Pertentangan dalam Berpikir Kreatif

Pertentangan dalam Berpikir Kreatif

Pertentangan cara berpikir memang kerap kali timbul, entah ditempat bekerja atau tempat lainnya. Punya cara berbeda kerap kali dicap salah.

Kemampuan berpikir kerap kali dilatih di institusi pendidikan yang selama ini dengan kemampuan berpikir vertikal, mengikuti pola-pola baku & merujuk pada satu atau beberapa cara saja yang dianggap benar atau biasa dilakukan.

Tak heran lembaga pendidikan justru menjadi lembaga penyumbang terbesar melahirkan pemikiran-pemikiran berpola lama dan tak kreatif (de Bono, 2010)

Ketika setiap kelas diarahkan untuk mengasah hanya pada kemampuan berpikir konvergen, memilih alternatif yang ada, tidak menyeimbangkan dengan membuka pemikiran divergen, yakni mengembangkan anak-anak didiknya untuk mengembangkan wawasan menemukan berbagai alternatif baru.

Pada awalnya mungkin kita adalah seorang pembelajar, hingga pada satu titik kita merasa bisa & berhenti mendengar. Pada titik inilah kita mulai tak sadar bahwa kita kehilangan kemampuan berpikir kreatif. Atau memang dari awal kita tak pernah belajar membuka peluang hal-hal baru masuk pada kepala kita, apalagi jika kita berada di suatu tempat bekerja dalam jangka waktu lama tak terasa lupa membuat lingkaran-lingkaran pertemanan baru.

Terhentinya input baru pada cara pandang & kerja kita inilah, yang menyebabkan makin kuatnya vertikal thinking kita, makin jauh dari kemampuan berpikir lateral / kreatif. Pengalaman-pengalaman, teman, ilmu, sumber daya & titik-titik baru yang ditemui akan memperkaya referensi melahirkan sebuah solusi baru inovatif kala yang lain terjebak pada jalan buntu tak menemukan jalan keluar karena pola lama tak memungkinkan keluar alur dimana kreatifitas justru memperkenankan alur baru yang tak diduga jalannya, bahkan diakhir solusi, hal diluar dugaan akan terjadi melebihi harapan.

Kemampuan berpikir lateral / kreatif kerap berbenturan dengan birokrasi, karena birokrasi kerap kali diturunkan dari cara berpikir vertikal. Mengutamakan cara yang sama ketimbang tujuannya. Berbeda dengan cara lateral, cara baru justru bebas dilakukan hingga goals tercapai & menghasilkan hal-hal beyond tanpa melanggar prinsip-prinsip fundamentalnya.

Sumber : Dwi Indra Purnomo

loading...
Share

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*