Perawat Harus Cerdas, Kreatif, & Berwawasan Luas

Perawat Harus Cerdas, Kreatif & Berwawasan Luas
Perawat Harus Cerdas, Kreatif & Berwawasan Luas

Apa yang ada di benak kamu ketika mendengar kata rumah sakit ? Ada yang mengatakan dokter, perawat, pasien, dan lain sebagainya. Lalu, apa yang kamu pikirkan ketika mendengar kata perawat ? galak, suka marah-marah, tidak ramah, pelayanan tidak bagus, dan hal lainnya yang jelek tentang perawat tanpa mengingat hal baik menganai perawat. Hal ini mungkin dikarena perawat yang paling lama berinteraksi dengan pasien sehingga pasien langsung mengingat kata perawat ketika di Rumah sakit. Berbeda dengan dokter yang hanya sebentar bersama pasien. tenaga kesehatan di rumah sakit pun, 60-80 % adalah perawat.

Menurut Virginia Henderson, ia adalah ahli teori keperawatan yang telah memberikan pengaruh besar pada keperawatan sebagai profesi yang mendunia. Ia membuat model konseptualnya pada awal 1960-an, ketika profesi keperawatan mulai mencari identitasnya sendiri. Masalah intinya adalah apakah perawat cukup berbeda dari profesi lainnya di pelayanan kesehatan? Pertanyaan ini merupakan hal yang penting sampai 1950-an, perawat lebih sering melakukan instruksi dokter. Pada saat ia menulis pada 1960-an, ia dipengaruhi oleh aspek negative dan positif keperawatan masa itu. Virginia Henderson memperkenalkan definisi perawat ialah keperawatan harus menyertakan prinsip keseimbangan fisiologi. Definisi ini muncul karena dipengaruhi oleh persahabatan dengan seorang ahli fisiologis bernama Stackpole. Henderson sendiri kemudian mengungkapkan sebuah definisi keperawatan ditinjau dari sisi fungsional. Menurutnya tugas unik perawat adalah membantu individu baik dalam keadaan sehat maupun sakit, melalui upayanya melaksanakan berbagai aktivitas guna mendukung kesehatan dan penyembuhan individu yang saat ini memiliki kekuatan, kemampuan, kemauan atau pengetahuan sebagai tugas perawat. Di samping itu, Henderson juga mengembangkan sebuah model keperawatan yang dikenal dengan “The Activities of Living”. Model keperawatan tersebut menjelaskan bahwa tugas perawat adalah membantu individu dengan meningkatkan kemandiriannya secepat mungkin. Perawat menjalankan secara mandiri, tidak tergantung pada dokter. Akan tetapi perawat tetap menyampaikan rencananya pada dokter sewaktu mengunjungi pasien

Saya ingin sedikit bercerita. Saat itu, saya sedang praktek di sebuah rumah sakit di daerah timur pulau papua. Saya merasa bahwa perawat hanya dianggap sebelah mata saja oleh masyarakat. Bahkan ada seorang pasien yang berkata bahwa perawat adalah pembantu dokter yang mana perawat akan bekerja setelah diminta oleh dokter. Apa yang kamu rasakan ketika mendengar pernyataan seperti itu ? Padahal perawatlah yang 24 jam bersama pasien. Membantu pasien memenuhi kebutuhan dasar fisiologisnya, seperti kebutuhan nutrisi, cairan dan elektrolit, oksigenasi, personal hygiene, aman, nyaman, istirahat tidur, eliminasi, aktifitas. Perawat melaksanakan hampir 90 % dari semua layanan perawatan kesehatan. Bahkan terkadang ada pasien yang nakal meminta untuk membantunya dalam pemenuhan kebutuhan fisiologinya padahal ia bisa melakukannya sendiri. Tidak jarang juga keluarga pasien tidak kooperatif, meminta perawat saja yang menjaga dan memenuhi semua kebutuhan dasar fisiologis pasien tersebut. Padahal perawat bekerja dalam 24 jam dengan jumlah pasien yang banyak dan kapasitas perawat yang minim.

