Masuk Surga Sekeluarga

Pada surat Ar-Ra’d Ayat 19-24, menceritakan bahwa akan ada seseorang yang masuk Surga bersama bapaknya, bersama istrinya, bersama anak dan cucunya. Bahkan di Ayat tersebut digambarkan, seandainya amal sholeh bapaknya tidak sebanyak anaknya atau amal sholeh ibunya lebih banyak dari amal sholeh anaknya. Boleh jadi amal sholeh kakeknya jauh lebih hebat dari pada amal sholeh cucu-cucunya. Tapi suatu hari nanti akan ada keluarga yang anak cucunya di upgrade Surganya (dibuat satu kamar atau ada connecting door) di Surga khusus untuk anak-anak mereka diangkat agar satu level dengan Surga Bapak Ibu nya, dengan kakek neneknya padahal amalnya berbeda. Bagaimana itu bisa terjadi? Dan bagaimana caranya supaya kita bisa seperti itu.

Orang sholeh dari kalangan bapak-bapak mereka, orang sholeh dari kalangan istri-istri mereka, dan orang sholeh dari kalangan anak-anak mereka. Jadi pembentukan rumah tangga dimulai dari pendidikan ke sholehan. Apa itu sholeh? Benar. Apa itu benar? Bagaimana amal kita itu setidaknya dengan dua kriteria. Satu, ikhlas hanya ingin mendapatkan ridho Alloh. Kedua, karena mencontoh Rasulullah SAW. Tapi sayang, pergeseran akan nilai sosial global saat ini telah merubah pola kehidupan rumah tangga. Khususnya yang tinggal di daerah perkotaan.

Kegagalan rumah tangga bila mengukur kesejahteraan semata-mata karena ekonomi. Banyak bapak-bapak yang cara berpikirnya bahwa dia tugasnya mencari uang. Jadi benar-benar hanya uang yang ada dipikirannya. Dia sebagai ayah sudah merasa sukses bila sudah kasih uang kepada istri dan anaknya. Sehingga tidak sedikit Ayah perannya hanya sebagai ATM saja. Dikunjungi oleh anak kalau butuh uang. Lebih dari itu, tidak. Bahkan banyak dari para Ayah yang sudah kehilangan anaknya. Tidak lagi seperti Nabi Yakub yang dibanggakan oleh anaknya.

“Anak-anakku, setelah kematian Ayah nanti, apakah yang kalian sembah?”. Itu kurikulum Ayah. Jadi bila anak pulang sekolah dan menjelaskan bahwa raportnya bagus maka respon Ayah bukan “oh ini baru anak Ayah. Ini anak pak guru”. Karena yang membuat raport anak-anak adalah pak guru.

Bila ingin menjadi Ayah yang sukses ada 3 kriteria. Pertama, mendidik anaknya bertauhid. Kedua, membentengi anaknya dari kemusyirikan. Ketiga, mendisiplinkan anak untuk terikat pada syariat Alloh SWT.

Kata Yusuf “Ayah, selepas kematian Ayah, kami akan sembah Tuhan Ayah. Kami akan menyembah Tuhan kakek Ibrahim, Tuhan kakek Ismail, Tuhan kakek Ishak”. Betapa bangganya anak-anak Yakub kepada Ayahnya dan kepada keturunan Ayahnya. Namun, betapa banyak Ayah yang tidak disukai oleh anaknya, dan anak tidak bangga lagi dengan keturunan Ayahnya, bahkan anak tidak percaya diri kalau disebut sebagai anak Bapaknya. Bahkan sudah banyak Ayah yang tekanan batin karena tidak bisa lagi memilihkan jodoh untuk anaknya karena sudah membiarkan arus demokrasi masuk ke dalam rumah. Jangan jadi Ayah yang gagal.

Setelah ditanamkan tauhid dan bangga kepada keturunan Ayahnya, lalu apa kata putra Nabi Yakub? “kami tidak akan menyembah selain Tuhan Alloh”. Betapa banyak pelajaran musyrik di sekolah saat ini. Bahkan menyudutkan sejarah Islam. Orang-orang Islam sudah kehilangan sejarah Islam nya sendiri di Indonesia. Misalnya coba periksa buku sejarah anak-anak sekarang termasuk sekolah Muhammadiyah. Masihkah Cut Nyak Dien menggunakan konde? Padahal beliau sangat syar’i hijabnya dan kelihatan marahnya ketika pemerintah Belanda menarik hijabnya sehingga beliau kelihatan rambutnya. Kok tega-teganya Cut Nyak Dien di pelajaran sekolah sampai sekarang fotonya masih menggunakan konde. Yang lebih tidak jelas lagi, kesultanan Islam yang membuat adanya Nusantara bukan gajahmada. Ada yang tahu foto asli orang yang bernama gajahmada?

