Amanah Pernikahan

Menikah bukan sekedar urusan cinta. Menikah sejatinya urusan komitmen dan amanah. Bermula dari komitmen maka muncullah tanggungjawab. Laki-laki yang memiliki komitmen maka ia tidak akan menyengsarakan istri dan anak. Salah satu yang harus diingat para suami adalah ketika ia berjanji dalam ikatan pernikahan, sejatinya ia berjanji kepada Alloh SWT.

Lelaki yang setia pada Tuhannya maka ia akan setia menjaga perasaan pasangannya. Itulah mengapa tugas istri sejatinya menjaga suaminya setia pada Tuhannya bukan pada dirinya.  Kesalahan pertama istri adalah setia pada dirinya yang akhirnya akan baik di depan istri dan berkhianat di belakang. Istri harus memiliki pemikiran bahwa “sejauh engkau (suami) tetap berada di dalam lingkaran TuhanMu, aku percaya engkau akan tetap memuliakan diriku”.

Dalam mengatasi masalah pernikahan, jangan fokus pada perbaikan cinta. Ketika mengatasi masalah pernikahan maka fokuslah pada perbaikan komitmen. Sebab cinta bisa naik turun tapi komitmen akan selalu ada bagi orang yang setia pada Tuhannya.

Salah satu kerapuhan generasi sekarang adalah kerapuhan keluarga. Strategi setan menghancurkan manusia adalah melalui keluarga. Setan tidak fokus pada ekonomi dan politik. Setan mengurusi sektor keluarga yang mana dari keluarga yang rusak akan muncul ekonomi dan politik yang busuk. Anak-anak yang kena narkoba adalah buah dari keluarga yang rusak. Iblis mensasar keluarga namun kita sibuk mengurus ekonomi politik sedang keluarga diabaikan.

Ketika angka perceraian meningkat, membuktikan bahwa lemahnya keluarga dan komitmen pernikahan. Angka perceraian yang meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah generasi Z. Menurut Ust. Bendri ada hubungannya antara dunia sosial media yang dimiliki sekarang dengan ketahanan dalam rumah tangga. Efek dari digital adalah membuat orang mudah putus asa. Orang yang aktif di dunia sosial media menjadikan dirinya seperti raja karena bebas memposting dan memblokir. Dampaknya, menjadikan dirinya sebagai raja yang berhak memutuskan kehidupan tanpa berpikir untuk menikmati proses ujian.

Pesan ust. Bendri, sebelum memilih pasangan bolehlah kita mencari karena. Tetapi setelah menikah, kita mencintainya walaupun.

Ada sebuah kisah. Ada keluarga yang mana suami istri harus merawat Ibu sang istri dan ibu sang Suami. Dua Ibu (Suami dan Istri) tinggal bersama dengan suami istri tersebut. Hingga akhirnya Suami berencana membawa dua ibu mereka ke panti jompo. Dan sang Istri berkata pada suami “ada orang masuk surga karena shalat malamnya setiap malam, namun aku tak bisa karena lelah mengurus keluarga. Ada orang masuk surga karena bacaan qur’annya, namun aku pun tak bisa karena tak ada waktu. Ada orang masuk surga karena infaknya, namun aku tak bisa karena tak memiliki uang banyak. lalu kemana aku akan mencari pintu surga itu bila tak ada lagi orang tua yang ku rawat ?”. Perkataan istri tersebut membuat suami sadar, ridho dan ikhlas merawat kedua ibu kandung dan mertua nya. Di balik kesulitan ini, jangan-jangan Alloh buka pintu surga.

Rumusnya kuatkan komitmen kepada Alloh SWT maka Alloh akan kuatkan ikatan cinta antara suami istri. Dialah Alloh yang menyatukan hati mereka. Mengikat hubungan pasutri bukan dengan puisi namun ketika membuat hubungan kuat dengan Alloh. Jagalah Alloh, Alloh akan menjaga pernikahan kita.

Sakinah itu tenang tidak terburu-buru, keteguhan hati. Al Mawadah rasa cinta yang membuat orang ingin mendekat. Jadi bila suami lebih senang di luar rumah dibandingkan di rumah maka sejatinya belum ada sakinah dan mawadah dalam keluarga tersebut.

Sumber : Ust. Bendri. Amanah Pernikahan

loading...
Share

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*