Dalam pemberian layanan kepada klien menurut Virginia Henderson, hubungan perawat dengan klien terbagi menjadi tiga tingkatan. mulai dari hubungan sangat bergantung hingga hubungan sangat mandiri. Pada situasi pasien yang gawat, perawat berperan sebagai pengganti (substitute) di dalam memenuhi kekurangan pasien akibat kekuatan fisik, kemampuan atau kemauan pasien yang berkurang. Dalam hubungan antara perawat dan pasien ini, perawat berfungsi untuk melengkapinya. Setelah kondisi gawat berlalu dan pasien berada pada fase pemulihan, perawat berperan sebagai penolong (helper), untuk menolong atau membantu pasien mendapatkan kembali kemandiriannya. Kemandirian ini bersifat relative, sebab tidak ada satu pun manusia yang tidak bergantung pada orang lain. Meskipun demikian, perawat berusaha keras saling bergantung demi mewujudkan kesehatan pasien. Sebagai mitra (partner), perawat dan pasien bersama-sama meneruskan rencana perawatan bagi pasien.

Terkaitanya dengan hubungan perawat dan dokter, Henderson berpendapat bahwa perawat tidak boleh selalu melaksanakan perintah dokter. Henderson sendiri mempertanyakan filosofi yang memperbolehkan seorang dokter memberi perintah kepada pasien atau tenaga kerja lainnya. Tugas perawat adalah membantu pasien dalam melakukan manajemen kesehatan ketika tidak ada tenaga dokter. Rencana keperawatan yang dirumuskan oleh perawat dan pasien tetap harus dijalankan sedemikian rupa sehingga dapat memenuhi rencana pengobatan yang ditentukan oleh dokter.

Ketika saya praktek di sebuah rumah sakit di kota Bandung, saya merasakan kebenaran dari teori yang di ungkapkan oleh Virginia Henderson. Kami yang masih mahasiswa praktek disana merasakan bagaimana rasanya menjadi tim kesehatan yang bekerja sama dengan tim kesehatan lainnya, bukan di suruh-suruh. Saya melihat bagaimana perawat bekerja sama dengan dokter. Kejadian ini, saya menyimpulkan bahwa dokter tidak bisa bekerja sendiri, dokter bekerja sama dengan perawat sebagai rekan kerja yang sejawat.

Ketika saya bertanya kepada salah satu dokter di rumah sakit tersebut, mengapa dokter  dapat bekerja sama dengan perawat? Dokter itu menjawab, bahwa kami dokter tidak bisa bekerja sendiri, kami perlu rekan kerja yang memiliki satu tujuan yaitu membantu dalam penyembuhan pasien. Namun, jawaban berbeda datang dari dosenku ketika di diploma III, bahwa kita sebagai perawat harus pintar agar kita tidak menjadi pembantu dokter.

Seiring berjalannya waktu, saya mengerti bahwa memang betul apa yang dikatakan oleh dosen di kampus diploma III saya bahwa perawat harus cerdas, pandai, kreatif, berwawasan luas. Karena perawat adalah mitra dokter maupun tim kesehatan lainnya. Hal ini merupakan bekal untuk melangkah menjadi perawat professional. Suatu hari nanti, saya akan menjadi perawat professional yang tidak hanya sekedar gelar dan pendidikan saja, tetapi perawat professional yang berwawasan luas, cerdas, pandai dan kreatif. Agar tak ada yang memandang sebelah mata, melainkan mengakui betapa hebatnya perawat. Perawat yang bekerja 24 jam di rumah sakit akan di segani dan keluarga pasien dapat bekerjasama secara kooperatif dengan perawat. Mengakui perawat di mata masyarakat sebagai profesi kesehatan yang ikut turut menyehatkan masyarakat yang sakit, dapat bekerja sama menjadi rekan kerja dengan profesi kesehatan lainnya.

Penulis : Yuni Listiani (Mahasiswa STIKES Wira Husada Yogyakarta) ditulis 23 Maret 2016

loading...
Share

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*