Maria Oktaviana Mete, Mahasiswi dari Sumba Barat Daya

Maria Oktaviana Mete, Mahasiswi dari Sumba

Akhir bulan November 2017, Saya kembali ke kampus setelah 4 bulan magang di UNPAD. Dan ternyata bertepatan dengan pengumuman bagi semester 7 mendapatkan pembimbing skripsi. Satu mahasiswi menghampiri meja kerja saya. Wajahnya asing di ingatan saya. Saya pun memintanya duduk di depan meja kerja saya. Ia menjelaskan bahwa ia ingin memberikan surat permohonan menjadi pembimbing skripsi ke II. Saya pun menanyakan namanya. Ia menjawab Maria Oktaviana Mete. Saya tanya lagi biasa dipanggil apa. Ia menjawab Meree. Saya merasa aneh dengan nama meree itu berasal dari mananya. Jadi Saya bilang padanya, saya panggil “Mete” saja ya karena kalau Maria sudah banyak. Ia pun menerima saja. Hihihi

Pertemuan pertama saya dengan mete, dia anak yang sangat pemalu. Dia lebih banyak menunduk dibandingkan menatap wajah saya. Saya menilai ia anak yang kurang percaya diri. Dan sepertinya saya harus ekstra membimbingnya dibanding anak bimbingan saya yang lainnya. Ternyata saya salah, saya melihat kelebihan dia dibanding anak saya yang lain. Sifatnya yang selalu takut salah dan merasa tak pintar malah berbalik. Dia jadi benar-benar cerdas. Bagaimana tidak, dia yang seharusnya cukup mengambil data karies gigi semua puskesmas di Dinkes Sleman malah dia copy semua data kesakitan. Ini membuat anak bimbingan saya yang meneliti hipertensi bisa menggunakan data yang diambil oleh Mete. Kamu cerdas, Mete…

Saat seminar proposal, saya baru tahu bagaimana aslinya dia. Tak menyangka ketika dia presentasi proposal, dia berkeringat dan terbata-bata dalam presentasi. Hingga penguji (Bu Atik) memintanya minum setelah presentasi selesai. Saya melihat mete yang hari itu berbeda ketika bimbingan dengan saya. Ketika penguji bertanya tentang penilaian skor kuesioner, dia mendadak tidak bisa menjawab. Padahal sudah saya ajarkan ketika bimbingan. Saya pun ambil alih dengan suara saya yang lantang menanyakan kembali pertanyaan penguji tentang penilaian kuesioner. Eh dia malah bisa menjawab. Benar-benar anak yang aneh. Ketika saya tanya, dia baru bisa jawab. Tapi ketika penguji yang lain tanya, mendadak hilang ingatan.

Setelah seminar proposal, dia tak pernah berhenti bertanya. Ia selalu saja WA saya menginfokan setiap langkah penelitian yang ia lakukan. Dia informasikan tempat uji validitas yang ganti, Setelah ambil data uji validitas, ia datang lagi untuk analisis uji validitas. Dan disitu saya benar-benar memastikan data yang dia input ke excel benar. Saya tes dia dengan tanya bagaimana cara memberikan nilai di setiap pertanyaan. Awalnya dia bingung tapi akhirnya dia berhasil. Dia mampu memberikan nilai dan ingat semua. Sehingga saat data hasil penelitian dia dapat, dia mampu menyelesaikannya tanpa saya bantu lagi. Kamu dahsyat, Mete…

Bukan mete namanya kalau tidak banyak revisi. Hingga akhirnya tiba pada batas pendaftaran maju sidang skripsi pada tanggal 20 Juli 2018 namun acc dari pembimbing 1 belum juga dia dapat apalagi beliau sedang ke Wonosobo. Dia cerita kalau orangtuanya menelpon tapi tak berani ia angkat karena tidak tahu akan jawab apa. Takdir Alloh berkata lain. Alloh SWT turun tangan atas perjuangan mete. Alhamdulillah ternyata tanggal terakhir maju sidang skripsi diundur menjadi tanggal 26 Juli 2018. Saya ingat saat dia bilang “biar ibu (pembimbing 1) belum acc, saya akan konsul terus semampu otak saya”. Dia pun juga mengatakan “sekarang giliran saya yang harus berjuang untuk meluluhkan hati beliau (pembimbing 1)”. Kamu pejuang sejati, mete…