Kalau nanti raport anak jelek, biasanya Ayah akan mengatakan demikian “inilah mama. Pendidikan mama yang rusak dirumah”. kenapa? Kan ibu sekolahan. Kalau anaknya rusak, berarti siapa penyebabnya? Ibunya kah? Bukan. Penyebabnya adalah kalau Ibu adalah sekolah maka kepala sekolahnya tidak hadir di rumah yaitu Ayah yang berfungsi sebagai ATM saja.

Banyak wanita menyebabkan perceraian. Yang menyebabkan perceraian bukan lagi laki-laki. Tahun 2014, perceraian di Indonesia sebanyak 10 %. Dari 100 yang menikah, 10 bercerai. Tahun 2015 meningkat 4 %. Dari 100 yang menikah menjadi 14 bercerai. Penyebab perceraian bukan suami yang mentalak istrinya tapi istri yang minta dilepas dari suaminya. Ada dua kemungkinan, suaminya gagal menjadi imam. Atau si istri yang memang sudah ingin bebas di luar rumah tidak mau ada lagi ikatan suami istri.

Para Ibu boleh bekerja, boleh berkarir, boleh memimpin diluar, asalkan tanggungjawab utama sebagai seorang istri, sebagai seorang Ibu bagi anak-anaknya, itulah peran utama para wanita yang telah menikah. Disitulah sebenarnya pembangunan bangsa dimulai. Sebab satuan terkecil dari sebuah bangsa adalah rumah tangga. Kalau rumah tangga nya sudah rusak, maka rusaklah semuanya.

Ada ayat yang menggambarkan kenapa bisa masuk neraka sekeluarga. Itu karena dia menciptakan kesenangan terus menerus di dalam rumahnya bersama kaumnya. Kesenangan yang bukan dijadikan aturan-aturan Rasul sebagai aturan di rumah tangga.

Seorang anak sudah mandiri bukan karena sudah punya gaji sendiri. Bukan itu ukurannya. Anak kita itu mandiri kalau sudah bisa bangun subuh sendiri dan pergi ke Masjid. Anak kita mandiri kalau sudah bisa tahajud sendiri tanpa dibangunkan. Itu tandanya anak sudah mandiri. Dan in shaa alloh ekonominya akan dijamin oleh Alloh SWT. Bukan uang ukurannya. Bukan materi ukurannya.

Ada seorang anak yang bangga sekali dengan ibu nya. Karena setiap kali dibangunkan Subuh oleh Ibunya, Ibunya sudah dalam keadaan memakai mukena. Dan ketika dia menuju kamar mandi, dia melihat diatas sajadah ibunya sudah ada tasbih dan Al Qur’an. Itu artinya ibu nya sudah shalat malam, dan sudah membaca Al Qur’an. Itu yang tidak pernah bisa dilupakan oleh anaknya. Kenapa? Betapa disiplinnya ibu nya pada syariat Alloh. Betapa taatnya Ibunya pada syariat Alloh. Sementara dia yang masih muda dan kuat padahal Ibunya sudah tua dan renta bisa disiplin dengan hukum Alloh. Kenapa dia yang muda tidak bisa demikian.

Ketika Abu Bakar tidak bisa pergi ke Kabah, Abu Bakar kemudian mengaji di rumah dan shalat dirumah. Akhiranya datanglah orang-orang beribadah bersama Abu Bakar dirumahnya dan menuntut ilmu di rumah Abu Bakar dengan mengkaji Al Qur’an. Artinya apa? Rumah itu harusnya menjadi rumah ibadah.

Semoga para laki-laki bisa menjadi Ayah yang amanah, yang menjaga tauhid anaknya, melindungi anaknya dari kemusyrikan, mendisiplinkan anaknya kepada Al Qur’an, kepada shaum. Jadilah teladan shalat bagi anak-anak. Separuh kesalahan anak adalah kesalahan orangtua.

Sumber: Ust. Bachtiar Nasir. Kokohkan Keluarga agar Masuk Surga Sekeluarga.

loading...
Share

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*