Menjelajahi 6 Masjid Terpopuler di Bandung

6 Masjid Populer di Bandung

Libur imlek tanggal 17 Februari 2018 lalu, saya bersama teman saya (wini handayani) berpetualang menjelajahi 6 Masjid terpopuler di Bandung. Salah satu resolusi tahun 2018 yaitu Masjid Al Irsyad Padalarang. Niat baik itu harus diperjuangkan dan Alloh pasti akan mudahkan untuk mencapainya. Dan alhamdulillah, keinginan saya ini di aminkan oleh wini yang antusias ingin juga ke Masjid tersebut. Awal Januari 2018, kami pun beli tiket kereta pulang pergi.Menariknya, saya dan wini berjanji bahwa kita akan bertemu di Masjid Al Irsyad Padalarang. Jadi bukan bertemu di stasiun Bandung lalu bersama ke Masjid Al Irsyad Palarang melainkan langsung bertemu di Masjid Al Irsyad Padalarang. Awalnya sempat khawatir dengan wini yang belum pernah berpetualang. Dan benar saja, akalnya selalu berbeda dengan saya. Saya yang runtut sesuai aturan berbeda dengan wini yang menggunakan jalur cepat. Haha. Dia yang harusnya turun di stasiun Bandung mengurungkan niat dan memilih turun di stasiun cimahi karena dirasa lebih dekat ke Padalarang. Haha

Tanggal 16 Februari 2018 pukul 20.10 WIB dengan kereta lodaya saya menuju Bandung dari Yogyakarta. Tiba di stasiun Bandung pukul 04.20 WIB. Alhamdulillah tiba tepat saat adzan Subuh sehingga saya bisa shalat jamaah Subuh di Masjid stasiun Bandung. Selesai shalat Subuh sekitar pukul 04.45 WIB, saya menuju loket untuk membeli tiket kereta lokal ke Padalarang. Ternyata pembelian tiket ada di pintu selatan sedangkan saya posisi ada di pintu utara. Jadi saya harus berputar dan tidak bisa masuk ke dalam stasiun karena untuk masuk stasiun harus ada tiket. Alhasil, saya keluar stasiun. Berjalan terus tanpa memikirkan sopir taxi yang menghadang menawari tumpangan. Dalam pikiranku, jalan kaki saja sampai ke pintu selatan. Baru beberapa langkah meninggalkan stasiun, ada anak muda bersepeda motor menawari tumpangan. Ia mengatakan bahwa ia ojek online. Dalam hati ini merasa aman. Lalu saya bertanya pintu selatan stasiun masih jauh. Ia menjawab “lumayan teh”. Mendengar jawaban lumayan itu, saya mengurungkan niat jalan kaki. Saya lebih memilih minta diantar saja. Haha karena saya tidak mau jalan kaki jauh. Bisa kurus nanti. Pemuda tersebut mengatakan “terserah mau bayar saya berapa saja”. Dalam hati hanya bisa bilang alhamdulillah pertolongan Alloh selalu ada untuk saya. Semakin pemuda tersebut minta dibayar terserah, semakin membuat saya tak ingin membayar seadanya saja. Anggap rejeki di pagi hari ya Aa ojek.

Tiba di loket pintu selatan stasiun Bandung, petugas memberitahu bahwa loket baru dibuka jam 05.30 WIB dan kereta berangkat jam 05.50 WIB. Saya sempat kaget saat saya bertanya berapa tiket ke Padalarang. Petugas loket menjawab 5 ribu rupiah. Murahnya. Saya semakin semangat menuju kereta lokal. Saat naik ke dalam kereta lokal, kereta masih sepi jadi banyak kursi kosong. Seperti biasa saya menuju gerbong paling belakang berharap bisa video jalur kereta tapi ternyata tidak bisa karena ditutup. Seru nya kereta ini karena saya bersama para penjual kerupuk, anyaman untuk menjual dagangan di pasar. Sampai di stasiun Padalarang sekitar pukul 06.25 WIB.

