Mendidik Manusia Utama

Mendidik Manusia Utama
Mendidik Manusia Utama

Menurut paideia (pendidikan) sebagaimana diuraikan Platon dalam The Republic, untuk memunculkan seorang pemimpin yang bisa memperbarui masyarakatnya, ada dua hal mendasar yang diandalkan. Pertama adalah bakat alamiah. Untuk pendidikan kader, perlu dicari anak-anak yang dari sana-nya memiliki bakat-bakat yang dibutuhkan supaya nantinya ia menjadi pemimpin. Namun, bakat besar saja tidak cukup. Dibutuhkan hal kedua, yaitu lingkungan dan pendidikan yang baik, sehingga bakat besar ini akan terdidik dengan baik (dan hasratnya terarah menuju kebaikan). Ada kaitan erat antara bakat alamiah dan pendidikan yang tepat bagi bakat seperti itu. Jika orang berbakat besar tetapi salah didik, kerusakan yang ditimbulkan akan dahsyat. Sebaliknya, orang yang bakatnya setengah-setengah saja, kebaikan yang ia hasilkan juga suam-suam kuku, dan kalaupun menjadi penjahat, efeknya tidak akan parah.

Menurut platon, hanya para “filsuf alamiah”, anak-anak yang secara kodratiah (physis) memiliki kecenderungan-kecenderungan yang cocok untuk menjadi filsuf, yang bisa dididik menjadi para filsuf raja dan ratu. Anak-anak seperti inilah yang bisa menjadi filsuf dan pemimpin Negara. Bagaimana ciri-ciri para “filsuf alamiah” ini ? Politeia membeberkan sifat-sifat khas, bakat-bakat yang harus ditemukan pada anak-anak ini : hasrat yang besar akan kebenaran. Anak seperti ini juga cenderung benci pada apa saja yang palsu dan munafik, jijik dengan segala bentuk ketidakadilan dan kejahatan. Ciri lainnya adalah adanya semacam insting untuk beranggapan bahwa kepuasan hidup tidak ditemukan pada hal-hal indriawi dan material, semacam kecenderungan untuk merelatifkan yang duniawi. Dan akhirnya, dalam diri anak ini harus ditemukan disposisi intelektual yang cukup: ia mudah belajar, tangkas dan tanggap, serta memiliki daya ingat yang baik. Apabila anak-anak yang secara alamiah memiliki bakat filsuf ini dididik secara benar, diarahkan hasratnya dengan benar, bisa diharapkan mereka akan menjadi pemimpin yang bertanggung jawab, menjadi manusia yang tahu ukuran/batas).

Bagaimana mendidik jiwa agar ia menghasrati apa-apa yang baik ? Hidup sukses, optimal , berkeutamaan artinya memang hidup mengikuti rasio, hidup rasional. Namun, bagaimana ajaran itu menjadi sesuatu yang menarik untuk dipilih ? Bagaimana hidup rasional bisa dihasrati ? Dan persis, dalam soal tegangan antara rasio dan hasrat ini, platon tidak melupakan eros. Platon sadar bahwa rasio bukan satu-satunya factor yang menyatukan jiwa manusia. Eros (hasrat) juga mampu mengutuhkan atau menghancurkan manusia. Itulah sebabnya, pencapaian kesuksesan hidup bukan hanya soal rasio, melainkan juga soal pendisiplinan eros. Orang sering melupakan hal sederhana ini. Ajaran-ajaran tentang hidup baik atau hidup berkeutamaan akan sia-sia jika hanya dihafalkan sebagai pengetahuan rasio belaka. Masalah terbesar dalam pendidikan adalah bagaimana hal-hal baik  tidak hanya “dimengerti”, tetapi juga “dihasrati” oleh anak didik.

