Haji Mas’oed Abdaoe

Saya belum mengenal kakek di Solo (Ayah Bu Sitti Hartinah) karena beliau sudah wafat saat saya lahir. Dan 5 Mei 2001, Saya kehilangan Kakek saya di Makassar (Ayah Pak Salim Mas’oed). Namanya Haji Mas’oed Abdaoe. Saya tidak terlalu dekat dengan kakek Makassar karena Pak Salim satu-satunya anak yang merantau ke Jawa. Jadi jarak Jawa dan Sulawesi memisahkan kami. Walau begitu, nama “Nasiatul Aisyah Salim” adalah pemberian dari Kakek Makassar. Karena itu, walau kami tidak dekat tapi batin antara kakek dan cucu selalu bisa terasa.

Saat saya tahu nama saya adalah pemberian dari Kakek Makassar, disitu saya tahu dan yakin bahwa Pak Salim dan Bu Hartinah sangat menghormati, percaya dan sayang dengan kakek. Karena seorang calon Ayah atau Ibu pasti memiliki keinginan untuk memberi nama anaknya sesuai harapan Ayah dan Ibunya. Tapi Pak Salim dan Bu Hartinah mempercayakan anaknya (saya) untuk diberi nama oleh kakek saya ini.

Awalnya, saya memang tidak pede dengan nama saya ini. Karena teman-teman di sekolah selalu membully saya dengan memanggal nama saya dengan sebutan “nasi bekatul”. Tapi saat tahu bahwa nasiatul aisyah adalah pejuang wanita muda dari Muhammadiyah disitu baru saya begitu bangga dengan nama saya ini. Karena Kakek saya memberi nama saya “Nasiatul Aisyah Salim” tentu memiliki arti dan doa untuk saya. Semoga saya bisa benar-benar menjadi harapan dari Kakek saya.

Haji Mas’oed Abdaoe. Yang selalu saya ingat dari cerita Pak Salim tentang kakek adalah saat makan. “Saat kamu makan bakso dan ambil sambal yang banyak, lalu kamu bilang pedas sekali dan tidak habis maka disitu kakek akan bilang “bodoh”. Sudah tahu sambal pedas, kenapa ambil banyak. Jadi harus dihabiskan.” Jadi kalau lihat makanan dan kalap, saya akan selalu ingat dengan pesan Pak Salim dan Kakek. Jangan sampai kakek bilang “bodoh”. Hahaha

Kata Pak Salim, Kakek adalah orang yang sangat disiplin. Memang buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Pak Salim kalau taruh sepatu kantor pasti selalu di tempatnya. Apapun di taruh di tempatnya. Jadi tidak sulit kalau Pak Salim minta diambilkan sepatu, tinggal ke rak sepatu. Dan pasti pak Salim begitu karena mengikuti Ayahnya, Mas’oed Abdaoe.

Bila dilihat dari makam kakek Haji Mas’oed Abdaoe, makam kakek tidak di keramik seperti di kanan kiri depan belakangnya. Makam kakek cukup dengan tanah. Kakek memang tidak ingin makamnya di keramik. Kakek ingin benar-benar menyatu dengan bumi. Walau makam kakek hanya tanah, tapi makam kakek terlihat tidak datar. Bila di pikir, saat hujan deras, seharusnya tanah akan tergerus ke bawah sehingga sejajar dengan permukaan datar. Namun, lihatlah. Makam kakek tetap menjulang tinggi seperti gunung. Hanya Alloh SWT yang tahu jawabannya.

Duhai Rabb, lapangkanlah kubur kakek saya, Mas’oed Abdaoe. Tempatkanlah beliau di tempat tertinggi di Surga Firdaus. Kakek orang yang sangat baik. Kakek sangat sayang dengan anak dan cucu-cucunya. Jadi sayangi kakek saya ya, ya Rabb…

Terimakasih kakek Mas’oed Abdoe. Terimakasih telah mendidik Pak Salim menjadi anak yang kuat dan hebat. Terimakasih telah memberikan saya nama yang indah. Terimakasih telah menjadi kakek yang membanggakan.

 Kamu ingin memiliki website pribadi dengan harga yang murah, daftar disini

loading...
Share

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*