Menjadi Ayah High Quality

Menjadi Ayah High Quality
Menjadi Ayah High Quality

Alloh mengisyaratkan kepada kita bahwa jangan sampai meninggalkan anak-anak yang lemah. Isyarat ini sudah barang tentu untuk yang memimpin dalam keluarga yaitu ayah. Ayah yang bertanggungjawab untuk tidak meninggalkan anak-anaknya. Anak-anak yang lemah itu seperti apa? Anak yang usia biologisnya lebih maju dibandingkan usia psikologisnya.

Ayah adalah orang yang paling depan menjaga amanah yaitu anak. Amanah apa saja untuk anak yaitu amanah tubuh (pertumbuhan) dan amanah non tubuh (perkembangan). Salah satu tugas ayah dalam amanah tubuh (pertumbuhan) anak adalah menjaga jangan sampai membawa pulang ke rumah barang-barang yang haram. Karena itu bersangkut paut dengan persoalan pertumbuhan dan perkembangan akhlak dari anak. Bahkan ada penelitian di beberapa Negara, di beberapa komunitas Muslim itu ada yang sebagian besar ayah tidak mencari uang dengan tidak memperdulikan mana haram dan tidak haram dan sebagian lagi komit dengan persoalan haram dan tidak haram. Ternyata hasil penelitian tersebut, 10 tahun kedepan anak-anak yang tumbuh dari 2 komunitas yang berbeda cara menjaga amanah pertumbuhan, ayah yang menjaga halal haram, anak-anaknya tumbuh dengan akhlak yang baik begitupun sebaliknya. Sedangkan amanah perkembangan seperti menghebatkan pendengaran, penglihatan, hati nurani anak-anak. Dua amanah ini yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Alloh.

Ayah yang high quality adalah ayah yang bekerja, ayah yang mungkin lama meninggalkan anak-anaknya tapi ketika ia bertemua dengan anak-anaknya, mereka tetap merasakan bahwa ayahnya pergi hanya sebentar. Inilah sosok ayah yang dicari. Jadi ayah yang high quality adalah ayah yang bertanggungjawab supaya nanti anak yang ditinggalkan itu adalah anak yang usia psikologinya lebih maju dari usia biologisnya.

Bagaimana menjadi ayah yang high quality ? Pertama, ilmu dan Kedua, waktu. Ayah harus mencari ilmu karena ayah harus paham dan kenal dengan anak-anaknya secara fisik dan psikologisnya. Kita harus tahu bagaimana cara bicara dengan anak yang PAUD, SD, cara menelpon di siang hari dan ketika sampai di rumah. Ayah harus komitmen dan konsisten dalam waktu bersama. Bukan waktu dengan anak melainkan waktu bersama anak. Kalau waktu bersama anak itu ketika ayah berkomunikasi, ayah berhubungan dengan anak-anak, anak-anak mendapatkan insight atau sesuatu ketika berkomunikasi dengan ayahnya. Tapi kalau waktu dengan anak, biasanya yang mendapat insight adalah ayahnya. Cara bersama anak ada dua cara yaitu rebut atau rekayasa. Contoh anak berkata “Yah, aku tadi disekolahan, kata bu guru pintar gambarnya”. Inilah golden moment dan ayah harus merebut golden moment ini. Sedang rekayasa, ayah bertemu dengan anak tapi anak diam aja. Ayahnya pun ikut diam aja. Dapatkan golden moment bersama anak dengan ayah rekayasa misalnya “tadi ayah naik kereta, sepanjang jalan, kaki ayah gak nyentuh kereta”. Tiba-tiba munculah respon anak “koq bisa sih, yah”. Itu adalah rekayasa. Ayah yang merebut dan merekayasa anak, anak akan kagum pada ayahnya dan mentaatinya.

Ayah yang ingin menjadi hiqh quality, lakukan 3 hal ini saja. Loving, coaching dan modelling. Mencintai, melatih/mengasuh dan modelling. Ayah akan susah melatih dan memodeling anak kalau basic loving ayah tidak kuat. Maka kuatkan dan hebatkanlah loving ini. Pekerjaan ayah pada loving adalah mencintai diri sendiri, mencintai ibunya anak-anak, mencintai anak-anak. Pekerjaan dari loving yang paling berat adalah ayah mencintai diri sendiri. Ibarat mata air, kalau ayah membenahi (menjernihkan) diri ayah, insyaalloh akan mengalir dengan jernih ke hulu hingga hilir pada anak-anak. Mencintai diri sendiri adalah bagaimana kita melihat diri kita sekarang yang mungkin banyak dari sekeliling kita kecewa dengan kepribadian ayah semuanya tergantung dari umur 0-18 tahun atau golden period. Alloh memberikan seluruh potensi terbaik sepanjang hidup manusia adalah di umur 0-18 tahun. Itulah kenapa semua ahli fathering mengatakan “kalau ingin membuat anak menjadi hebat kelak (setelah umur 18 tahun) jangan pernah main-main di umur anak 0-18 tahun”. Di golden period inilah yang akan menentukan seperti apa kelak di kemudian hari.

Ada seorang istri yang kecewa dengan suaminya yang lelet, gak bisa memutuskan, gak fight. Kalau ini yang dikeluhkan oleh istri dan bertahun-tahun dirasakan dalam rumah tangga, teman kantor, keluarga maka ini positif karena hutang pengasuhan. Ayah dengan sadar mengakui bahwa dia punya hutang pengasuhan. Kalau dia punya hutang pengasuhan, mau tidak mau harus kita bayar. Ayah yang high quality adalah ayah yang senang membayar hutang pengasuhan ini dan jujur pada dirinya dan mengatakan pada istrinya “wahai istriku, aku ini orangnya lelet, aku susah untuk memuji karena aku tidak memiliki depositnya di umur 0-18 tahun. Tolong bantu dan damping aku untuk membayar hutang-hutang pengasuhan ini”. Ayah susah memuji anaknya karena ayah tidak punya golden periode (tidak dipuji oleh ayahnya ketika umur 0-18 tahun). Kedua, ayah harus mencintai pasangan. Kenapa kita harus mencintai ibunya anak-anak ini? Ayah susah menghebatkan anak-anak sebelum menghebatkan pasangan ayah. Jadi kuatkanlah bahwa istri adalah pakaian suami.

Sumber : Ust. Bendri

loading...
Share

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*