Didik Anak dengan Cinta

Banyak anak tumbuh dan besar tanpa pendekatan cinta. Cinta bukan terkait dengan apa yang diberikan tapi apakah anak merasakannya. Jika cinta bukan yang pertama kali dilakukan pada anak maka kita akan menghadapi generasi anak-anak yang bermasalah. Karena kebutuhan anak akan cinta berpengaruh terhadap sikap & perilaku mereka di masa depan. anak-anak yang memiliki cinta yang besar dari orangtuanya akan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri.

Anak yang dibesarkan dengan ketakutan, kelihatannya mungkin taat namun sejatinya ia minder dan tertekan. Karena itu bila melihat ada anak yang taat pada kita, jangan-jangan dia tertekan dan rentan depresi. Tiga ciri anak tertekan yaitu gerakannya minimalis, ekspresinya minimalis, mata nya tak berani menatap lawan bicara. Mata yang tak menatap lawan bicara karena jiwanya terinjak-injak sehingga jendela jiwa matanya tak berani terbuka. Anak yang tertekan akan mudah dipengaruhi.

Seperti kisah Ibrahim yang akan menyembelih Ismail. Ismail berkata “Wahai Ayahku, segera lakukan perintah Alloh kepadamu niscaya kau dapati aku sebagai orang yang sabar”. Sejatinya Ismail takut. Tapi ia memaksakan diri untuk berani, sebab ia merasakan cinta yang membuat ia harus mencoba. Karena itu, tidak ada anak yang langsung percaya diri. Tapi cinta dari orangtualah yang membuat ia berani.

Anak yang penuh cinta, ia tidak caper (cari perhatian). Anak yang menggunakan anting, tato, sengaja merusak, jadi cabe-cabean itu bermula dari caper. Itu karena di rumah tidak mendapatkan kasih sayang. Jadi bila di kelas, ada yang bertingkah luar biasa maka pendekatannya dengan terapi cinta.

Anak yang mendapatkan cinta, akan menjadi anak yang berpikir positif dan optimis, selalu berpikir akan ada jalan keluar. Selalu berpikir meskipun ada orang lain yang memarahinya maka ia berpikir bahwa orang tersebut tidak jahat namun berpikir mengapa marah. Cinta yang terlalu besar dalam dirinya membuat ia mencari celah yang positif untuk berpikir.

Anak yang penuh cinta akan mudah memaafkan, tidak mudah putus asa, tidak tersinggung, dan mudah menerima masukan.

Kita bisa belajar dari sosok Yusuf sebagai anak yang tangguh. Anak yang tangguh itu cirinya ada 3 yaitu tangguh melewati kesulitan hidup, tangguh melewati ujian syahwat (ditawari harta, tahta, wanita tetap bertahan), dan mampu mengendalikan emosinya.

Yusuf di dzolimi oleh saudara kandungnya. Beda ibu, satu bapak. Mereka cemburu dan merencanakan akan membunuh Yusuf hingga Yusuf hampir mati kemudian ditolong orang dan menjadi budak. Yusuf tidak bodoh. Ia tahu penyebab utama yang membuat hidupnya sial dan apes adalah saudara-saudaranya. Kemudian Yusuf menjadi penguasa (Menteri, bendahara negara). Saudara yang tidak pernah ketemu akhirnya bertemu. Namun, Yusuf mengatakan pada saudaranya “hari ini tak ada caci maki untuk kalian. Semoga Alloh mengampuni kalian. Dialah yang Maha Penyayang”.

Apa bentuk cinta yang diharapkan anak ? Kenapa saudara-saudara Yusuf dendam dengan Yusuf padahal Saudara-saudara Yusuf pasti dicintai oleh Yakub ? itu karena persepsi mereka. Dalam surat Yusuf “Sesungguhnya Yusuf dan Bunyamin Saudaranya lebih disayang Ayah dibanding kita”. Tidak mungkin Yakub tidak sayang. Jadi bila ada orangtua yang merasa cinta pada anaknya tapi anak tidak merasa dicintai sebab orangtua tidak mewujudkan cinta dalam bentuk yang diharapkan anak.

Apa bentuk cinta yang diharapkan anak ? Pertama, ucapan. Jangan ragu untuk mengatakan sayang. cinta harus diucapkan. Kedua, berkata yang lembut dan memuji. Jangan berkata kasar. Kebiasaan berteriak adalah kebiasaan penduduk neraka. Ketiga, Senyum dan berwajah cerah. Inilah bahasa tubuh yang harus ditunjukkan kepada anak. Jangan sampai mengucap cinta tapi bahasa tubuhnya tidak enak. Keempat, bermain bersama. Kelima, hadir di waktu berharga anak (saat sedih, sakit, unjuk prestasi). Keenam, memberi hadiah. Ketujuh, berikan rahasia (permainan kuda bisik disukai anak TK khususnya di telinga sebelah kanan, karena ciri anak yang dicintai akan diberikan kepercayaan yaitu rahasia orangtua dikasih tahu). Kedelapan, doa.

Doa itu sunnahnya di depan anak. Rasulullah bila berdoa ada dua yaitu berdoa di malam hari dan di depan anaknya. Manfaat doa di depan anak yaitu mengajarkan tauhid (Ayah meminta pada Alloh, nak), mengajarkan kepedulian (Ayah sayang makanya mendoakanmu), memberitahu harapan.

Sumber : Ust. Bendri dalam tausiyah berjudul Mendidik Anak dengan cinta.

 

 

loading...
Share

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*