Kisah Isra’ Mi’raj

Isra' Mi'raj

Imam Zuhri berkata “kejadian Isra’ Mi’raj terjadi setahun sebelum hijrah Nabi Muhammad SAW ke kota Madinah. Tepatnya tahun ke 12 Hijriyah dari masa penobatan Nabi”. Imam Bukhari juga berkata “Isra’ Mi’raj terjadi tepat setelah Abu Thalib meninggal”. Nabi Muhammad SAW dihibur oleh Alloh SWT agar tidak sedih karena sedikitnya orang yang beriman dan gangguan orang-orang Quraisy dengan kejadian Isra’ Mi’raj yaitu berjalan malam hari dan naik ke langit untuk melihat keajaiban yang Alloh SWT ciptakan dan termasuk mendapat perintah shalat.

Kisah Isra’ Mi’raj disebutkan oleh Alloh SWT dalam surah Al Isra di ayat 1 “Mahasuci (Alloh), yang telah memperjalankan hambaNya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagaian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat”.

Sebelum kejadian Isra’ Mi’raj (malam hari) terjadi pembelahan dada Rasulullah SAW yang ke dua kalinya (yang pertama kali terjadi ketika Rasulullah SAW berumur 6 tahun saat tinggal bersama Halimah di padang pasir) oleh Malaikat Jibril. Hadist Bukhari Muslim menjelaskan Rasulullah SAW berkata “atap rumahku terbuka saat aku masih di Mekkah lalu Jibril turun dan membelah dadaku lalu mencucinya dengan air zam-zam. Kemudian Jibril mendatangkan sebuah piring emas yang penuh dengan hikmah dan iman dan menuangkannya pada dadaku lalu menutupnya kembali. Kemudian Jibril memegang tanganku dan membawaku naik ke langit.

Saat tiba di langit pertama Jibril berkata pada penjaganya “bukalah”.

Penjaga tersebut berkata “siapa kamu”.

Jibril menjawab “aku Jibril”.

Penjaga berkata “Apa engkau bersama orang lain”.

Jibril menjawab “iya. Muhammad”

Penjaga tersebut berkata “apakah ia telah diizinkan untuk lewat”

Jibril berkata “iya. maka bukalah”. Maka dibukalah pintu langit pertama.

Nabi berkata “saat kami di langit pertama, kami melihat seseorang yang sebelah kanannya terdapat sekelompok orang dan sebelah kirinya terdapat sekelompok orang. Bila orang itu melihat ke arah kanannya maka ia tertawa. Dan bila ia melihat ke arah kirinya maka ia menangis. Ia berkata kepadaku “selamat bertemu wahai anak yang sholeh dan Nabi yang sholeh”. Nabi Muhammad bertanya pada Jibril “siapa orang ini wahai Jibril?”. Jibril menjawab “ia adalah Adam AS dan yang di kanan dan kirinya adalah keturunannya. Yang disisi kanannya penghuni surga maka ia tersenyum dan tertawa melihat mereka. Dan yang di sisi kirinya adalah dari keturunanya yang merupakan penghuni neraka”.

Lalu Nabi Muhammad SAW dibawa oleh Jibril ke langit kedua. Saat tiba di langit ke dua, Jibril berkata lagi dengan penjaga langit ke dua “bukalah”. Lalu penjaga langit ke dua menanyakan hal yang sama seperti penjaga di langit pertama.

Saat Nabi Muhammad SAW berada di langit ke empat, Nabi bertemu Nabi Idris AS (Nabi setelah Nabi Adam). Nabi Idris berkata “selamat datang wahai Nabi yang sholeh dan Saudaraku yang sholeh”. Lalu di langit kelima terdapat Harun AS (Adik Nabi Musa AS) yang berkata “selamat bertemu wahai Nabi yang sholeh dan Saudaraku yang Sholeh”. Di langit ke tujuh terdapat Musa AS yang berkulit hitam, kurus dan bertubuh tinggi. Dan di langit ke tujuh terdapat Baitil Makmur (tempat tawafnya para malaikat). Nabi Muhammad SAW berkata “setiap hari terdapat tujuh puluh ribu malaikat yang tawaf dan tidak akan pernah kembali lagi”. Pada Baitil Makmur, ada seorang yang sudah tua dan sedang bersandar padanya dan ia adalah orang yang paling dekat dengan Nabi kalian wajahnya. Rasulullah bertanya siapakah orang itu. Ternyata orang itu adalah Ibrahim AS. Dan Nabi Ibrahim AS berkata “selamat datang wahai anakku yang sholeh”. Lalu Nabi Muhammad bersama Jibril sampai ke SidratilMuntaha yang tidak bisa lagi digambarkan indahnya karena penuh dengan daun-daun sebesar kuping gajah dan dipenuhi dengan perhiasan.  Jibril pun berubah menjadi poster aslinya malaikat karena waktu pertama datang, Jibril menyerupai manusia sampai ke langit ke tujuh berubah menjadi malaikat (QS. An Najm ayat 13-18).

Lalu Nabi Muhammad SAW diajak berbicara oleh Alloh SWT tanpa perantara dan Alloh SWT menyampaikan tentang perintah mengerjakan sholat. Awalnya diperintahkan 50 waktu sholat dan akhirnya dimudahkan sampai 5 waktu sholat yang pahalanya sama dengan 50 waktu sholat.

Sesungguhnya perbedaan dasar kami dengan orang-orang kafir adalah sholat.

Sumber : Ustadz Khalid Basalamah. Ceramah Sejarah Nabi ke 12 Peristiwa Isra’ Mi’raj.

 

 

 

loading...
Share

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*