Mutu Pasien Eklampsia Melalui Criteria Based Audit

Mutu Pasien Eklampsia Melalui Criteria Based Audit

Setiap tahun di sebagian besar negara dengan sumber daya terbatas dan standar pelayanan kesehatan yang rendah terjadi 50.000 kematian maternal karena eklampsia. Beberapa strategi telah dilakukan untuk mengurangi kematian maternal dan perinatal seperti perawatan antenatal bermutu tinggi, persalinan yang didampingi oleh petugas kesehatan terlatih dan ketentuan untuk perawatan kebidanan darurat tingkat dasar maupun komprehensif.

Pirkle CM, dkk (2011) menyatakan bahwa dengan meningkatkan manajemen klinis untuk pre-eklampsia dan eklampsia terbukti dapat mengurangi morbiditas dan mortalitas perinatal dan maternal. Manajemen pasien eklampsia harus fokus pada tiga komponen yaitu (1) pemantauan status klinis maternal dan kesehatan janin dengan menggunakan partograf, (2) melakukan uji laboratorium untuk fungsi-fungsi vital maternal dan (3) menyediakan perawatan kehamilan yang tepat. Selain itu, sebagian besar eklampsia, penyembuhannya tergantung pada tindakan awal seperti dosis obat-obatan yang tepat; jenis dan volume cairan infus yang penting bagi perkembangan pasien.

Audit berbasis kriteria (criteria-based audit/CBA) telah digunakan bertahun-tahun untuk meningkatkan manajemen klinis di negara-negara maju. CBA digunakan untuk identifikasi masalah, mengerahkan sumber daya dan memecahkan masalah dengan menentukan prioritas. Sehingga dengan metode tersebut, petugas kesehatan dapat melakukan penilaian mutu untuk mencapai tujuan yang ditargetkan.

Kidanto, H dkk (2012) menyatakan bahwa CBA dapat diaplikasikan dalam tatanan sumber daya yang rendah dan dapat membantu meningkatkan mutu perawatan kebidanan termasuk pengelolaan pre-eklampsia dan eklampsia. Selain itu, proses-proses audit dan pemecahan masalah yang dihadapi tidaklah mahal dan dapat diselenggarakan dalam waktu yang singkat. Pengorganisasian dan prioritas dalam memecahkan persoalan merupakan kunci mutu perawatan yang sesuai standar.

Hasil penelitian Kidanto, H dkk (2012) menjelaskan bahwa adanya peningkatan mutu pada semua aspek perawatan khususnya untuk pemantauan intrapartum menggunakan partograf. Selain itu, ada peningkatan mutu secara signifikan dalam manajemen dan perkembangan pasien dalam re-audit. Perubahan terpenting dalam perkembangan pasien adalah tidak ditemukannya kematian maternal dalam re-audit.

Langkah 1 (Menyusun Standar)

Penyusunan standar dilakukan oleh semua dokter dan perawat/bidan dengan menentukan kriteria berbasis fakta (panduan menteri kesehatan, WHO, jurnal) mengenai manajemen eklampsia. Kriteria yang dipilih disesuaikan dengan persoalan-persoalan mutu yang berhubungan dengan manajemen eklampsia dan sumber daya yang tersedia di rumah sakit. Penelitian Kidanto, H dkk (2012) memberikan beberapa kriteria untuk manajemen eklampsia seperti berikut ini

