Ta’qilun Lombok dan Palu

Bayangkan bila kita putih namun ketika di cermin menjadi hitam. Ridho dan ikhlas menjadi ciri bahwa orang tersebut betul-betul beriman pada Alloh. Ada orang yang ridho tapi masih mengeluh. Contoh ada seorang istri yang memiliki suami dengan penghasilan pas-pasan. Ketika Istri ditanya “apakah ridho?” Ia menjawab ridho tapi kalau sudah lihat kebutuhan rasanya jadi pusing. Inilah ikhlas tapi kecewa. Contoh lain menolong orang namun sorenya dibuat kecewa oleh orang tersebut.

Tidak ada ayat Alloh yang tidak jelas. Semua ayat Alloh disampaikan oleh Alloh dengan penjelasan. Surah Fussilat ayat 53 “Kami akan perlihatkan kepada mereka (kita), ayat-ayat Alloh diseluruh ufuk. Dan juga di dalam diri mereka. Sehingga jelas bagi mereka (kita) sesungguhnya Alloh Dzat yang Maha Haq”.

Jantung terus berdetak walau kita dalam keadaan tidur. Inilah ayat-ayat Alloh. Segalanya bisa menyampaikan kita kepada Al Haqq (Kebenaran). Al Haqq segala yang disandarkan kepada Alloh. Harta bisa menjadi Al Haqq bila disandarkan kepada Alloh. Kita berkeyakinan bahwa harta ini adalah nikmat dari Alloh meskipun harta ini didapat dari bekerja. Kita bekerja cari ridho Alloh.

Proses untuk mendapatkan Al Haqq adalah memikirkan ayat-ayat Alloh dan mengelolanya menjadi hamparan petunjuk menuju tujuan yang diinginkan. Apa saja yang harus terlibat dalam Ta’qilun? Ta’qilun adalah proses mempertemukan akal dan hati. Kalau akal dan hati ketemu maka yang terjadi adalah yaqin bahwa Alloh Al Haqq.

Sebagai contoh kita mendengarkan ayat suci Al Qur’an (sebagai makmum). Ini adalah peristiwa haq. Akal akan mengikuti ketika mendengarkan Al Qur’an. Tanda kita mendengarkan Al Qur’an yaitu kita bisa mendengar dan huruf per huruf  yang diaca. Kalau hati cukup menyakini bahwa yang dibaca bukan ucapan biasa melainkan firman Alloh.

Ta’qilun Gempa. tidak mungkin pemilihan tempat kecuali ijin Alloh. “Lombok” membuat kita pedas. Apa yang terjadi jika kepala kena “Palu”? Pedasnya “lombok” tidak perih dibanding ke ketok “Palu”. Agar pedasnya “lombok” tidak membawa kita pedihnya diketok “Palu” maka jangan mempermainkan ampunan Alloh. Semua yang Alloh takdirkan harus tenggelam. Musibah ini menjadi kesempatan bagi kita untuk mawas diri. Musibah bisa memberi banyak makna. Bisa menjadi bencana/kerusakan/kerugian. Musibah juga bisa menjadi cobaan atau ujian. Masing-masing punya makna.

Ada 3 orang yang berbeda mempunyai musibah yang sama namun maknanya berbeda. Maka akan menimbulkan hasil yang beda. Musibah itu bencana maka akan bermakna adzab muqaddam. Bila musibah itu ibtila maka akan bermakna penghapus dosa. Bila musibah itu ujian akan bermakna agar menaikkan derajatnya. Jadi tidak bisa mengeneralisir melainkan orang per orang. Bagaimana cara memastikannya? Lihatlah sikap orang tersebut terhadap musibah. Dan sikap tidak bisa direkayasa.

Bisa menjadi bencana bila reaksi orang yang terkena musibah akan benci atau marah atau tidak terima atau proses kepada Alloh. Ia rajin sholat, puasa karena pura-pura. Dua, Ibtila bila merespon musibah dengan sabar. Dia merasakan begitu beratnya musibah namun dia tahan karena ia tahu kalau musibah ini atas ijin Alloh. Pedihnya ia adalah proses kaffarah dzunubnya sedang berjalan. Tiga, bila disikapi dengan ridho. Ia tidak merasakan pedih dan lapang. Ia menjadikan apapun sebagai ladang amal.

Bila kita dihina orang, bagaimana sikap kita ? Apakaha hubungan dengan dia akan renggang atau tidak ?

Ridho adalah ta’qilun yang sempurna. Ridho berarti menjadikan apapun musibah hidup kita sebagai ladang untuk beramal baik.

Sumber : Ust Syatori dalam Tadabbur Surah An Nur ayat 61 di Masjid Nurul Ashri Yogyakarta 15 Oktober 2018

loading...
Share

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*