Sembuhkan Klien LGBT dengan Biblioterapi

Sembuhkan Klien LGBT dengan Biblioterapi

Dalam perjalanan sebagai biblioterapis, Bunda Susan dipertemukan dengan beragam macam klien. Di antara kliennya adalah mereka yang mengalami penyakit LGBT. Bentuknya berupa trauma masa lalu, ada yang “hampir” menjadi korban gay, dan bahkan ada yang sudah meninggal karena HIV di usia SMP kelas 9. MaasyaAllah. Dalam kesempatan qisah di ruang terapi ini, Bunda Susan mengangkat 3 qisah.

Qisah pertama, adalah seorang ayah dari anak yang mengalami disorientasi seksual menjadi gay di usianya yang 14 tahun. Kliennya adalah orangtua si anak ini. Sebut saja boy. Beberapa kali, Bunda Susan bertemu boy sedang jalan bersama teman-temannya yang perempuan menuju stasiun. Ia bertingkah laku seperti perempuan. Gaya berjalan, gaya rambut, semuanya. Saat Bunda Suan mendapati boy seperti itu, Bunda Susan belum berpikir bahwa dia “gay”.

Setelah beberapa kali semesta mempertemukan Bunda Susan dengan boy secara bertubi-tubi, tak lama ayahnya mengatakan bahwa “boy” terkena HIV. Dia dan ayahnya terlibat cekcok yang sangat parah hingga terjadilah pengusiran boy dari rumahnya. Setelah itu, boy pergi dari rumahnya dan sebulan kemudian orangtuanya dapat kabar ia meningal dunia. Orangtuanya mengatakan ia terjerumus dalam pergaulan yang salah, sehingga jadi “gay”, meski Bunda Susan pun tak menafikan bahwa ini juga karena faktor “salah asuh”.

Qisah kedua, dialami oleh sebut saja Jeremy. Setelah uji stifin ia bermesin kecerdasan Fi (Feeling introvert), genetikanya feminim, ditambah tampilan fisiknya yang semampai, putih bersih kulitnya, rambutnya dan bibirnya yang merona seperti pemeran Home alone, terbayang masa kecilnya lucu, imut, menggemaskan seperti para personel boyband korea. (Jangan dibayangkan). Singkat qisah, ia sudah menikah 7 tahun dan belum dikaruniai anak. Setelah menjalani serangkaian tes STIFIn, analisis tanda tangan, dan konseling yang mulanya bukan untuk treatment punya anak (sebenarnya), tapi ingin menghilangkan rasa minder dan kurang percaya dirinya ia akibat innerchild yang dibawanya sejak SD. Bayangkan sejak SD! Jeremy mendapat bullying karena dianggap seperti perempuan (tampilan luarnya), berkali kali badannya ditindih oleh teman laki-lakinya. Dan disitu mentalnya kena. Hingga terbawa sampai ia sudah menikah. Begitulah tipe Fi yang dominasi perasaannya kuat, mencari cinta. Di saat konseling itulah ia ingin healing dari innerchild-nya. Perlahan ia proses perubahan dalam dirinya. Katarsis tak terelakan, ia menangis saat menceritakan peristiwa bullying “gender” yang sebenarnya dia akui dia tidak seperti yang lingkungan/temannya kira. Ia laki-laki dan ingin menjadi laki-laki yang kuat. Setelah 5 sesi dilalui dengan rangkaian treatment yang diberikan, Alhamdulillah Jeremy kembali menemukan “kesejatiannya”, saat ini dia sudah memunyai seorang putra yang usianya sudah 1 tahun 6 bulanan.

Qisah ketiga, dialami ia yang kini sudah lanjut usia (64 tahun) sebut saja Teja, ia melakukan healing dengan menceritakan apa yang sebenarnya mengganjal selama hidupnya. Alkisah dulu saat SMP, SMA Teja pernah dipaksa oleh gay yang Teja ketahui mereka itu sangat baik dan educated lulusan IK** (waktu itu), guru dan aktif pramuka. Ternyata mereka mencari “sasaran”. Seperti diqisahkan Teja, waktu itu Teja mengelak dengan berusaha memukulnya sambil kabur. Sejak saat kejadian itu sampai “pelaku oknum guru” itu meninggal dunia, Teja tidak pernah mau kenal dan bertemu lagi. Menurut penuturan qisahnya, di salah satu PTN juga ada, saat ini sudah pensiun, dosen Bahasa lnggris, lulus S2 ,S3 dari Australia. Saat ini katanya, dengan sebutan kasar “si” profesor D*d*h Am*r Z*h*d katanya jadi rektor universitas di Cianjur. Teja pernah diundang makan ke rumahnya oleh ybs, waktu masih mahasiswa. Lalu oknum dosen tersebut mengajak Teja ke perpustakaan pribadinya, tidak tahunya seperti yang Teja qisahkan “dia menerkam bernafsu dan saya dorong lalu pulang”. Teja mengatakan “sepertinya istrinya juga sudah tahu”. Kejadian tersebut dialaminya dulu sekitar tahun 80-an. Namanya Am*r Z*h**, terus terang kepada Teja minat kepada laki-laki daripada wanita. Padahal sudah punya anak istri. Bisexual..!!!!

