Personal Branding di Era Digital

Personal Branding di Era Digital

“Jika kamu mendengar nama NASIATUL AISYAH SALIM, apa yang terlintas dipikiranmu ?” Pertanyaan tersebut bisa kamu tanyakan ke teman-teman yang kamu kenal. Untuk apa? Untuk mengetahui personal brandingmu seperti apa. Pertanyaan ini juga cocok untuk kamu para entrepreneur yang memiliki usaha.

Hari Senin kemarin (2 April 2018), saya mengikuti seminar singkat selama 2 jam yang berjudul Personal Branding di Era Digital. Acara ini diselenggarakan di Taman Budaya Yogyakarta. Tempat yang terletak di belakang taman pintar. Jujur, ini pertama kali saya menginjakkan kaki ke taman budaya. Dan saya takjub. Tempat acara seperti di bioskop XXI Amplas. Nyaman dan saya suka. Bisa jadi rekomendasi buat kamu yang mau buat acara non formal.

Acara ini dimulai pukul 09.30 WIB diawali dengan menyajikan tari jaipong dari mahasiswa UNY. Kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan peserta seminar diminta berdiri. Agak aneh saat menyanyikan lagu Indonesia Raya karena kami diminta mengikuti lirik yang tersaji di layar. Dan lirik lagu Indonesia Raya jadi lebih panjang dan saya tak familiar dengan lirik ini.

Pembicara seminar adalah pak Husin Wijaya. Beliau asli orang China. Diawal pembicaraan, beliau mengatakan bahwa peta ekonomi saat ini cukup tinggi. Bila dilihat dari digital, uang banyak beredar di Amerika dan China. Company yang terkenal di China saat ini adalah Alibaba yang mana asli produk dari China. Di China, FB dan twitter tidak diperbolehkan. Dari sini kita bisa belajar bahwa Negara China benar-benar konsen dengan produk dalam negeri. Jadi inget dengan bupati kulon progo yang tidak mengijinkan air mineral dari produk lain ada di kulon progo. Jadi di Kulon progo, air mineral yang digunakan adalah Airku (air buatan asli dari PDAM kulon progo).

Era digital membuat orang jadi mager (malas gerak). Contoh untuk pesan makanan sekarang cukup dengan minta gojek. Sehingga era digital membuat semua orang ingin berpartisipasi. Dan tantangannya adalah apakah kamu memiliki skill di era digital ? 

Personal branding bisa didapat dari jalur baik dan jalur jelek. Contoh personal branding baik yang dipaparkan Pak Husin adalah bu Susi Pudjiastuti (Menteri Kelautan dan Perikanan), Merry Riana (motivator) dan Dr. Ponijan Liaw (Komunikator no 1 di Indonesia). Lalu contoh personal branding jalur jelek siapa ?? Tebak sendiri aja ya.

Yang paling penting dari personal branding adalah keunikan dan different. Sehingga bisa dibedakan dengan yang lain dibidang yang sama. Kita pasti akan ingat teman mana yang paling nakal, teman yang pintar, dosen yang killer. inilah salah satu contoh personal branding yang berhasil. Jadi tergantung diri kita ingin memiliki personal branding yang baik atau buruk.

Jadi personal branding adalah sebuah ide yang kuat, jelas dan positif yang datang ke dalam benak pikiran setiap kali orang lain memikirkan tentang Anda. Hal tersebut merupakan sebuah nilai, kemampuan dan tindakan yang orang lain hubungkan dengan diri Anda.

Brand harus memiliki segmentasi dan target. Segmentasi yaitu proses membagi berbagai jenis follower menjadi segmen-segmen yang lebih kecil berdasarkan karakteristik serupa. Sedangkan target adalah menentukan segmen mana yang memungkinkan untuk dilayani dengan sumber daya yang Anda miliki.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menetapkan sasaran audiens adalah

  1. Size (seberapa besar ukuran masing-masing segmen follower)
  2. Growth (seberapa besar pertumbuhan masing-masing segmen follower)
  3. Competitive Advantage (seberapa unggul Anda terhadap sejumlah kompetitor di setiap segmen follower)
  4. Competitive Situation (seberapa ketat kompetisi di setiap segmen follower)

Diakhir seminar, Pak Husin Wijaya mengatakan bahwa personal branding harus tahu apa yang dijual dan jangan berbohong.

loading...
Share

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*