Dia mahasiswa angkatan 2012 yang bila tahun ini tidak lulus maka DO. Ternyata dia belum lulus karena ia pernah sakit dan saat mau lanjut kuliah, uang registrasinya kandas. Jadi dia kerja di Bali untuk mencari uang selama 1 tahun. Dia rela menjadi pengasuh anak di rumah dengan harapan tidak perlu lagi bayar kost jadi uang bisa di tabung. Akhirnya dia bisa lanjut kuliah dengan uang yang ia tabung dan uang tambahan dari orang tuanya. Kamu hebat, Mete….

Tiba di hari terakhir pendaftaran sidang skripsi, dia terus tunggu pembimbing 1 dan membawa semua kuesioner beserta foto penelitian. Waktu itu sekitar jam 13.00 tanggal 26 Juli 2018. Pembimbing 1 minta hasil SPSS dan dia bisa memperlihatkan hasil SPSSnya. Alhamdulillah akhirnya mete di acc maju sidang walau seperti biasa mete akan WA lagi bilang khawatir tidak bisa. Saya hanya bilang nanti kamu bisa belajar. Dia pun menjawab “saya akan belajar bu dan saya akan belajar di teman tentang olah data”. Saya suka dengan kerja kerasmu, Mete…

Belum selesai, tanggal 27 Juli 2018 Saya dan dia via WA masih bimbingan. Koreksi abstrak juga via WA karena saat itu hari jumat yang mana draft skripsi harus sudah di cetak untuk di serahkan ke para penguji dan pembimbing hari Senin. Jam 4 subuh hingga jam 6 pagi bahas abstrak. Saya pernah menelponnya jam 5 subuh untuk minta dia ke warnet cek email karena saya sudah selesai koreksi skripsi dia. Ternyata jam 7 pagi, dia sudah ada di kampus untuk memperlihatkan draft skripsi revisian terbaru yang saya email subuh tadi.

Maria Oktaviana Mete

Akhirnya tiba di tanggal 30 Juli 2018 hari H sidang skripsi mete. Pagi jam 5.30 dia masih WA tanya olah data. Ternyata mete belum mengusai analisis data. Saya hanya bilang pelajari saja yang dikuasai. Mete tiada hari tanpa tanya, tanya dan tanya. Hahaha. Ujian skripsi jam 10. Detik-detik mau jam 10, dia datang ke meja kerja saya bilang kalau laptopnya tak connect dengan LCD. Akhirnya dia sidang skripsi menggunakan laptop saya. Alhamdulillah sidang skripsi mete hanya 1 jam saja. Saat presentasi hasil penelitian, mete masih saja tetap berkeringat dan terbata tapi sudah jauh lebih baik. Tidak separah saat seminar proposal. Saat penguji (Bu Atik) bertanya tentang perjalanan penelitian, mete mampu menjawab dengan begitu lancar. Benar-benar dia menguasai apa yang telah dia kerjakan. Bahkan duduknya responden ketika mengisi kuesioner pun dia ceritakan dengan mengatakan “ibu (saya) kan minta supaya responden tidak berdekatan isi kuesioner jadi saya lakukan”. Hahaha emang mete jujur banget. Ketakutannya pada analisis data ternyata tidak terjadi. Tidak ada penguji yang menanyakan tentang analisis data.

