Ciri Keluarga Terbaik

Menjadi Orangtua Hebat Dunia dan Akhirat

Alloh berfirman dalam surah Al Imron ayat 33 “sesungguhnya Alloh telah memilih Adam, Nuh, Keluarga Ibrahim dan keluarga Imran melebihi segala umat (pada masa masing-masing)”. Yang menarik adalah khusus untuk Adam dan Nuh tidak mendapat gelar keluarga karena beberapa sebab. Namun bukan berarti mengabaikan peran beliau sebagai seorang ayah atau pemimpin di dalam rumah tangga mereka. Yang mendapatkan keluarga terbaik hanya Ibrahim dan Imran karena memiliki beberapa unsur. Dan al qur’an menyimpulkan, disebut keluarga terbaik jika memiliki tiga syarat dan bila memilikinya insyaalloh menjadi keluarga terbaik.

  1. Pasangan yang Sholeh dan Sholehah

Nabi Ibrahim memiliki istri yang dikenal sebagai wanita mukminah/sholehah. Istrinya disebutkan dalam surah Al Qasas dan Al Anbiya ada 4 dan yang terkenal ada 2 yaitu Sarah dan Siti Hajar. Sisanya bernama Khonturo dan Hajun binti amin. Sementara Imran memiliki istri mukmin yang bernama Hannah binti Faqudz yaitu seorang ibu yang hamil di waktu tua dan akhirnya memiliki seorang putri yang bernama Maryam. Dan ibu Maryam tidak neko-neko. Dia tidak meminta agar anaknya menjadi superstar. Sewaktu Hannah hamil, dia hanya minta satu kalimat saja “sesungguhnya aku bernazar atas apa yang ada dalam perutku menjadi hamba Alloh yang taat”. Inilah profil ibu luar biasa yang saat hamil bicaranya tidak macam-macam. Jadi dimulai dari pasangan yang baik.

Nabi Adam memiliki wanita yang baik yaitu Hawa. Untuk syarat pertama, adam memiliki ini. Namun untuk Nuh, istrinya tidak memiliki syarat pertama ini. Istri Nabi Nuh adalah wanita kafir. Jadi Nabi Nuh gagal memenuhi syarat pertama.

  1. Memiliki anak yang Sholeh/Sholehah

Nabi Ibrahim memiliki anak yang dikenal dalam Al Qur’an yaitu Ismail dan Ishak. Dari dua anak inilah muncul nabi-nabi setelahnya. Dari Nabi Ismail lahirlah baginda Rasulullah SAW di keturunan yang ke sekian (ada yang mengatakan keturunan ke 30 dan ke 24). Dari Ishak lahirlah Yakub dan juga Yusuf. Dan inilah mengapa Nabi Ibrahim disebut Bapaknya para Nabi. Sama seperti Nabi Ibrahim, Imran memiliki seorang putri mukminah yaitu Maryam. Anak Imran adalah wanita terbaik di zamannya hingga Alloh mengatakan “Sesungguhnya Alloh memilihmu wahai Maryam, mensucikanmu, memilihmu diantara seluruh wanita di alam raya ini”.

Untuk syarat kedua, Anak Adam bukan anak yang baik sebab salah satu anaknya yang bernama Qobil tercatat sebagai pelaku pertama pembunuhan di muka bumi ini. Qobil melakukan dosa besar. Artinya Nabi Adam tercabut dari syarat yang kedua makanya tidak layak disebut sebagai keluarga terbaik. Mungkin banyak yang akan memperoleh kriteria keluarga terbaik dengan dua syarat ini, karena itu muncullah syarat ketiga.

  1. Memiliki cucu dan cicit yang baik

Nabi Ibrahim memiliki cucu bernama Yakub yaitu salah satu Nabi yang menjadi Ayah hebat sebab dekat sekali dengan anaknya yaitu Yusuf. Dan Yusuf adalah cicit dari Nabi Ibrahim. Imran memiliki cucu yang juga luar biasa yaitu Isa bin Maryam yang seorang Nabi yang Mulia yang menjadi teladan dalam kesehariannya. Sehingga dalam Islam, urusan parenting bukan hanya sekedar menjadi ayah dan ibu tapi juga menjadi kakek dan nenek.

