Mengatasi Inner Child Penghambat Gagal Menikah

Mengatasi Inner Child Penghambat Gagal Menikah
Mengatasi Inner Child Penghambat Gagal Menikah

Pernah nggak ketemu orang, tapi setiap ketemu dia hati koq nggak nyaman? Kalau ngobrol biasanya dia nggak mau natap ? Pokoknya seperti ada yang janggal. Atau sebaliknya, coba sebutkan satu nama yang pernah buat kamu kecewa, atau marah. Coba sekarang bayangkan lagi wajahnya ? Masih ada nggak emosi negatif tentang orang itu ?

Yang bahaya adalah bisa jadi orang itu adalah orang terdekat dari dirimu. Orang yang seharusnya kita sayangi, kita cintai, tapi ga sedikit yang punya perasaan benci dan luka batin dengan orang ini. Saya teringat saat coaching di suatu kota beberapa bulan yang lalu, ada seorang akhwat yang benci, marah sama ibunya sendiri. Karena sang ibu over protektif. Segala diatur, sampai anaknya lemah, dan seperti bukan manusia yang punya kebebasan memilih.

Pernah juga seorang anak lelaki yang jadi nggak pede nikah karena pernah melihat orang tuanya selingkuh saat masih kecil. Dulu ia bingung harus seperti apa, namun luka pengasuhan itu berdampak saat ia sudah dewasa. Ia jadi ragu untuk menikah.

Itulah kenapa untuk memahami akar penyebab seseorang melakukan sesuatu ga bisa diukur dari motif dia hari ini saja. Misalnya, wanita yang terlalu banyak menolak pria yang mau menikahinya. Cek dulu, bisa jadi ia punya stigma negatif terhadap pria karena ayahnya dulu selingkuh, misalnya. Atau ia pernah disakiti oleh pacarnya.

Itulah kenapa, dalam ilmu parenting dikenal bahwa anak yang dekat dan lekat dengan kedua orang tuanya kemungkinan besar tidak akan melakukan kenakalan remaja, seperti kebanyakan remaja lainnya. Sebaliknya, anak yang kurang sentuhan dan pelukan, kurang kasih sayang dan perhatian biasanya mencari pelampiasan dengan mencari sosok lelaki lain di luar kedua orang tuanya.

Seorang wanita yang punya pacar, biasanya karena ia butuh seseorang yang bisa mendengarkan, bisa mengisi kekosongan jiwanya. Sayangnya, penyalurannya yang kurang tepat. Bahkan, ga jarang dimanfaatkan oleh lelaki yang tahu kerapuhannya. Akibatnya ? Banyak yang makin benci dan ga percaya dengan lelaki.

Kasus lain, seorang anak lelaki yang sering melihat ayahnya zalim kepada ibunya. Misalnya KDRT, ga memberi nafkah, kalau ia tidak mengambil hikmah positif bisa berakibat di kemudian hari ia jadi suami tempramen dan ga menafkahi juga. Sebaliknya kalau dia bisa berdamai dengan masa lalu, mengambil hikmah justru ia bisa jadi suami yang sangat bertanggung jawab.

Maka kesimpulan penting buat sahabat semua:

  1. Jadilah calon orang tua yang baik, dimulai dari memperbaiki diri dan memilih pasangan yang baik. Karena yang Anda pikirkan bukan hanya seorang yang bisa jadi partner sehidup sesurga, tapi juga bisa mencetak generasi ahli surga.
  2. Berdamailah dengan masa lalu. Ingat quote ini “orang biasa membicarakan masalah, orang gagal membicarakan masa lalu, orang sukses membicarakan masa depan”. Kalau anda lahir dari orang tua yang miskin atau kurang menyayangi, itu bukan salah anda. Namun, jika anda kelak meninggalkan generasi lemah itu salah Anda. Karena yang pertama takdir, yang kedua nasib yang bisa diubah”. Jadilah pahlawan, putus mata rantai kebodohan, kepesimisan dan lingkaran syaitan lainnya. Jangan hidup karena dendam seperti Joker, itu hanya akan menghabisi diri kita cepat atau lambat.
  3. Perbanyak syukur. Seringkali kita terlalu fokus dengan masalah, sampai lupa mensyukuri jutaan nikmat Allah yang telah diberi. Kita sibuk meratapi orang tua yang belum dapat hidayah misalnya tapi lupa bahwa nikmat hidayah yang Allah titipkan pada diri juga harus disyukuri. Kita kadang iri sama temen yang sudah nikah, bahkan sudah unya anak. Kita lupa bahwa diluaran sana, ada teman atau saudara yang bahkan menjelang pernikahannya Alloh cabut nyawanya. Maka, kalau mau banyak syukur coba lihat orang yang ada di bawah kita. Ada yang nggak punya tangan atau kaki, ada yang dari kecil sudah yatim piatu. Bahkan ada suatu quote “hidup yang kamu tangisi adalah hidup yang banyak orang diluaran sana inginkan. Maka, bersyukurlah”.
  4. Bergaullah dengan komunitas dan orang yang berkalibrasi positif. Sahabat dan komunitas positif bisa mengubah mindset dan perilaku kita. Ikut kajian, ikut seminar, baca buku, cari sahabat positif, insyaalloh bisa buat kita jadi orang yang positif.
  5. Yang merasa butuh diterapi datangi terapis (seperti hipnoterapi) atau psikolog. Seringkali kita butuh orang yang lebih paham di luar diri kita yang bisa membantu kita keluar dari perangkat psikologis penghambat menikah.

Semoga kita bisa jadi pribadi positif, berdamai dengan masa lalu dan sukses menyongsong karir dan jodoh terbaik dengan keoptimisan.

Sumber : Setia Furqon Kholid.

loading...
Share

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*