Kita bisa tarik benang merahnya, bahwa pergaulan dengan LGBT, mentolerir mereka, bersikap lemah terhadap godaan dan ajakan mereka akhirnya ketularan. LGBT itu adalah penyakit yang menular. Setiap anak atau remaja yang pernah digauli gay, dia akan suka sesama jenis atau kedua nya- bisexual. Makanya sangat berbahaya bagi anak dan remaja. Bagi mereka yang LGBT ya harus dirangkul. Diajak sembuh. Bukan dijauhi/dikucilkan. Diberi biblioterapi dengan pendekatan #quranicbibliotherapy lewat qisah nabi Luth dan kaum sodom.

Penyebabnya? Pola asuh yang SALAH. Pengobatannya? Preventif kalau sudah menunjukkan tanda-tanda. Pakaian unisex itu propaganda! Parfum, perawatan wajah secara berlebihan itu TANDA! Kuratif jika sudah terjadi adalah MENGGANTI SEMUA. MULAI DARI NOL lagi! Ganti kartu ponsel, HP, kamar, baju, kasur, untuk berhenti dari lingkungan komunitas sebelumnya. Sebab sudah menyalahi FITRAH. LGBT bisa DISEMBUHKAN. Wallohualambishawab.

bahkan “pendidik” yang kita anggap menjadi pengganti orangtua di sekolah/kampus pun tidak bisa aman dari LGBT ini. Naudzubillahimindzalikh. Benteng KUAT ada di pemahaman IMAN dengan ayat-ayat Alloh pada semesta. Itu yang dilakukan para orangtua dahulu. Identifikasi hati yang keruh oleh harta subhat/haram), guru/dosen yang memakannya hasil didikannya pasti tidak baik. Jiwa-jiwa keruh akan mematikan generasi ini. Maka untuk menjadi GURU selesaikan dulu dengan bagian diri sendiri.

TBMB (Terapi Berqisah Melalui Buku) sejak dini dengan qisah-qisah teladan nabi dan para sahabat sebagai biblioterapi penting untuk mengisi kognitif, afektif dan memberi mereka cara mengendalikan perilaku mereka.

Contoh sepele saja. Seorang ayah/ibu yang mendamba anak perempuan. Saat lahir anaknya laki-laki. Sudah menyiapkan namanya Nur… akhirnya tetap diberi nama Nur juga meski akhirnya diberi nama laki-laki jadi Nur Arifianto (misalnya), lalu karena sudah kadung beli perlengkapan serba pink tetap dipakaikan, dst. kurangnya kasih sayang sebagai bonding antara orang tua dan anak juga turut memicu anak mudah termakan rayuan para LGBT di luar sana. Lingkungan terutama terpaan sosial media pun turut berkontribusi. Mereka gencar membuat propaganda melegalkan LGBT ini. Bahkan ada yang membuat GII (Gay Islam Indonesia)

Ia (LGBT) tidak dapat kasih sayang tulus dari keluarga/orang dekat. Bondingnya tidak ada. Identifikasi pemicunya, lalu refleksikan. Sampai tahu titik traumanya dimana. Mereka yang LGBT itu memang posesive-nya tinggi. Banyak kejadian sampai over protective dan possesive karena menurut mereka sulit mencari yang lain “yang mengerti” mereka. Tapi kalau lingkungan mendoakan, mengarahkan, mengajak, insyaAllah sembuh. 

sebenarnya BANYAK kok yang akhirnya BISA SEMBUH atau BERUBAH ke fitrahnya, tapi yang terjadi diangkat ke media adalah brainwash alias cuci otak. Seolah olah LGBT ini biologis. Sudah bawaan dari sananya bawaan lahir, sehingga tidak bisa disembuhkan, harus dihargai selama dia bahagia. NO! BIG NO! Pasti ada FAKTOR X yg membuatnya seperti ini. Sekarang saatnya publikasikan KEBERHASILAN mereka kembali ke kehidupan normal sesuai fitrah. Posisikan kita yang ada di grup ini sebagai pecinta bukan pencela; perangkul bukan pemukul. Anggota KBI ini meski tak sebanding dengan jumlah terjanggit LGBT di luar sana, paling tidak bisa berjuang bersama untuk menyembuhkan melalui pendekatan biblioterapi ini.

Sumber : Bunda Susan (Susanti Agustina). dalam Biblioterapi Qisah 27 Oktober 2018



loading...
Share

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*