Dari Nabi Adam, kita dapat mendapat pelajaran. Meskipun Nabi Adam, secara keluarga bukan keluarga yang terbaik. Namun, Nabi Adam memiliki sifat yaitu selalu melihat kedalam (apa yang salah dari saya). Inilah karakter Adam yang begitu dicintai Alloh dan ini yang harus dipelajari dari orangtua yaitu terbiasa untuk melihat kedalam. Lihatlah doa Adam dalam surah Al A’raf ayat 23 “Ya Tuhan kami, kami telah menzaimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi” yang mana akhirnya Alloh mengampuni dosa-dosa dan akhirnya mempertemukan kembali Adam dengan hawa setelah terpisah puluhan tahun. Inilah yang dicintai Alloh, ketika terjebak kesalahan, dia melihat kedalam sebab manusia tidak akan selalu baik. Ada kalanya berbuat salah tapi yang terbaik adalah melihat kedalam. Maka dalam konteks pengasuhan, jangan selalu melihat faktor eksternal. Kalau kita ingin diangkat derajatnya oleh Alloh, lihat kedalam. Sebab sebagian orangtua bila melihat anak bandel yang disalahkan adalah teman, internet, gurunya. “Koq anak betah diluar?” Sebab bisa jadi sebagai orangtua tidak memenuhi hak anak yaitu kasih sayang yang cukup dan diberikan kenyamanan dirumah

Adakah hutang pengasuhan yang pernah kita lakukan ke anak ? Pepatah arab mengatakan “yang kamu tanam, itu yang kamu tuai”. Mendidik anak sejatinya seperti menanam benih. Hasilnya baik atau tidak tergantung orangtua. Jadi bila tidak diberikan pada masa kecilnya maka anak akan menagih di usia dewasa dengan perilaku yang menyebalkan.

Belajar dari Nabi Nuh, Anak dan istrinya Kafir. Beratnya menjadi Nabi Nuh. Apakah Alloh menghinakan dia? Alloh memuji Nuh sebagai Rasul Ulul Azmi sebab ia tak pernah putus asa berdakwah khususnya pada keluarganya. Dia selalu mengucapkan “sesungguhnya ya Tuhanku, aku menyeru kaumku malam dan siang”. Seruan itu bukan mendekatkan mereka melainkan mereka malah lari dan menghindar dari Nuh. Sampai akhir hayatnya, anaknya tetap memilih pada kekafiran diterjang banjir dan mati dalam keadaan kufur. Nuh sedih. Tapi apa Nuh gagal? Tidak. Sebab Nuh mengutamakan proses daripada hasil. Menjadi orangtua hebat bukan cuma orangtua yang menunggu hasilnya.

Dari Nabi Ibrahim dan Imran, kita dapat belajar. Pertama, Keluarga Ibrahim mewakili sosok kenabian sedang Imran bukan Nabi. Artinya tidak ada dikotomi antara Nabi dengan bukan Nabi dalam pengasuhan melainkan yang penting petunjuk Al Qur’an. Kedua, mewakili keluarga yang berpoligami. Ibrahim istrinya dua sedang Imran monogami. Mengasuh secara poligami bukan berarti akan gagal asal tahu ilmunya. Ketiga, ibrahim full parent yaitu bapak ibunya lengkap. Saat mengasuh Ismail, ada Ibrahim dan istrinya. Sedang Imran wafat saat Maryam lahir makanya istri Imram single parent. Keempat, ibrahim mewakili pengasuhan anak-anak lelaki. Sedang Imran mewakili pengasuhan anak perempuan.

Sumber : Ust. Bendri Jaisyurrahman. Menjadi orangtua hebat dunia dan akhirat

loading...
Share

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*