Kenapa Harus Rasulullah SAW ???

Maulid Nabi Muhammad SAW
Maulid Nabi Muhammad SAW

Kenapa hanya ada nama Nabi Muhammad SAW yang bersanding di sebelah tulisan nama Alloh SWT di semua dinding Masjid ? Ada 25 Nabi kenapa hanya satu Nabi yang Alloh SWT istimewakan. Alloh SWT pilih kasih. Apa karena Nabi Muhammad adalah Nabi terakhir yang artinya bungsu jadi lebih di sayang seperti kata orang kalau anak bungsu adalah anak kesayangan. Dari kecil hingga kuliah tahap akhir, inilah yang saya pikirkan dan rasakan tentang Nabi Muhammad SAW. Saya lebih suka Nabi Ibrahim AS dan tak ada perasaan apapun yang spesial tentang Nabi Muhammad SAW.

Walau aku ikut rohis selama 2 periode di kampus, tapi perasaan itu belum berubah. Bahkan saat ada buku yang bercerita tentang kisah Nabi Muhammad SAW, aku tak tertarik. Entah terbuat dari apa hati ku saat itu. Mungkin kalian akan bilang bahwa aku keras kepala. Tapi memang ini kisah nyata ku tentang Nabi Muhammad SAW.

Hingga hidayah itu muncul. Tiba-tiba pergi ke toko buku untuk beli Al qur’an warna merah marun. Saya suka warna marun. Ini Al qur’an pertama yang benar-benar milik saya pribadi. Aku pun mulai membacanya lembar per lembar. Dan tiba-tiba aku hanya ingat “Umati..umati..umati…”. Kata itulah yang Nabi Muhammad SAW katakan dan ingat sebelum beliau meninggal. Air mata ku menetes. Nabi Muhammad SAW memanggil namaku. Nabi Muhammad SAW mengingatku disaat ajal menjemputnya.

Saat itu, hilang semua pertanyaan di pikiranku tentang Nabi Muhammad SAW. Aku tak perlu jawaban apapun. Hingga akhirnya aku berucap cukuplah Alloh SWT dan Nabi Muhammad SAW yang ada dalam hatiku. Saat berucap begitu, terasa sangat ringan dan begitu percaya dirinya aku melangkah dalam perjalanan hidupku.

Hingga aku tak menyangka Alloh SWT mengundangku kerumahNya tahun 2015… Saat pertama masuk bis setelah keluar dari Bandara Madinah, Muthowif bilang kalau Nabi Muhammad SAW tahu bahwa kita datang ke tanahnya. Saat mendengarnya, hati terasa sesak. Aku hanya berpikir apakah Nabi Muhammad SAW mau menerimaku. Aku yang dulu tak menyukainya. Aku hanya memeluk al qur’an marun karena memang hanya al qur’an ini yang membuatku tak sendiri.

Setiba di Hotel, papa mama dan aku langsung menuju Masjid Nabawi untuk shalat Isya walau waktu shalat Isya sudah lewat sekali karena kami tiba di hotel sekitar pukul 21.30. Setelah shalat Isya, ternyata ada keramaian yang tak biasa. para jamaah wanita berlari berharap menjadi yang cepat sampai. Dan ternyata itu karena raudhah dibuka. Mama menggandeng tangaku untuk ikut berlari. Tapi aku berbeda dengan jamaah wanita yang lain dan mama ku. Aku malah bilang “ma, gak usah lari. biasa aja”. Sepertinya rasa cintaku pada Nabi Muhammad SAW belum 100 %. Kami pun harus menunggu untuk mendapat giliran masuk.

Sembari menunggu, ada ibu yang sudah sepuh dari Indonesia kehilangan rombongannya. Dan tak tahu jalan ke Hotel. HP pun tidak beliau bawa. Tapi untung beliau menggunakan ID card di lehernya. Aku pun menelpon mutowifnya. Alhamdulillah dijawab dan meminta bertemu di pintu depan Masjid Nabawi. Dan tanpa pikir panjang, aku bilang dengan mama “ayo ma pergi antar ibu ini ke rombongannya”. Mama hanya bilang “kita kan sedang nunggu giliran masuk nak”. Saya menimpali “Ma, kan bisa besok kesini lagi”. Jawabanku ini benar-benar mungkin terasa bahwa Nabi Muhammad SAW tak penting dibandingkan ibu yang tersesat ini. Akhirnya sang ibu bisa bertemu dengan rombongannya. Dan ternyata papa juga sudah menunggu di pintu keluar Masjid Nabawi.

Besok harinya, muthowif mengajak para jamaah wanita ke Raudhah. Sekitar pukul 09.00 sampai sebelum adzan dzuhur raudhah di buka untuk jamaah wanita. Jadwal untuk jamaah wanita memang pagi dan malam. Kami pun juga merasakan seperti semalam yang mengantri. Dan sepertinya kejadian semalam tak membuat Rasulullah SAW marah padaku karena tidak mendahulukan beliau. Saat masuk raudhah, Alloh SWT menjaga ku dan mama. Aku dan mama bisa shalat dan berdoa yang cukup lama di karpet hijau. Aku dan mama tak merasa di dorong oleh jamaah wanita yang lain seperti ada yang menjaga wilayah shalat kami.

Anehnya aku tak bisa berkata-kata saat menginjak karpet hijau. Hanya air mata yang terus menetes deras. Kenapa aku menangis. Aku tak pernah melihat wajahnya tapi kenapa aku menangis karenanya. Aku tak pernah bertemu dengannya tapi kenapa aku menangis karenanya. Maafkan aku duhai Rasulku. Maafkan umatmu ini ya Nabi ku… Jangan engkau tarik syafaatmu untukku..

Untuk teman-temanku, coba ucapkan dalam hati secara dalam “Cukuplah Alloh SWT dan Nabi Muhammad SAW” Rasakan apa yang terjadi…

loading...
Share

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*