The Local Enablers, 40 Usaha yang Dimulai Bukan Dari Uang

The Local Enablers, 40 Usaha yang Dimulai Bukan Dari Uang
The Local Enablers, 40 Usaha yang Dimulai Bukan Dari Uang

Saat ini, kita berada di generasi milenial. Generasi milenial bukanlah untuk berprofesi melainkan untuk berperan pada masyarakat. Profil lulusan perguruan tinggi bukan lagi untuk menjadi seorang manager atau profesional tapi mengarah ke peranan. Ketika kurikulum dibuat untuk menjadi profesional dibidangnya maka 10-20 tahun akan hilang. Seharusnya anak-anak dipersiapkan masa depannya bukan untuk berprofesi namun untuk berperan. Maka sisi kreatif harus muncul untuk mau mencari solusi, cinta pada lokalitas, mempunyai idealisme untuk menjadi pengusaha dengan berbasis teknologi dan kreatif leader.

Berawal dari topik riset, Dwi Indra Purnomo mencoba ingin menghubungkan titik-titik antara desa dan kota. Dan Dwi ingin memberdayakan mahasiswanya karena baginya mahasiswa memiliki peluang yang sangat luar biasa untuk dikembangkan menjadi motor penggerak kemajuan daerah. Dan pendekatan desain thinking semakin menyakinkan bahwa pendekatan tersebut tepat menggambarkan sosio enterpreneurship.

Dwi Indra Purnomo adalah founder dari the local enablers. The local enabler yaitu komunitas yang dirancang secara akademis untuk menciptakan para pengusaha muda yang dapat memberi dampak bagi masyarakat luas. Kegiatan di The local enablers adalah kegiatan usaha yang menggabungkan antara desa, anak-anak muda dan jualan. Produknya adalah produk yang mudah ditiru. Tapi yang unik dan tidak dapat ditiru adalah model bisnisnya yang sosio tecno enterprenuership.

The local enablers bukanlah profit oriented melainkan memiliki cost yang besar karena harus menjamin energi mahasiswa tetap bergerak. Belum tentu semuanya menguntungkan namun mendapatkan benefit banyak buat warga. “Berbulan-bulan menyakinkan mahasiswa untuk bisa jalan itu lama sekali karena tidak bisa dipastikan mau stay” Kata Dwi yang merupakan dosen di Fakultas Teknik Industri Pertanian (FTIP) Universitas Padjadjaran Bandung. Effort yang berat adalah ketika bagaimana caranya membuat anak muda mau ke desa dan membina ibu-ibu di taman pedesaan. Dan Dwi menggunakan pendekatan sosial enginering dengan pendekatan desain thinking yaitu bagaimana caranya anak-anak muda mau berangkat ke desa, membina desa, membuat produk yang keren, dan dijual ke kota dengan harga yang relatif mahal kemudian dicari segmentasinya.

Ada 40 usaha di The local enablers diantaranya Fruitsup, Janaka, Amorina, Ayam seribu, telor asin, Yorgurt, sojavu. Dan produk tersebut dikembangkan berdasarkan riset. Produk Janaka memiliki desa di Garut, Amorina memiliki desa di Cileles, Ayam seribu memiliki desa di Cileunyi, Sojavu ada di cimahi. Jadi satu produk membawa beberapa banyak desa untuk mengelola produk pertaniannya.

Salah satu produk the local enablers adalah Yorgurt. Yorgurt telah bertransformasi 4 tahun dan Dwi tidak pernah mengintervensi untuk mengganti label dengan bantuan. Bagi Dwi yang ahli desain thinking, mahasiswanya dibiarkan harus merasakan kerugian hingga sadar untuk memperbaiki. Dwi ingin menumbuhkan empati dari mahasiswanya dengan berbuat kesalahan tapi diingatkan untuk melakukan perbaikan. Dan lama kelamaan kesalahan akan di minimalisir dengan melakukan perencaan ulang. Alhamdulillah, Yorgurt yang awalnya melibatkan 2 kelompok petani pengolah susu di Cipageran, sekarang bertambah jumlahnya menjadi 40 pengolah susu. Inilah dampak sosial yang luar biasa. Namun 38 pengolah susu dibiarkan menjadi dampak bagi masyarakat. Dwi mengajarkan untuk tidak menguasai semuanya. Baginya biarkan itu menjadi rejekinya masyarakat.

Hal yang unik dari the local enablers adalah 40 usaha yang dikelola bukanlah dimulai dari uang. Melainkan mengajarkan bagaimana caranya uang itu tidak diartikan sebagai sumber modal tapi bagaimana comfort antara resource dengan partner. Sebagai contoh membutuhkan apa, maka partnernya siapa. Sehingga paham bahwa arti sejahtera dan bahagia yaitu memiliki ketrampilan, pengetahuan, perilaku dan nilai bukan dengan uang.

Ukuran keberhasilan dalam usahanya, tidak diukur dari uang melainkan memiliki dampak bagi masyarakat. Bagi Dwi yang mendapatkan gelar doktor di usia 31 tahun, yang paling mahal adalah di proses bukan di visual. Proses yang baik akan berakibat pada visual yang baik. Ketika produk muncul, yang mahal adalah bagaimana berproses dengan baik, membina masyarakat, membangun loyalitas untuk tetap menjadi key partner dalam modal bisnis untuk supply bersama.

“Proses yang panjang ternyata memiliki dampak. Kreativitas itu tentang ketekunan. Bukan hanya sebuah produk yang keren tapi proses yang panjang” kata Dwi.  Dan The local enablers beruntung berada di Jatinangor karena akses pada resources berupa perguruan tinggi (ilmu, teknologi, dosen) mengalir dengan deras.

Pakar socioenterpreuner ini menyatakan bahwa pendekatan desain thinking untuk membangkitkan komunitas sosial menjadi penting. Karena pendekatan desain thinking dirancang untuk mendapatkan informasi akurat sehingga melahirkan ide-ide baru yang inovatif. Kadang orang ingin proses yang cepat langsung ke solusi. Namun yang paling susah adalah observasi yaitu mengubah sudut pandang. Jangan egois dengan sudut pandang kita. Kita tidak bisa memaksakan sudut pandang kita dengan orang lain karena kita berbeda. Jadi ubahlah sudut pandang kita. Kemudian bangun empati. Dan pasti akan muncul inovasi.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*