Platon dalam politeia mengusulkan sebuah program pendidikan bagaimana para “filsuf alamiah” bisa dididik menjadi utama dan nantinya layak menjadi pemimpin-pemimpin yang sukses. Yang paling penting dalam program ini adalah pendidikan hasrat (eros). Orang mesti dibimbing menghasrati keindahan. Dimulai dari hal-hal indriawi yang indah serta menarik hati, anak diajak meningkatkan hasrat dan apresiasi keindahan ke hal-hal yang intelligible, ke pengetahuan tentang hal-hal yang pasti dan indah.

Program pendidikan tentu saja memberikan berbagai macam ilmu. Tetapi, lebih daripada sekadar informative, pendidikan bertujuan formatif mengarahkan hasrat (eros) anak didik. Pengetahuan rasional dan canggih tentang kebaikan tidak akan berdampak apa pun kalau manusianya tidak menghasratinya. Kebenaran dan kebaikan akan dipilih dan dihasrati apabila manusia terdidik dan dibentuk untuk menghargai dan mengapresiasinya. Kita bisa mengambil contoh bahasa inggris. Ilmu ini akan menjadi kebaikan tertinggi bagi Indonesia di masa depan apabila sejak kecil bayi-bayi Indonesia sudah diajari untuk speak in English dan mengapresiasinya. Jika nanti orang Indonesia tidak peduli pada kultur Indonesia, itu karena sejak kecil hasratnya sudah dibentuk untuk mengagumi dan memilih kultur Inggris sebagai kebaikan tertinggi. Akan menjadi cerita lain kalau bahasa inggris diajarkan ketika anak sudah cukup besar dan sudah terbentuk jati dirinya sebagai manusia Indonesia. Apabila demikian, orang Indonesia tidak akan menjadi asing di tanahnya sendiri, dan ia tetap bisa menjadi insan terbuka yang mampu menguasai bahasa-bahasa pergaulan internasional (bukan hanya Inggris) tanpa jatuh secara naïf menganggapnya sebagai kebaikan tertinggi. Masyarakat Perancis dan Jerman juga tidak pernah tergopoh-gopoh mendidik bayi-bayi mereka untuk berbahasa Inggris. Mereka mengikuti akal sehat bahwa bagaimanapun anak-anak mesti berbahasa Perancis atau Jerman dulu supaya tahu bahwa itulah identitas mereka sebelum nantinya bahasa dan kultur lain.

Tanpa dibekali pengetahuan psikologi modern seperti zaman kita, Platon menekankan pentingnya pendidikan pada taraf dini untuk melatih emosi dan hasrat yang tepat. Bila hasrat anak ditata dan diarahkan pada apa-apa yang benar dan indah, ketika dewasa, ia dengan mudah akan memilih secara efektif dan afektif apa-apa yang secara intelektual ia persepsi sebagai kebenaran dan keindahan. Pendidikan tidak pernah diartikan sekadar sebagai transfer pengetahuan. Bagi Platon, mendidik anak-anak berarti membudayakan dan memperadabkan anak didik.

Anak-anak mesti dilatih untuk bisa merasakan kenikmatan pada apa-apa yang indah, dilatih untuk mencintai apa-apa yang baik serta jijik dan membenci apa-apa yang buruk dan jelek. Jika pendidikan hasrat berjalan baik, anak akan memiliki orientasi hasrat yang jelas. Saat bertumbuh besar dan belajar menggunakan pikirannya, ia akan mengikuti apa-apa yang rasional secara lebih terbuka. Apa yang menjadi perkataan rasio secara lebih terbuka. Apa yang menjadi perkataan rasio secara otomatis akan didukung oleh penghasratannya yang sudah tertata baik. Lewat pembentukan sensibilitas, hasrat anak-anak diarahkan untuk mencintai apa-apa yang indah dan teratur. Jika ini sudah terbentuk, kurikulum pendidikan ilmu-ilmu matematis serta ilmu dialektis (seni berdialog) hanya akan menambahi bekal untuk orientasi hasrat yang sudah terbentuk tadi.

Sumber : Suratmin & Didi Kwartanada. 2018. Biografi A.R Baswedan. Jakarta: PT Kompas Indonesia

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*