Dakwah itu Bentuk Cinta

Dakwah itu Bentuk Cinta
Dakwah itu Bentuk Cinta

Setiap muslim memiliki dua kewajiban sekaligus yaitu sebagai hamba dan khalifah. Ini peran yang harus senantiasa dilaksanakan bila ingin menjadi manusia yang sempurna. Beriman saja tidak cukup. Hanya umat Nabi Muhammad yang diwajibkan untuk berdakwah. Dakwah ini melekat pada diri sebagai kewajiban. Tidak ada bedanya kewajiban dakwah dengan shalat. Tapi kenapa ada orang yang membeda-bedakan ? Andaikan satu orang tidak peduli satu sama lain, kita akan semakin terjerumus pada keburukan-keburukannya. Bayangkan jika tidak ada dakwah dan jihad, maka pada akhirnya akan hilang. Bila tidak ada orang yang mengajarkan, maka Islam akan hilang.

Kita memiliki peran dalam gerakan penyelamatan orang lain dari ancaman api neraka. Jadi dakwah adalah bentuk cinta pada orang disekitar kita karena kita ingin masuk surga bareng-bareng. “Wahai orang-orang yang beriman, jauhkanlah kalian dan keluarga dari api neraka”. Bentuk cinta pada anak adalah dengan memberikan nasehat pada mereka. Bila ada yang salah, dikoreksi. Bila berbuat maksiat, diingatkan.

Dakwah itu kewajiban yang melekat pada diri kita. Jangan pernah berpikir ingin meninggalkan dakwah karena itu sama saja meninggalkan kewajiban. Kita ini adalah Dai sebelum menjadi apapun. Penyeru pada kebaikan sebelum menjadi apapun.

Selama ini, orang-orang menganggap dakwah hanya aktivitas menyampaikan ceramah dari atas mimbar, hanya orang-orang yang tahu dalil dan percaya diri. Selain itu, orang-orang beranggapan bahwa orang yang berdakwah harus pada level tertentu. Padahal itu anggapan yang salah. Padahal seharusnya sampaikan meski satu ayat. Dakwah itu, dapat lalu bagikan. Jadilah generasi rabani yang mengajarkan dan mempelajari qur’an. Jika kalian tidak mampu memberikan kewenangan yang benar, maka ubah dengan lisan. Bila masih tidak bisa, maka gunakan dengan hati dengan mengatakan tidak suka. Namun itu selemah-lemah iman. Dakwah adalah ajakan untuk berbuat kebaikan dan mencegah dari kemungkaran.

Kita perlu bekal dalam melaksanakan dakwah. Bekalnya adalah ilmu. Kalau kita punya kesadaran bahwa kita harus berbagi kebaikan, ilmu, inspirasi maka pastikan kita punya itu semua untuk bisa diberikan. Orang yang tidak punya apa-apa, tidak bisa memberi apa-apa. Jadi kalau ingin bisa berbagi, maka kita harus belajar dengan membaca buku, ikut kajian. Kalian adalah apa yang kalian baca. Menilai seseorang bisa dilihat rak bukunya. Main saja ke rumahnya, dan lihat rak bukunya. Kaum intelektual harus akrab dengan buku karena itu harga mati.

Ada ujian yang pasti akan kita hadapi. Kehidupan ini adalah untuk menguji siapa diantara kita yang paling baik amalnya. Dalam dakwah, ujian itu nyata. Karakteristik dakwah itu bahwa harus banyak hal yang dipersiapkan yaitu mental. Karakteristik dakwah adalah Panjang jalannya. Tidak boleh ada yang namanya pensiunan dakwah. Dakwah itu sepanjang hayat, selama kita masih bernafas. Jadi harus bersabar. Banyak ujian dalam dakwah. Jangan rapuh dan mudah menyerah. Nabi Nuh berdakwah 1000 tahun dan sangat sedikit jumlah pengikutnya. Dakwah itu sedikit pendukungnya. Maka siapkan mentalitas kita. Perbaiki dirimu, serulah orang lain. Jadi setiap kali melakukan kebaikan, ajak orang lain. Sekecil apapun kebaikan itu. Mulailah dari diri kita. Maka ajakan kita akan semakin kuat.

Sumber : Ust. Deden Anjar Herdiansyah, M.Hum. 24 Oktober 2020 pada Mubes UKM Muslim Asy-Syifa STIKES Wira Husada Yogyakarta

loading...
Share

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*