Cita-cita Jadi Polwan Berubah Menjadi Perawat

Cita-cita Jadi Polwan Berubah Menjadi Perawat

Dulu saat saya masih menjadi siswi di SD, SMP, dan SMA, setiap kali di sekolah, di rumah, dan di manapun saya berada, kalau ditanya tentang impian – impian, saya selalu bilang saya ingin menjadi polwan. Bagi saya polwan adalah seorang manusia yang bagaikan kesatria yang mampu menegakkan keadilan dan membantu memberantas kejahatan. Di samping itu polwan adalah seorang yang bertugas mengayomi masyarakat dengan baik hati, sopan santun dan tidak sombong. Namun, bola itu bulat, impian yang saya idam – idamkan ternyata tidak tercapai dan kenyataannya kini saya kuliah di keperawatan.

Sebenernya saya tidak begitu suka dengan ilmu keperawatan. Tapi keadaan berkata lain, saya harus menekuni ilmu keperawatan karena beberapa faktor yang saya alami sebelum saya masuk kuliah di jurusan keperawatan. Banyak orang yang bertanya – tanya, kenapa saya memilih keperawatan? Dan kenapa tidak memilih TNI yang dekat dengan pendidikan TNI yang ada di sebelah desa saya ?

Saya diminta keluarga saya untuk melanjutkan belajar kembali di sebuah perguruan tinggi. Tapi saya masih binggung harus memilih jurusan apa? Sebelum masuk di perguruan tinggi, saya merasakan gimana atmosfir bekerja di suatu toko. Saya merasakan suka dan dukanya mencari uang sendiri dan ikut orang lain. Kadang senang, kadang susah dan kadang sebal. itu yang saya rasakan ketika saya bekerja di toko. Selain itu gaji yang diperoleh tidak sesuai yang saya harapkan, nah dari itu saya terima tawaran itu. Pilihan saya memilih kuliah di jurusan keperawatan ini muncul pada saat saya bekerja. Saya berangan – angan jika saya tidak ada perubahan dalam hidup saya maka saya selamanya akan ikut orang lain, karena yang dapat merubah diri kita hanya diri kita sendiri. Maka dari itu saya mengambil keputusan untuk melanjutkan pendidikan tingkat tinggi saya.

Selain itu saya memilih manjadi seorang perawat karena suatu hari, jika ayah saya sakit dan saya sebagai anak harus merawat ayah saya. Tetapi saya tidak paham masalah dunia kesehatan. Mungkin ayah sakit karena makanan yang terlalu pedas dan kecapekan karena ayah masih beraktifitas kesehariaan. Ayah saya memang orang yang susah untuk berdiam diri di rumah. Setiap hari pasti ada kegiatan yang dilakukan pada saat pulang kerja dan pada saat libur kerja. Ayah saya memiliki dua anak laki-laki dan dua perempuan yang belum menikah semua. Pada saat itu ayah telah berusia 48 tahun. Beberapa hari ayah sakit, badannya lemah karena susah makan. Akhirnya semua anak – anaknya memutuskan untuk memeriksakan ayah ke Rumah Sakit. Di sana ayah saya ditangani oleh perawat yang kinerjanya sangat professional untuk menolong orang sakit dan langsung mengambil tindakan untuk melakukan pemeriksan kepada ayah saya dan memberikan gambaran penyakit tentang bagaimana cara mencegah terjadinya penyakit kepada kami. Hal tersebut membuatku terhentak dan terbesit keinginan untuk menjadi perawat karena tugasnya yang sangat mulia membantu orang sakit dan bahkan dapat menolong nyawa orang lain.

Dari kejadian itu saya minat menjadi seorang perawat selain masalah sakit ayah saya, saya tertarik menjadi perawat karena pernah mengikuti penyuluhan tentang bahaya penyakit DBD oleh petugas puskesmas. Bahaya DBD yang dapat mengakibatkan demam berkepanjangan dan bahkan juga dapat mengakibatkan kematian. Selain penyuluhan bahaya DBD, juga memberi cara pencegahan tanda dan gejala DBD. DBD bisa meregut nyawa orang banyak yang diakibatkan oleh faktor gigitan nyamuk. Saya lebih tertarik untuk menjadi perawat yang professional, karena merasa tertarik belajar ilmu keperawatan untuk menjaga kesehatan anggota keluarga dari bahaya penyakit.

Kejadian selanjutnya yang membuat saya semakin kuat ingin menjadi seorang perawat yaitu saat saya tahu bahwa ibu saya mengidap penyakit asam urat. Mungkin bagi sebagian orang asam urat itu bukan penyakit yang parah. Namun bagi saya asam urat itu merupakan penyakit yang menggangu aktifitas keseharian ibu saya. Pasalnya kebanyakan orang berkata bahwa penyakit asam urat itu biasanya di derita orang yang sering mengkonsumi makanan kacang – kacangan, dan ibu saya sering merasakan di kaki – kakinya kesemutan, linu-linu, pegal – pegal. Kejadian – kejadian ini membuat saya tidak tega melihat ibu yang saya sayangi menderita penyakit asam urat, apa lagi usia ibu yang sudah mulai tua perlu pengawasan dari saya, dan mengingatkan makan – makanan yang boleh di konsumi  dan tidak boleh di konsumi oleh ibuk. Suatu hari asam urat ibu saya kambuh, saya membawa nya ke pratek dokter untuk cek asam urat untuk mengetahui hasilny. Pada saat menunggu ibu dikursi, di samping saya ada seorang bapak – bapak memberikan informasi tentang bagaimana cara pengobatan asam urat secara alami, cara nya dengan merebus 7 lembar daun sirsak dan meninumnya secara rutin, itu akan mengurangi rasa pegal – pegal di kaki. Dan sementara tim medis baik dokter dan perawat memberikan obat, dan pada saat itu saya mulai kebingungan saran mana yang harus saya ambil dengan tepat, akhirnya saya mengambil keputusan untuk melakukan kedua – duanya, saya memberikan obat kepada ibuk secara alami dan secara medis, melihat perkembangan penyakit asam urat ibuk saya sudah mulai berkurang setelah ibuk rutin mengkonsumi obat secara alami dan secara medis bahwa ilmu keperawatan tidak sulit di pelajari,nah dari itu saya semakin mantap memilih jadi perawat, apalagi orang tua yang telah merestui dan mendukung saya untuk mengejar impian saya ini. Karena dukungan kedua orang tua dan keluarga sangat penting untuk tercapainya impian yang saya inginkan, namun awalnya jadi perawat bukan favorit saya. Jadi bertambahlah keinginan saya untuk menggapai impian saya menjadi perawat professional yang mampu menjaga kesehatan anggota keluarga saya nantinya dan mampu membanggakan kedua orang tua saya nantinya.

Sumber : Nopa Lustiyawati. Mahasiswa STIKES Wira Husada Yogyakarta

loading...
Share

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*