Libatkan Perguruan Tinggi dalam Perbaikan JKN

dr. Budiono Santoso, MSc, PhD menjadi salah satu orang yang hebat di mata saya. Sosok Bapak yang bersahaja dan cerdas walaupun saya belum pernah bertemu dengan beliau. Beliau menceritakan tentang bagaimana China melibatkan perguruan tinggi dalam kebijakan Universal Health Coverage (UHC). Dari sinilah bisa dilihat bahwa China percaya akan kualitas ilmu yang ada di perguruan tinggi.

Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China. Kalimat tersebut membekas di relung hati saya. Karena itulah China menjadi salah satu Negara yang ingin saya kunjungi. Sampai saya mengikuti les bahasa mandarin. Saya penasaran dengan Negeri ini. Pasti ada alasan kenapa China menjadi tempat yang dipilih untuk menuntut ilmu. Kenapa tidak Amerika, Jerman, Malaysia, Arab atau yang lain. Mungkin inilah maksud pepatah tersebut bila dikaitkan dengan yang disampaikan dr. Budiono Santoso, MSc., PhD

Pak Budiono menjelaskan pada waktu China memulai UHC, mereka mempublishers 15 Universitas terkemuka di China yang didukung oleh lembaga-lembaga Internasional untuk mengadakan penelitian dan uji coba. Ada 300 proyek ujicoba di china sebelum UHC policy. Investasi mereka besar-besaran. Dan sampai sekarang masih memiliki peran untuk selalu memonitor dampak UHC termasuk negosiasi antara pemerintah dengan rumah sakit yang jauh lebih kompleks dan jauh lebih rumit dari yang Indonesia hadapi. Tetap perlu peran lembaga penelitian, lembaga independen untuk mengadakan dampak evaluasi. Monitoring, rekomendasi, inovasi dan intervensi.

budiono
dr. Budiono Santoso, MSc, PhD (Sumber : PKMK FK UGM)

Prof Laksono menambahkan, INACBGs Thailand yang mengembangan adalah perguruan tinggi. Jadi bukan sebuah lembaga seperti kemenkes. Kemenkes lebih sebagai policy maker dan user. Kalau di Thailand, yang mengembangkan NCC nya adalah perguruan tinggi. Tapi masalahnya di kita, di INACBGs, Perguruan tinggi tidak dianggap. Saat itu, UGM riset dengan Askes tapi dilarang yaitu salah satu komisaris Askes melarang untuk UGM membuat INACBGs karena sudah diurus oleh Kemenkes. Jadi suasananya tidak ada trust antara pemerintah dengan perguruan tinggi pada waktu itu (5 atau 6 tahun lalu).

Dari buku yang saya baca berjudul Getting Health Reform Right : A Guide to Improving Performance and equity bab 2, kita bisa belajar bahwa walaupun ada perbedaan antara negara satu dengan negara lain, acuan internasional dapat menjadi titik awal yang berguna dalam pembahasan masalah kinerja. Untuk negara kita yang baru menjadi Sang pembaharu, dapat dilakukan dengan menilik kasus-kasus yang terjadi di pelayanan kesehatan negara lain. Kemudian mengambil hal-hal yang dapat dipelajari dari kasus-kasus tersebut dan memberikan beberapa penyesuaian untuk negara kita.

loading...
Share

1 Trackback / Pingback

  1. [BLOCKED BY STBV] Libatkanlah Perguruan Tinggi untuk Perbaikan JKN | Laskar Mutu Kesehatan Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*