Manajemen Hutang dalam Keluarga

Manajemen Hutang dalam Keluarga
Manajemen Hutang dalam Keluarga

Banyak kita temui di luar sana, keluarga yang gaya hidup di luar kesanggupannya. Cicilan jadi habit, dihantui tagihan tiap bulan. Rumahnya KPR, mobil motornya leasing, beli tas branded dan fashionnya pakai kartu kredit. Tiap hari makannya di restoran. Gayanya perlente. Tau-tau setiap awal bulan ga sanggup bayar cicilan. Di kejar-kerja debt collector, rumah disita, motor di jabel, kekayaan yang dikumpul habis seketika. Kenapa ? Karena besar pasak daripada tiang. Besar pengeluaran daripada pemasukan.

Sebenarnya, pendapatan selalu cukup untuk biaya hidup, tapi tak kan pernah cukup untuk gaya hidup. Maka hati-hati dengan Hedonic Treadmil. Yaitu kondisi yang gak pernah puas. Setiap meningkat pendapatan, meningkat pula pengeluaran. Belajarlah bersyukur dan qonaah dengan apa yang ada.

Jangan biasakan hutang, biasakan banyak nabung, investasi dan sedekah juga zakat. Kaya miskin itu bukan tentang kondisi, tapi tentang cara pandang kita terhadap uang. Berapa banyak yang cepat dapetin uang, tapi cepat juga menghabiskannya. Pro lah dengan cash. Kalau gak mampu ya sabar nabung. Efeknya lebih bahagia dan tenang dalam hidup.

So, buat para calon suami istri yuk belajar jauhi riba, jangan hidup dengan arus kas negatif. Tahan keinginan untuk hidup dengan gaya hidup hedon. Lebih baik kaya sejati ketimbang kelihatan kaya padahal sejatinya miskin.

Sumber : Setia Furqon Kholid

loading...
Share

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*