Aku yang Takut pada AmanahNya

Amanah, salah satu sifat Rasullullah SAW yang memiliki arti dapat dipercaya. Apa yang kamu rasakan saat seseorang memberikan amanah padamu? Senang atau sedih. Menurut kamu kenapa seseorang memberikan amanah padamu? Apa karena kamu dapat dipercaya? Lalu kamu jadi merasa bangga menjadi orang terpercaya?

Saya amat sedih saat seseorang memberikan amanah pada saya. Saat saya sedih, saya yang terlahir memiliki mesin kecerdasan Thinking Introvert (Ti) dari STIFIn selalu “melibatkan” malaikat Raqib & Atid untuk berdiskusi tentang takdir saya dari Allah SWT. Dan tak rame bila syaitan tak turut andil nimbrung memberikan “bumbu” biar lebih seru.

Kenapa Allah SWT memberikan amanah ini pada saya ? Kalau saya tanya pada manusia, mereka pasti akan menjawab “karena kamu bertanggungjawab, bisa bekerja dengan baik, punya potensi, kerja keras, Allah SWT percaya kamu bisa menyelesaikannya”. Jawaban normatif yang tidak berpengaruh bagi saya untuk berhenti sedih.

Lalu, kira-kira apa jawaban malaikat Raqib & Atid ? Syaitan pun tak mau kalah ingin ikut menjawab pertanyaan saya. Mungkin inilah beberapa jawabannya “Allah SWT tak sayang karena itulah kamu diberi amanah, Allah SWT ingin ngetes apakah kamu pilih DIA atau amanah itu”. Menurutmu apa jawaban yang benar alasan Allah SWT memberi kita amanah. Pasti akan ada yang bilang “tergantung kasusnya. Amanah apa dulu”.

Saya sudah pernah merasakan sibuk yang teramat sangat sampai tidak tidur selama 24 jam. Saya pun juga pernah merasakan mengganggur yang benar-benar tak sibuk sama sekali. Dan perlakuan saya padaNya saat saya sibuk dan lengah sangat berbeda.

Amanah saya ini membuat saya harus konsentrasi penuh yang membuat saya terlewat tahajud karena tertidur, terlewat mengaji, tidak ke Masjid untuk Shalat Maghrib dan Isya karena lelah. Berbeda saat saya tidak ada kerjaan. Saya bisa hafalan qur’an, bisa nulis ceramah ustad, bisa tahajud. Amanah itu ujian bukan kebanggaan.

Diantara yang baca tulisan saya ini, mungkin ada yang celoteh “tergantung individu nya. ada yang sibuk tapi masih bisa melakukan hal baik. Tergantung manajemen waktu dan diri”. Yakin kamu akan bilang begitu? Mungkin yang bilang begitu belum pernah merasakan sibuk yang teramat dalam dan nganggur yang begitu santai.

Saya masih ingat dengan curhat Aa Gym yang menceritakan begitu bersyukurnya beliau saat ada berita poligami. Karena berita poligami itu, beliau jadi di benci para ibu-ibu jamaah, tidak laku di stasiun tv, tidak ada undangan ceramah, bahkan Daarul Tauhid hampir saja terpuruk. Kenapa Aa Gym bersyukur dengan kejadian itu? Karena saat Aa Gym tenar, beliau jadi jarang di rumah sehingga keluarga tidak terurus, dll. Tapi sejak kejadian poligami itu, beliau jadi mengurus keluarganya dan jadi lebih dekat yang teramat dekat dengan Allah SWT. Terlihat sekali Allah SWT benar-benar sayang Aa Gym.   Seperti ceramah Ustad di TV yang cerita “ada seorang hamba yang memohon kekayaan, dan Allah SWT langsung berikan. Sehingga dia terlena dan lupa beribadah padaNya. Allah SWT kabulkan permintaannya karena DIA tak suka dengan hamba ini. Tapi ada hamba yang memohon kekayaan, dan tidak Allah SWT kabulkan. Itu karena Allah SWT senang mendengar doa-doa hamba ini”. Itulah yang saya rasakan. Amanah ini serasa Allah SWT ingin mengetes saya, apakah tetap memilih DIA atau tidak.

Saya takut pada amanahNya. Takut bila amanahNya membuat saya melupakanNya. Bila diminta memilih, saya memilih untuk tidak memiliki amanah. Bukan karena tidak ingin bertanggungjawab namun karena saya takut tidak bertanggungtanggung dengan kewajiban saya padaNya.

Ampun Allah SWT ku… Ampun… Ampun… Jika amanah ini membuatku semakin mengenalMu, aku ridho…

loading...
Share

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*