Tahap terakhir sidang skripsi yaitu penilaian, pembimbing 1 meminta mete keluar ruang sidang (ruang tutorial 4). Saya masih ingat dengan jelas bu Atik bilang “dia (mete) sudah berubah banyak dibanding seminar proposal”. Dan statement itu yang membuat beliau memberikan nilai tinggi untuk mete. Bahagianya saya karena bu Atik mengakui perubahan drastis dari mete. Mete bahagia bukan main ketika pembimbing 1 menginfokan bahwa ia lulus dengan syarat revisi. Dia malah langsung keluar ruang. Padahal belum di tutup sidangnya oleh pembimbing 1. Hahaha.

Setelah sidang skripsi selesai, mete sempat cerita bila orangtua nya tidak pergi ke sawah karena ingin tunggu informasi dari mete. Orangtuamu hebat, mete. Bersyukurlah memiliki mereka. Dan saya yakin, kegigihanmu ini turunan dari orangtuamu. Dan mudahnya jalanmu karena sayangnya kamu pada orangtuamu.

Hari ini, 19 September 2018 akhirnya mete wisuda. Hari ini insyaalloh saya datang ke wisuda mu karena kamu berkali-kali WA saya minta saya datang ke wisuda karena mau foto dengan saya. Kamu satu-satunya anak bimbingan saya yang minta foto saya dan minta saya hadir di wisudamu. Terimakasih karena kamu masih ingat saya walau kamu sudah selesai skripsi.

Kalau diperhatikan rencana Alloh SWT, bersyukurlah karena pembimbing 1 mu killer karena dengan begitu kehebatanmu bisa muncul dan terasa hingga ke penguji (bu Atik) dan saya sebagai pembimbing 2 mu.

Terimakasih banyak karena kamu adalah anak bimbingan saya. Terimakasih banyak karena kamu telah mengajarkan saya banyak hal. Saya tak seberani kamu. Saya tak sehebat kamu yang rela menjadi PRT untuk biaya kuliah. Kisahmu ini akan saya jadikan cerita untuk adik-adik angkatanmu khususnya dari sumba barat daya di kampus. Kami bersyukur memiliki mahasiswi tangguh bernama maria oktaviana mete.

Sekarang kamu sudah jauh berubah menjadi wanita yang percaya diri, kuat dan hebat. Di mata saya, kamu memang tak pintar karena berkali-kali saya harus mengajarimu. Tapi kamu yang tak pintar terkalahkan dengan kecerdasa dan kerja kerasmu. Kamu terus belajar untuk bisa paham, kamu terus mencoba walau sulit. Dan modal itu yang akan membuatmu sukses ke depan.

Pesan saya untuk mete : Ketika ada yang meremehkanmu, jangan dengarkan mereka. Kamu hanya perlu terus maju. Kamu anak cerdas. Terus selalu bertanya ketika tidak tahu hingga kau paham. Dan seperti yang terus saya katakan padamu KAMU BISA ! KAMU TIDAK BOLEH MENYERAH ! Saya yakin kamu akan menjadi orang sukses di Sumba Barat Daya. Terus ingat Tuhan dan sayang orangtua. Doa saya menyertaimu.

“Ketika kita belajar sangat keras maka kita akan menjadi semakin pintar. Menjadi seorang pekerja keras itu lebih penting dibanding menjadi seorang yang pintar. Kamu akan menjadi lebih pintar dari orang pintar lainnya jika kamu belajar dengan keras. Ranking bukanlah yang utama. Kesuksesan seseorang lebih banyak dipengaruhi oleh karakter yang baik dan kuat. Mencintai proses belajar jauh lebih penting. Tak takut salah dan mencintai proses akan menjadikanmu tak tunduk pada penilaian orang lain dan tak lelah berproses melewati tantangan”

Selamat wisuda untuk seluruh mahasiswa STIKES Wira Husada Yogyakarta terutama untuk anak-anak saya (Nurlisa, Heribertus dan Mete). Awal perjuangan kalian yang sebenarnya baru dimulai. Semoga Alloh SWT selalu membimbing, menjaga dan menguatkan kalian untuk selalu berada di jalan yang benar dan bermanfaat untuk banyak orang.

loading...
Share

3 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*