belum bisa jadi anak yang membanggakan buat mama.. Ais sayang mama…

Happy birthday, bu Sitti Hartinah.. Mama nya saya.. Neneknya naqilasha, meera, arfa, zeeva dan reefa..

loading...
Share

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*