Ingin Hebat di Semua Hal

Berkeinginan ingin hebat di semua hal pasti pernah di harapkan semua orang termasuk saya. Namun ternyata ada jebakan dengan ingin “hebat di semua hal”. Kenapa? Bukankah bagus. Ternyata tidak. Lalu apa jelek? Ternyata juga tidak. Hanya saja pasti tak akan menjadi “the great” tapi juga bukan “the bad” melainkan cukup puas hanya dengan menjadi “the good”. Tulisan di majalah Luar Biasa edisi Maret mengupasnya dan saya akan membahasnya dalam tulisan ini.

Yuswohady dalam tulisannya di majalah luar biasa mengingatkan kita tentang hukum alam “You can’t be great everything”. Kalau kualitas Anda nomor satu, maka bisa dipastikan harga yang bisa Anda tawarkan mahal. Ya, karena untuk menciptakan kualitas nomor satu Anda butuh ongkos untuk mewujudkannya dan ongkos itu Anda bebankan ke konsumen. Itu sebabnya harga Anda tidak bisa murah. Selalu ada trade-off diantara keduanya.

Managing Partner Inventure, Yuswohady mengatakan salah satu ciri pemain hebat adalah ia tak mau terjebak menjadi pemain medioker. Mereka tak mau terjebak untuk menjadi “hebat di SEMUA hal”. Mereka sadar untuk berbeda mereka harus menjadi sangat hebat di satu atau dua hal.

Yuswohady yang sedang membaca buku Uncommon Service berbagi isi dari buku tersebut. Penulis Frances Frei menjelaskan Excellence requires underperforming. Anda harus fokus mencapai kesempurnaan di satu-dua hal yang konsumen betul-betul butuh. Dan di sisi lain, Anda harus legowo untuk berkinerja buruk di hal-hal lain yang konsumen tak begitu peduli. Itu kalau Anda tak mau terjebak menjadi medioker (produk rata-rata).

Yuswohady memberikan pesan bahwa kita tak boleh serakah memenangi di semua bidang. Fokuslah pada bidang-bidang tertentu dimana kita excellent, dan lupakan yang lain. Karena ketika Anda serakah maka Anda akan gampang masuk dalam lubang jebakan medioker. Anda hanya akan menjadi pemain rata-rata.

yuswohady
Yuswohady

Sebenarnya yang dibahas Yuswohady dalam majalah luar biasa adalah mengenai suatu produk. Namun, saat saya membacanya malah saya terpikir akan diri saya sendiri. Dan memang cocok untuk yang memiliki keinginan hebat di semua hal.

Dari penjelasan Yuswohady, kita bisa belajar bahwa kita tidak perlu hebat dalam semua hal. Sama seperti Donal berwick yang terkenal sebagai Bapak Mutu Dunia karena memang beliau konsen dan fokus di mutu. Atau rumah sakit Dharmais yang fokus di pelayanan kanker.

Saya selalu ingat dengan kata-kata kakak ke tiga saya. Beliau bilang selama ini beliau kenal saya konsen di mutu karena saya bekerja di bagian mutu. Jadi walaupun sudah tidak bekerja di mutu, tetap fokus lah di mutu. Belajar banyaklah tentang mutu. Karena nasehat kakak saya tersebut, saya mulai belajar dan fokus di mutu melalui website pribadi saya ini yang akan selalu membahas tentang mutu. Semoga tulisan ini bisa memberikan pencerahan, semangat dan perubahan yang lebih baik untuk para laskar mutu.

loading...
Share

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*