Penyebab Tingginya Klaim BPJS Kesehatan di Yogyakarta

dr. anung trihadi MPH
dr. anung trihadi MPH

Yogyakarta menjadi salah satu daerah yang banyak mengakses JKN. Saat ini, Yogyakarta memiliki 78 Rumah sakit (RS) yang terkonsentrasi di Kota dan Kabupaten Sleman. Di Sleman ada 1 RS rujukan Nasional yaitu RS Dr. Sardjito yang kelas A dan 4 RS Kelas B. Sehingga klaim BPJS Kesehatan di Sleman sangat tinggi karena penyakit katastropik pasti akan dirujuk ke RS Rujukan Nasional yang mana akan membayar sangat tinggi. Apakah penyebab klaim BPJS Kesehatan di Yogyakarta hanya sampai disitu saja ? Masih ada lagi penyebabnya.

Yogyakarta sudah mencoba membuat sistem rujukan yang tidak murni menggunakan Permenkes (Peraturan Menteri Kesehatan) No 1 tahun 2012 tentang sistem rujukan. Karena Permenkes tersebut sistem rujukannya adalah sistem rujukan perorangan yang berjenjang. Jadi untuk mencapai jenjang yang paling tinggi harus melewati beberapa RS.

Dengan regionalisasi, setiap kabupaten/kota disiapkan ada RS regional dan di provinsi ada RS regional provinsi sebelum masuk ke RS rujukan nasional. Yogyakarta pernah menerapkan tersebut diawal tahun 2012-2015. Setelah di evaluasi, ada berbagai masalah salah satunya kesulitan masyarakat di daerah tertentu yaitu Kabupaten Gunung Kidul dan Kulon Progo untuk mengakses RS yang pelayanannya lengkap.

Sistem rujukan di Yogyakarta yang dibuat ini, ada bypass berdasarkan kompetensi dan kegawatdaruratan atau disebut sistem rujukan berbasis kompetensi fasilitas pelayanan kesehatan. Selain itu, tidak serta merta mengadop konsep regionalisasi yang dilakukan oleh kementerian kesehatan.

Akhirnya pada bulan Maret tahun 2017, regionalisasi diubah. Rujukan harus berdasarkan kompetensi dari faskes dan berat ringannya penyakit. Kabupaten Gunung Kidul yang tidak memiliki RS kelas B akan menjadi tidak adil bila kemudian sulit mengakses RS kelas B dan A yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Jadi beberapa kasus yang berat bisa langsung dari FKTP (diagnosis oleh dokter) bisa langsung akses ke RS kelas B. Lalu siapa yang menentukan ? Kolegium yang menentukan kasusnya. Jadi kolegium sudah menyusun kasus A dengan faktor-faktornya bisa langsung ke RS Kelas B dan tidak harus ke RS C dan D. Sehingga menyebabkan klaim di Yogyakarta (Sleman) menjadi sangat tinggi.

Sumber : dr. Anung Trihadi, MPH dalam diskusi Kaleidoskop Kebijakan Kesehatan 2017 pada tanggal 28 Desember 2017 di Yogyakarta

loading...
Share

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*