Masa Depan Rumah Sakit Swasta di Era BPJS

Masa Depan RS Swasta di Era BPJS

Jumlah Rumah sakit (RS) di pre dan pasca JKN dari Tahun 2012-2016 telah berkembang. Namun yang berkembang adalah RS Swasta-nya. Rata-rata pertumbuhan RS pemerintah (publik dan keagamaan) hanya 3  %. Sedangkan RS yang privat (PT) naik sekitar 35 %. Untuk RS swasta non profit agak turun, berbeda dengan RS Swasta profit yang naik sangat tinggi 44 %.

Saat Prof. Laksono mengikuti konferensi di Manila, dibahas konglomerasi seperti indofood yang juga bermain di RS Filipina. Sehingga sekarang RS merupakan bagian ekspansi bisnis perusahaan-perusahaan besar yang memiliki akses modal dan manajemen SDM untuk finansial yang sangat kuat. Jadi mereka adalah orang-orang serius.

Indonesia hanya dianggap sebagai pasar bukan pelaku (seperti Singapura dan Malaysia). Karena orang Singapura tahu bahwa di Indonesia ada uang tapi orang Singapura juga sudah mulai mengeluh karena sekarang orang-orang kaya yang biasa ke Singapura begitu masuk ke penyakit yang mahal-mahal akan mengambil BPJS. Jadi BPJS tertekan oleh orang-orang kaya yang ke Singapura hanya cek atau diagnosis saja tapi penanganannya di Indonesia menggunakan BPJS seperti hemodialisa. Sehingga tekanan untuk BPJS semakin tinggi.

Sebenarnya diluar BPJS masih tersedia banyak uang yang beredar di masyarakat. Masih banyak spesialis yang praktek swasta mandiri menggunakan kantong sendiri dan tidak menggunakan BPJS. Juga praktek dokter umum pribadi masih banyak. Dengan sistem JKN, mengharuskan masuk ke sistem yang tergantung pada pajak dan regulasi. Jadi ekonomi yang pajak banyak aturan. Tapi ekonomi yang GDP, aturan tidak begitu banyak.

Menurut World Bank, sebelum jaminan kesehatan di tahun 2014 menjelaskan bahwa GDP Indonesia sebesar 3,1 %. Dan GDP masih bisa di dorong naik keatas karena masih 3,1 %. Tapi ketika menggunakan sistem pajak maka akan susah. Karena RAPBN untuk tahun 2018 sudah dipatok defisit. Jadi mau tidak mau harus melihat menggunakan peningkatan GDP itu melalui jalur di luar BPJS.

RS Swasta yang tidak bekerja sama dengan BPJS berusaha untuk masuk di dalam konteks pemasaran GDP yang besar. Jadi langsung berhadapan dengan RS di luar negeri yang juga ingin menarik pasien agar tidak pergi ke RS di luar negeri. RS yang tidak bekerja sama dengan BPJS yakin pada pasien umum yang membeli dan tidak ada sumber lainnya seperti subsidi atau filantropis. Biasanya RS yang seperti ini ditopang finansial secara nama dan koneksi oleh konglomerasi. Seperti National Hospital oleh kelompok Honda. Menurut Prof. Laksono, investor tidak berani melakukan investasi di Yogyakarta karena secara ekonomis belum begitu meyakinkan untuk membuka rumah sakit seperti National Hospital. Menurut Prof. Laksono, RS yang bergerak di segmen menengah ke atas harus memiliki solusi dan inovasi. Namun ada faktor-faktor yang menghambat seperti kekurangan manajer rumah sakit.

Menurut direktur RS Dr. Karyadi, Pengelolaan BPJS saat ini kuncinya hanya satu yaitu efisiensi. Di RS Karyadi menggunakan obat dan alat hanya yang tertera pada fornas. Selain itu, bisa efisien. Dengan adanya efisiensi tersebut, maka bisa menyisihkan untuk investasi dalam gedung maupun SDM. Dan investasi SDM yang menjadi prioritas karena ke depan salah satu andalannya adalah SDM. Sebagai contoh RS Swasta, Muhammadiyah sudah mulai menggeliat. RS Muhammadiyah akan membuat 5 lantai, di Gombong akan membuat pusat cancer dengan investasi kemoterapi. Namun kesulitannya adalah SDM. Sehingga RS Swasta yang nantinya akan bekerjasama dengan BPJS, maka harus mendidik dokternya untuk disekolahkan. Jadi tidak ada yang mau ke luar negeri. Balanced Scorecard ada poin SDM yang akan melakukan proses pelayanan bermutu. Harapannya dapat memuaskan pasien yang telah memanfaatkan pelayanan sehingga akan meningkatkan status keuangan RS dan menjalankan misi RS.

Strategi yang perlu dilakukan RS Kecil yang bekerjasama dengan BPJS adalah cost leadership strategy yaitu ongkos yang rendah tapi mutu sesuai standar atau tinggi. Selain itu, perlu backup dari dana kemanusiaan (filantropis). Selain itu, jadilah jaringan rumah sakit. Kalau rumah sakit soliter (sendirian) bekerjasama dengan BPJS dan tidak ada dana tambahan maka akan berat sekali. Contohnya telah ada di rumah sakit di Jakarta yang soliter dan kesulitan dalam BPJS karena biayanya jadi tinggi, tidak memiliki jaringan. Karena bila tidak masuk jaringan, kompetisi begitu berat. Sehingga jaringan menjadi kunci bagi rumah sakit soliter. Jadi RS-RS kecil yang bekerjasama dengan BPJS  join network bersama agar memiliki akses modal bersama, akses pada obat (beli obat bersama bisa lebih murah dibanding sendiri), jaringan pelatihan bersama, software IT.

Sumber : Prof. Laksono Trisnantoro. Seminar Investasi dan Keberlangsungan RS Swasta di Era BPJS. 26 Agustus 2017

loading...
Share

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*