Saya yang tak pernah jalan-jalan saat keluar dari stasiun Padalarang serasa habis keluar penjara. Tepat di depan stasiun Padalarang adalah pasar. Melihat suasana pasar tersebut langsung ingat pasar di Jatinangor. Saya langsung menuju pasar berharap menemukan bubur ayam dan alhamdulillah ketemu. Sembari makan, saya bertanya pada sang nenek penjual bubur dimana letak masjid Al Irsyad. Dan nenek menjawab “oo itu di kota baru parahyangan”. Nenek menawari ojek untuk mengantar saya ke Masjid Al Irsyad. Nenek bilang “bayar saja 15 ribu ya kalau boleh bayar 20 ribu”. Berhubung nenek sudah mencarikan ojek, saya ikut saja. Inilah cara Alloh mudahkan saya menuju rumahNya. Saya tidak perlu mencari ojek dan tinggal ikut saja.

Masjid Al Irsyad Padalarang

Masjid ini adalah alasan utama saya dan wini ke Bandung. Masjid yang baru saya tahu ternyata terletak di kompleks kota baru parahyangan. Kalau di Tangerang serasa di Puribeta. Kawasan yang begitu luas dan ada dua perumahan mewah beserta sekolahan. Dan ku tahu bahwa Masjid Al Irsyad ini adalah masjid VIP. Sesampai di Masjid Al Irsyad yang saya tuju pertama adalah kamar mandi. Maklum saya harus mandi pagi dulu. Hahaha. Beda dengan Wini yang baru berangkat dari Jakarta Subuh. Jadi pasti sudah mandi subuh dulu. Sembari menunggu wini tiba, saya masuk ke dalam Masjid Al Irsyad dan tak bisa berkata-kata. Tak menyangka Alloh yang Maha Baik berkenan mengizinkanku untuk datang ke rumahNya. Batu bertuliskan Alloh membuat saya tak berkedip. Saat mata menatap atap Masjid terlihat lampu yang berjumlah 99 asmaul husna. Walaupun karpet tak setebal Masjid Nurul Ashri Deresan tapi tetap mampu membuat saya bersujud lama. Aku bahagia disini, ya Rabb.

Wini pun tiba di Masjid Al Irsyad sekitar pukul 08.30 WIB. Bertemu dengannya membuat saya bahagia. Akhirnya wini berhasil menyelesaikan misi. Misi bertemu di Masjid Al Irsyad. Dan bukan wini namanya kalau tidak bawa bekal makanan. Ia tahu saya akan kelaparan dan benar adanya dia sudah buatkan roti isi telur. Lumayan buat mengganjal perut saya yang sudah lapar menunggu dia dari jam 06.30 WIB. Saya biarkan wini untuk sholat dulu dan saya foto-foto. Setelah ia selesai sholat, asli nya kami pun keluar. Kami tanpa bantuan siapapun, menggunakan berbagai cara bisa foto berdua tanpa tongsis. Kelakuan kami ini memang tak berubah sejak jaman kuliah S1. Haha. Dan hasil foto yang penuh usaha inilah yang menjadikan hasil foto ini menjadi begitu berarti.

Kami berencana shalat jamaah Dzuhur di Masjid Salman ITB sehingga pukul 09.50 kami memutuskan ke stasiun padalarang menuju stasiun Bandung. Dan ternyata saat tiba di stasiun padalarang, stasiun lokal ke Bandung sudah berangkat. Kereta berikutnya akan berangkat pukul 11.00 WIB. Sempat khawatir dan kami berencana naik grab car tapi setelah dipikir tak jadi karena pasti jalan darat akan lebih lama. Naik motor saja membutuhkan waktu 2 jam karena saya sempat tanya dengan ojek lamanya naik motor dari padalarang ke Bandung. Kami pun memutuskan untuk menunggu kereta yang jam 11.00 WIB.

Masjid Salman ITB Bandung

Rencana Alloh tetap terbaik walau kami tak bisa ikut jamaah shalat dzuhur di Masjid Salman ITB karena ada sedikit macet wisuda unpar. Kami tiba di Masjid Salman ITB tepat di rakaat keempat. Setidaknya tetap indah melihat dari kejauhan, jamaah shalat dzuhur melebar sampai keluar pintu Masjid. Masjid ini adalah masjid yang diinginkan wini untuk dikunjungi. Sedih karena wini jadi tak bisa jamaah dzuhur di Masjid kesukaannya ini. Dia sebenarnya aneh. Suka masjid ini tapi ini kali pertama menginjakkan kaki di Masjid Salman ITB. Cinta dalam diam. Haha. Wini suka masjid ini karena masjid ini penuh dengan kayu jati. Ini kali ke dua saya ke Masjid Salman ITB. Dan masih sama. Saya suka masjid ini karena saya tak perlu membawa mukena karena sudah tersedia mukena tanpa takut kehabisan. Ada yang menarik saat saya ke Masjid Salman ITB ini. Saya shalat bersebelahan dengan seorang anak muda yang sedang membaca al qur’an. Selesai shalat, ia masih khusyuk dengan mushafnya. Dan tetiba ia menangis terisak-isak. Dalam hati saya, jangan nangis ya masalahmu akan usai. Walau saya sebenarnya tak tahu kenapa ia menangis. Semoga bukan menangis karena kurang uang atau putus cinta ya. Hehe.