No Kriteria
1. Kondisi klinis secara umum (detak jantung, tekanan darah, suhu badan, dll) pada saat masuk harus dicatat oleh perawat senior, termasuk dokumentasi perawatan yang diterima atau seiring-dan-ketika perawatan tersebut dimulai, dan segala perawatan darurat yang diberikan sebelum diperintahkan oleh dokter
2. Perawatan anti hipertensi harus diberikan kepada semua pasien yang menderita hipertensi parah (tekanan darah diastolik (BP) ≥110mmHg)
3. Perawatan dan pencegahan serangan penyakit harus dimulai sesegera mungkin dengan magnesium sulfat dan dilanjutkan selama 24 jam setelah serangan terakhir atau persalinan, tergantung kejadian yang muncul lebih dulu (dosis sesuai protokol perawatan eklampsia)
4. Tingkat pernafasan dan refleks tendon harus dipantau setiap setengah jam ketika magnesium sulfat digunakan
5. Pengukuran darah secara menyeluruh, pengujian fungsi ginjal dan hati, serta urinalisis harus dilakukan setidaknya satu kali (pemeriksaan darah menyeluruh, urin untuk uji albumin, serum creatinine, urea, enzim-enzim hati (Alanine aminotransferase (ALT), Aspartate Aminotransferase (AST) dan Alkaline phospahtise))
6. Tingkat detak jantung janin harus dipantau setiap 30 menit pada semua pasien yang belum melahirkan
7. Terapi steroid harus diberikan untuk semua kehamilan yang usia kandungannya 28-34 minggu untuk berjaga-jaga jika diperlukan perpanjangan masa kehamilan

Langkah 2 (Pengumpulan data)

Tujuan dari langkah ke 2 adalah untuk mengevaluasi pelaksanaan yang berlangsung dengan melakukan pengumpulan data oleh dokter (residen senior). Berkas kasus ditinjau dan dibandingkan dengan standar yang komprehensif seperti perawatan antenatal, kejadian selama masa antepartum dan intrapartum, perkembangan kandungan yang diperoleh dari catatan rekam medis. Selain itu, dicari informasi mengenai umur kehamilan saat persalinan, jumlah serangan eklamptik, tekanan darah saat masuk rumah sakit, proteinuria saat antenatal dan masuk rumah sakit, usia kandungan saat diagnosis eklampsia, penggunaan obat-obatan anti hipertensi, komplikasi persalinan, jenis persalinan, nilai Apgar, berat lahir, selang waktu antara masuk hingga melahirkan, dan morbiditas dan mortalitas maternal dan perinatal. Rekam medis mengenai seluruh bayi yang dirujuk ke bangsal neonatal ditinjau untuk mengumpulkan data kematian neonatal awal. Penyebab kematian neonatal dipilih dari catatan kasus seperti yang telah direkam oleh dokter yang menerangkan kematian.

Langkah 3 (analisis audit awal & Perkembangan Rekomendasi)

Langkah 3 dilakukan dengan melihat perbedaan yang terjadi di antara praktek dengan standar kemudian didiskusikan dan membuat beberapa rekomendasi untuk peningkatan. Pelaksanaan rekomendasi misalnya (1) pengangkatan spesialis untuk mengelola kasus-kasus dengan didampingi oleh dokter intern dan residen, (2) bidan-bidan dilatih untuk memulai pengelolaan pasien segera setelah mereka masuk dengan memulai pemantauan tanda-tanda vital, pemasukan catheter Foley, menata saluran-saluran infus dan mengawali pengobatan dengan mengendalikan tekanan darah tinggi, (3) adanya register yang dikembangkan untuk melacak pasien yang dijadwalkan menjalani cesar supaya penundaan yang tidak perlu dapat dihindarkan, (4) Uji laboratorium dikumpulkan dan hasilnya dilacak, (5) alat-alat yang akan dipakai disediakan, misal stick urin untuk mengukur protein.

Langkah 4 (Re-Audit)

Re-audit dilakukan untuk menilai kemajuan. Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan cara yang sama. Karena banyaknya kerusakan organ yang disebabkan oleh patofisiologi eklampsia, uji laboratorium secara tepat penting bagi pengelolaan pasien. Penelitian Kidanto, H dkk (2012) menyatakan bahwa penggunaan uji laboratorium meningkat setelah audit awal. Perbaikan organisasi dan penyusunan prioritas menjadi tiang kesuksesan misalnya bidan, dokter residen ditugaskan untuk menangani bangsal eklampsia. Hal ini untuk meningkatkan mutu manajemen pasien eklampsia.

 

Daftar Pustaka :

Kidanto, H et al (2012). Improved Quality of Management of Eclampsia Patients Through Criteria Based Audit at Muhimbili National Hospital, Dar es Salaam, Tanzania. Bridging the Quality Gap. BMC Pregnancy and Childbirth, 12:134.

loading...
Share

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*