Jangan Berikan yang Sisa untuk Islam

Jangan Berikan yang Sisa untuk Islam

“Apakah Anda ingin tahu bagaimana karir Anda ke depan? Anda ingin tahu sehebat apa kemuliaan Anda ke depan? Sangat tergantung seberapa besar yang Anda berikan untuk Islam” Kata Ust. Bachtiar Nasir. Islam tidak bisa bangkit karena orang Islam hanya memberikan yang sisa untuk Islam. Untuk kepentingan Islam, dicari recehan yang paling kecil. Untuk kepentingan dakwah Islam, dikasih waktunya yang paling sisa.

Sebagian besar waktu kita dihabiskan untuk kepentingan Islam atau kepentingan selain Islam? Sebagian besar tenaga dan pengabdian yang kita keluarkan untuk kepentingan Islam atau kepentingan selain Islam? Istri, anak, pendidikan mereka sebagian besar untuk menuntut ilmu Islam atau bukan?

Jangan sampai seusai sholat, nilai ilmu tentang Islam tidak bertambah. Jangan sampai kekhusyukan sholat tidak bertambah. Jangan sampai kebersamaan terhadap Islam dan kebersamaan keberjamaah dengan umat Islam tidak bertambah. Dan kegagalan yang paling puncak adalah kalau sampai nyawa dicabut, kematian merenggut namun masih memberi yang sisa untuk Islam (Sisa waktu untuk Islam, sisa tenaga untuk Islam, sisa harta untuk Islam, sisa ilmu untuk Islam, sisa network untuk Islam), maka Anda seorang yang merugi.

Penelitian dari Amerika (Forum Islamic Studies), tinggal 30 % umat Islam Indonesia yang sholat dan 70 % tidak sholat. Jangan tanya berapa yang benar sholatnya. Jangan tanya berapa yang khusyuk sholatnya. Padahal nanti pada puncak penilaian di hari kiamat, kualitas seorang Muslim diukur dari nilai sholatnya. Dan itu juga berarti ukuran kualitatif seorang Muslim di dunia ini dilihat dari sholatnya. Indonesia secara kuantitatif, Muslim nya terbesar di dunia. Tetapi secara kualitatif, kontribusinya sangat lemah terhadap Islam di dunia. Maka jangan berikan yang sisa untuk Islam jika ingin Islam jaya.

Dalam surat Al An’am ayat 125 “Barangsiapa yang Alloh kehendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya dia melapangkan dadanya untuk Islam”. Kalau ada diantara kita yang ingin tahu apakah hari ini mendapat hidayah atau tidak maka tanyalah pada diri sendiri apakah kita tertarik kepada Islam dan berbuat untuk Islam. Itu indikasinya. Kalau pada hari ini kita berpikir untuk memberikan yang terbaik demi Islam dan tidak ingin memberikan yang sisa untuk Islam berarti kita sudah mendapatkan awal petunjuk dari Alloh SWT. Dan harusnya kita bersujud syukur untuk itu dibanding mendapatkan bonus sekian kali lipat gaji di tempat bekerja. Apalagi bila tiba-tiba pulang ke rumah, tiba-tiba anak-anak mengatakan “Pa, aku mau belajar ngaji dong”. Allahuakbar. Rumahmu sudah kemasukkan cahaya Islam. Bapak-bapak harus sujud syukur untuk itu. Betapa bersyukurnya bapak-bapak kalau sampai anak-anaknya sudah tertarik untuk belajar Islam.

Di Surah tersebut dinyatakan bahwa Alloh sudah hendak memberikan kebaikan untuk anak-anakmu. Tetapi untuk bisa sampai kesana tidak bisa mendadak. Harus bapaknya dulu yang menjadi contoh bagi anak-anaknya. Bagaimana mungkin anaknya suka membaca Al Qur’an kalau Bapaknya tidak membaca Al Qur’an. Bagaimana mungkin anaknya minta masuk pesantren kalau Bapaknya benci dengan Islam. Benci bukan berarti tidak suka Islam tapi tidak ada waktu buat Islam, tidak ada harta buat Islam hanya sibuk untuk dunia.

Loyalitas terhadap perusahaan, loyalitas terhadap pemimpin perusahaan tidak akan menyelamatkan kita dihadapan Alloh di Akhirat nanti. Tetapi jika Islam sudah menjadi prinsip hidup, perusahaan akan beruntung berkali lipat akibat keIslaman kita. Karena kita jujur, disiplin dan kinerja meningkat karena kita Muslim dan kita malu bekerja tidak bagus.

Sumber: Ust. Bachtiar Nasir. Jangan Berikan yang Sisa untuk Islam

loading...
Share

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*