Usai shalat dzuhur, saya dan wini langsung pesan grab car menuju masjid ke 3 yaitu Masjid Al Latif. Belajar dari pengalaman, saya dan wini tak ingin ketinggalan shalat jamaah Ashar. Karena itu, kami tak foto lama-lama di depan tulisan masjid salman ITB berharap siap-siap barangkali menuju Masjid ke tiga akan macet. Dan rencana Alloh tetap cantik. Grab car tak kunjung datang. Dan kami lapar. Alhasil kami beli siomay dan wini beli cilor. Siomay yang sudah dibungkus berharap akan dimakan di jalan akhirnya dibuka juga di meja penjual siomay karena driver grab car yang tak kunjung datang. Dan siomay satu bungkus pun habis kami makan berdua. Masih tersisa satu bungkus dan kami urungkan niat untuk menghabiskannya karena grab car akan segera tiba. Alloh tahu kami lapar karena itu Alloh sengaja melamakan driver grab car sampai ke masjid Salman.

Masjid Al Latif Bandung

Alhamdulillah saya dan wini tiba di Masjid ini pukul 13.45 WIB. Saat tiba di Masjid ini, sedang ada penjelasan tentang umroh. Kamar mandinya bersih dan mewah untuk seukuran Masjid yang tak begitu besar. Masjid ini hebat menurut saya. Karena Masjid ini ternyata terletak di kompleks perumahan. Masjid ini sudah dikenal karena sering ada kajian shift di Masjid ini. Jamaah wanita ada di lantai 2 dan ternyata di lantai 2 juga ada tempat wudhu nya. Benar-benar masjid yang memperhatikan jamaahnya. Kaca-kaca di sekeliling Masjid juga bertuliskan asmaul husna. Setelah shalat Ashar jamaah di Masjid ini, kami langsung meluncur ke Masjid Trans Studio Bandung. Seperti biasa kami menggunakan grab car. Ada yang menarik dengan driver grab car dari Masjid Al Latif menuju Masjid Trans Studio Bandung ini. Sempat kaget saat memesan grab car langsung tiba dalam waktu 1 menit artinya driver tidak jauh dari Masjid Al Latif. Dan ini membuat saya dan wini hanya foto sedikit saja di depan Masjid Al Latif karena driver sudah cepat tiba. Ternyata drivernya juga shalat Ashar jamaah di Masjid Al Latif. Dan lucunya si Wini bilang “wuah kita shalat di masjid yang sama”. Mulai modus si Wini. Nama drivernya Hasanudin. Dan benar-benar rencana Alloh banget, saya dan wini dikasih nomor bunda Evi (mak comblang taaruf di Masjid Al Latif) dari si driver. Bermula dari driver yang nyambung diajak ngobrol kajian di Bandung. Dia pun tahu Masjid Jogokarian yang terkenal di Jogja. Selain itu, driver tersebut mengajak kami ngobrol berasa seperti teman bukan seperti driver dan penumpang mungkin karena umur yang sebaya.

Masjid Trans Studio Bandung

Alloh tidak pernah berhenti mengurus hambaNya. Alloh tahu kami lapar. Hehe. Alhamdulillah perjalanan dari Masjid Al Latif ke trans studio bandung lancar jaya jadi kami bisa sampai pukul 16.00 WIB. Berhubung waktu maghrib masih lama, kami pun ke mall trans studio bandung untuk makan. Dan Wendys menjadi pilihan makan siang di waktu sore kami. Wini yang badannya tak selebar saya ternyata makannya dua kali dari saya. Haha. Ternyata wini banyak berubah soal makan. Alhamdulillah yak. Setelah makan, kami pun langsung menuju Masjid Trans studio Bandung. Sedang ada kajian sore. Dan kami pun ikut mendengarkan walau hanya sedikit. Tapi alhamdulillah cukup membuat kami tersenyum dengan penanya yang lucu. Kami yang rencananya ingin ikut kajian setelah maghrib, kami batalkan karena wujud kami yang sudah tak berbentuk dan memutuskan ke tempat penginapan. Tapi namanya ais gak mau menghilangkan momen, saat memesan grab car, saya memutuskan untuk menuju Masjid Pusdai. Karena saya tahu wini suka kayu jati. Jadi saya mencari Masjid yang ada nuansa kayu jati. Waktu maghrib ke Isya yang pendek membuat kami tak boleh buang-buang waktu. Alhamdulillah pesan langsung cepat datang.

