Menurunnya Jumlah Penelitian di Fakultas Kedokteran

fakultas kedokteran

Perguruan Tinggi (PT) merupakan lembaga yang memiliki peran penting bagi pemerintahan di Dunia. Di China, untuk memulai Universal Health Coverage (UHC), pemerintah mempublishers 15 Universitas terkemuka di China yang didukung oleh lembaga-lembaga Internasional untuk mengadakan penelitian dan uji coba. Ada 300 proyek ujicoba di China sebelum UHC policy. Dan sampai sekarang masih memiliki peran untuk selalu memonitor dampak UHC. Sedangkan di Thailand, INACBGs & NCC Thailand dikembangkan oleh perguruan tinggi. Pemerintah Thailand lebih sebagai policy maker dan user. Lalu bagaimana dengan penelitian yang dilakukan Perguruan Tinggi di Indonesia?

Terjadi gejala penurunan jumlah penelitian di salah satu fakultas kedokteran di Indonesia. Setiap tahun mengalami penurunan dari tahun 1998. Tentu hal ini bukan hal yang baik mengingat perguruan tinggi harus melaksanakan tridharma (pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat). Menurut beberapa sumber, faktor-faktor yang menyebabkan menurunnya jumlah penelitian di fakultas kedokteran antara lain :

  1. Dosen yang sebagian besar adalah klinisi maka fokus utamanya selain mengajar adalah melakukan pelayanan klinis,
  2. Mendahulukan kegiatan-kegiatan yang menghasilkan uang lebih cepat dan lebih mudah seperti mengajar dan terlibat proyek,
  3. Meningkatnya beban mengajar sehingga kesempatan untuk melakukan penelitian menjadi lebih terbatas,
  4. Pendana pemerintah terlalu rumit persyaratannya dan relatif kecil dananya,
  5. Laporan penelitian yang didanai pendana besar (AusAID, USAID, dll) belum tentu memperbolehkan dipublikasikan,
  6. Persyaratan naik pangkat/golongan terlalu ringan yaitu tidak membutuhkan banyak penelitian mandiri,
  7. Pengawasan kurang ketat (banyak plagiarisme, copy-paste nama/isi)

Tujuan akhir suatu penelitian adalah penelitian dapat digunakan oleh pengambil kebijakan. Harapannya hasil penelitian dapat memperbaiki kebijakan yang ada sehingga memberikan manfaat yang lebih besar untuk masyarakat. Namun penelitian cenderung lebih banyak memberi manfaat bagi peneliti dan lembaga penelitian untuk naik pangkat ataupun mendapat penghasilan dari penelitiannya.

Selain itu, peneliti cenderung terkotak dan menjadikan publikasi di jurnal internasional sebagai target penting dalam penelitian. Seringkali sebagai peneliti, kelompok peneliti belum menempatkan masyarakat dan praktisi program kesehatan sebagai mitra utama. Agenda penelitian masih banyak yang diarahkan oleh kepentingan donor atau tidak diangkat oleh mereka yang ada di lapangan dan masyarakat yang merasakan di titik hilir, keberhasilan (atau kegagalan) sistem kesehatan tersebut. Sehingga, Siapa sebenarnya yang mendapatkan manfaat dari publikasi-publikasi ini? Apakah publikasi ini dibaca oleh para pengambil kebijakan? Apakah publikasi tersebut memberikan perubahan terhadap implementasi kebijakan dan membantu perbaikan sistem kesehatan? Mungkin ini saatnya untuk mempertimbangkan cara-cara komunikasi lain yang lebih efektif, yang lebih mengarah pada solusi praktis yang dapat digunakan bersama dengan masyarakat, manajer kesehatan, dan pengambil kebijakan di level lokal serta nasional, dan bahkan global diantaranya :

  1. Film Dokumenter. Film dokumenter merupakan cara strategi komunikasi yang sangat baik untuk dipakai dalam menyampaikan hasil suatu program kesehatan atau penelitian pada pengambil kebijakan. Agar efektif maka film harus dibuat pendek dan jelas siapa audiens yang ditarget dari film yang dibuat. Namun demikian, tantanganya adalah soal etika, terutama dampak-dampak karena memuat gambar pasien/masyarakat dengan nama. Oleh karena itu, persetujuan dari para narasumber dan pasien/masyarakat yang dilibatkan harus ada. Selain itu, perlu adanya surat persetujuan etik (ethical clearance) atas film yang dibuat.
  2. Jejaring di Kalangan Politik. Tanpa dukungan politik maka penelitian-penelitian tidak akan dapat ditranslasikan menjadi kebijakan yang diharapkan dapat membuat perubahan nyata di lapangan.
  3. Jejaring ke Masyarakat. Perlunya menyediakan ruang tambahan agar masyarakat bisa terlibat lebih banyak.
  4. Pusat Kajian. Adanya unit-unit atau pusat kajian yang memiliki tenaga-tenaga peneliti bukan dosen yang tidak perlu dibebani kewajiban mengajar menjadi salah satu cara yang efektif dilakukan.
loading...
Share

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*