Masjid Pusdai Bandung

Sampai di dalam Masjid Pusdai tepat di rakaat kedua. Dan alhamdulillah kami masih bisa menikmati shalat jamaah rakaat ke 3 dan 4. Masjid ini salah satu masjid favorit bagi saya karena karpet yang tebal. Karpet yang tebal membuat saya nyaman berlama bersujud. Selain itu, kamar mandi yang bersih dan banyak membuat saya tak akan ketinggalan shalat jamaah. Dan benar adanya. Wini pun suka dengan masjid ini. Kembali lagi karena masjid ini yang kayu jati. Dia meminta saya menunggu karena wini ingin baca qur’an dulu. Dan kami pun sampai di penginapan pukul 21.00 WIB. Dan seperti biasa saat saya sudah nempel bantal maka rencana ngobrol dan curhat jadi batal. Haha

Masjid Al Ukhuwah Balaikota Bandung

Tanggal 18 Februari 2018 (tepat tanggal ulang tahun saya) pukul 03.45 WIB kami check out dari penginapan untuk menuju ke Masjid terakhir sebelum ke stasiun Bandung untuk kembali ke kota kami masing-masing. Saat tiba di Masjid ini, masih terkunci dan bukan kami namanya kalau gak buat heboh. Kami ketuk pintu pos satpam untuk membuka pintu Masjid. Masjid ini juga berlantai kayu jati. Hanya saja kata wini, masjid ini lebih licin. Haha. Saya suka Masjid ini karena ornamen lampu yang mewah. Dan ini menjadi ciri khas Masjid yang terletak di Balaikota ini. Masjid ini adalah Masjid kenangan saya. Karena Masjid ini adalah Masjid yang saya datangi saat saya lulus ujian. Dan kedatangan saya kali ini adalah yang kedua. Saya suka Masjid. Karena Masjidlah yang membuat saya berdiri tegak karena ada Alloh yang selalu menguatkan.

Dasar ais yang tak mau buang-buang waktu, pukul 05.25 WIB, kami menuju masjid alun-alun bandung. Bukan untuk sholat dhuha melainkan untuk foto-foto. Wini senang bisa foto-foto di globe asia afrika, foto di atas rumput buatan. Perjalanan kami diakhiri dengan jalan kaki dari alun-alun bandung menuju stasiun bandung. Sepanjang jalan kami mencari bubur ayam. Menemukan bubur ayam tapi terlihat tak higienis, kami pun cari yang lain. Dan alhamdulillah menemukan bubur ayam yang boleh dibilang laris manis. Kenapa saya bisa bilang laris manis padahal saat kami datang, kami adalah pengunjung ke 4. Ternyata lama kelamaan semakin ramai jadi terlihat kalau bubur ayam ini memang favorit. Dan bukan wini namanya kalau makan Cuma satu porsi. Dia membeli kupat tahu dan membungkusnya. Alasannya biar bisa dimakan di kereta.

Alhamdulillah kami sampai di stasiun bandung pukul 06.45 WIB. Saya dengan kereta lodaya berangkat ke Jogja pukul 07.20 WIB dan wini baru ke Jakarta pukul 08.30 WIB. Kasian wini harus nunggu beberapa jam di stasiun. Saya sampai di Jogja pukul 15.30 WIB dan Wini tiba di Jakarta pukul 10.30 WIB

Terimakasih untuk kado ulang tahun ke 30 yang indah ini ya Rabb. Terimakasih Engkau memberikanku teman yang insyaalloh menjadi teman dunia akhirat ku. Terimakasih untuk kasih sayangMu yang begitu banyak dan berlimpah ruah. Maafkan diri ini bila selalu berprasangka buruk padaMu. Ampun ya Rabb… Ampun…. Ampun… Jangan Kau ambil rasa cinta ini pada Masjid-masjidMu… Aku tak sanggup hidup bila Kau blokir aku.

loading...
Share

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*