Mengenal Program Kreativitas Mahasiswa (PKM)

Dr. Cukup Mulyana, MS

Tidak ada kata terlambat untuk belajar termasuk untuk saya. Jujur, saya baru mengenal PKM (Program Kreativitas Mahasiswa) sejak magang lalu. Dan setelah tahu tentang PKM, langsung beraksi dengan mengajak anak-anak pembimbing akademik saya. Responnya cukup baik walau terhenti di tengah jalan. Tetap bersyukur karena anak-anak saya sudah mau dan berani mencoba.

Masalah terbesar pada proposal pimnas adalah masalah administratif. Sebanyak 50 % proposal gugur di tengah jalan karena masalah administratif. Kesalahan pada pimnas adalah tidak adanya komunikasi yang intens antara mahasiswa dengan pendampingnya. Proposal yang gugur  kebanyakan karena  menggunakan tandatangan scan karena  tidak  bertemu  dengan dosen pendampingnya.

Mari mengenal macam-macam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM)

1. PKM-P (Program kreativitas Mahasiswa Penelitian)

Untuk  PKM-P,  metode  minimal  harus  2  variabel.  Akan  ada komentar reviewer bahwa proposal tersebut praktikum atau penelitian. Sehingga harus ada variabel bebas dan terikat. Untuk anggaran, tidak perlu detail. Selain itu, harus ada benang merah antara tujuan dengan masalah.

2. PKM-K (Kewirausahaan)

PKM-K merupakan program yang paling diminati. PKM-K boleh berasal dari semua bidang ilmu. Kewirausahaan tidak hanya pada penciptaan produk kuliner. Kekalahan biasanya karena jualannya di kampus. Omset boleh tinggi tapi strategi pemasarannya masih begitu saja (jualan di kampus) maka juri beranggapan selesai PKM maka selesai pula kewirausahaannya.   Sehingga   harus   bisa membuat   strategi   bahwa   kreatif mahasiswa terus dijalankan. Misalnya dijual ke teman-teman kost karena dengan teman kost membeli produknya maka sudah untung. Tidak perlu online atau pameran dimana-mana.

Kreativitas kewirausahaan tidak dilihat dari produknya saja. Tetapi lebih dilihat  dari  kreativitas  kewirausahaan  misalnya  apakah strategi  pemasarannya baik. Seperti dulu online menjadi kreativitas baru. Contoh Kewirausahaan yang menang adalah mahasiswa yang menjual obat penumbuh rambut dan penghilang ketombe yang dibuat dari akar tanaman disekitar kampus dan sudah dibuktikan dengan mengemasnya secara luar biasa. Selain itu, dijelaskan dengan gambaran film bahwa dalam waktu 3 bulan (dari menjual sampai selesai) ada yang tumbuh rambutnya  dan  ketombenya  hilang  melalui  testimoni.  Sehingga  terlihat meyakinkan yang membuat juri memberikan emas pada mahasiswa tersebut. Dan mahasiswa tersebut berasal dari Universitas Brawijaya.

Untuk dosen kewirausahaan bisa memberikan tugas kewirausahaan dengan membuat proposal PKM-K. Universitas Brawijaya berani untuk mendatangkan pakar. Jadi mahasiswa yang ingin mengajukan proposal PKM-K dikumpulkan dan didatangkan pakar bagaimana membuat cash flow, analisis ekonomi, menghitung BEP, menghitung kelayakan.

Hal terakhir adalah gambaran perencanaan usaha dapat diuraikan dalam bentuk bisnis plan. Sehingga perlu narasumber tentang bagaimana cara membuat bisnis plan yang bisa di baca oleh reviewer dari kajian sastra. Selain itu, perlu ada penjelasan keberlanjutan usaha. Misalnya setelah PKM-K, ada potensi untuk terus sustainable dengan beberapa metode.

Untuk melihat keunikan, bisa langsung dilihat dilatar belakang. Misalnya di latar belakang dituliskan “penjual bakso sudah banyak, namun keunikan pada bakso ini apa”.

3. PKM-M (PKM Pengabdian Masyarakat)

PKM-M harus terasa ada masalah yang berasal dari masyarakat yang sangat dibutuhkan masyarakat dan meminta solusi ke kampus. PKM-M yang dilihat adalah metode karena PKM-M merupakan proposal yang paling banyak diminati. Tetapi banyak  yang  gugur karena  metodenya  yang  tidak  jelas.  PKM-M harus  terukur. Misalnya mengadakan pelatihan/workshop/penyuluhan A yang masalahnya harus datang dari masyarakat. Untuk tahu masalah, bisa dengan membagikan kuesioner, pre test  dan  post  test, yang diukur dari kehadiran. PKM-M tidak boleh dalam bentuk sosialisasi.

4. PKM-T (PKM-Teknologi)

PKM-T merupakan program kreativitas mahasiswa yang sangat tidak favorit. Jadi PKM-T diperuntukkan untuk anak-anak yang memiliki teknologi dalam artian penerapan teknologi. Misalnya bengkel, laboratorium, toko yang membutuhkan teknologi  yang  datang  dari  kampus  yang  bisa  menyelesaikan  permasalahan mereka. Contohnya menyelesaikan masalah dari mitra nya (pabrik tahu di Sumedang) yang memiliki kondisi sangat kotor, pencucian bahan baku, penggilingan, pencetakan berada di ruang yang basah. Sehingga membutuhkan alat yang bisa sekali masuk ada beberapa proses. Kemudian mahasiswa merancangnya dikampus. Setelah jadi, teknologi diserahkan ke mitra dengan membeli. Hasil nya bisa dibuat skripsi atau di jurnalkan.

PKM-T tidak diperuntukkan untuk sosial humaniora karena bidang kajiannya harus masuk. Psikologi bisa tapi teknologinya bisa alat untuk tes psikologi. Namun hal tersebut dianjurkan untuk ke PKM-KC  karena  peluang  diterimanya  banyak.  Bila  PKM-T  diperuntukkan  untuk anak-anak mesin, elektro, MIPA. Luaran PKM-T adalah model atau desain, artikel ilmiah, hak paten. Yang terpenting di PKM-T adalah mitra. Jadi harus ada mitra. Sebelum mahasiswa menulis, harus datang ke mitra untuk bertanya permasalahannya. Bila hasilnya bagus, bisa ditingkatkan ke pengabdian dosen. Jadi mulailah dari PKM. Bila tidak memberikan desain, bisa memberikan modul paten.

Hal-hal   yang  harus  dipersiapkan  untuk  dosen   pendamping adalah  (1) pastikan format dan syarat administrasi sudah terpenuhi. Jadi dosen pendamping harus membaca buku panduan. Bila malas membaca buku panduan maka mintalah mahasiswa, (2) UKM mana yang mendapatkan manfaat, (3) apa kesulitan dan permasalahan di mitra, (4) apakah teknologi yang diterapkan telah menjawab permasalahan yang dihadapi mitra, (5) tujuan apa yang ingin dicapai dalam penerapan teknologinya, (6) harus ada hasil akhir PKM-T dan harus dijelaskan, hambatannya seperti apa dan mungkin tidak dalam waktu 4 bulan sudah dapat wujudnya karena untuk PKM-T harus selesai dalam waktu 4 bulan dengan dana 12,5 juta. Berbeda dengan PKM-KC yang boleh tidak selesai. Jadi PKM-T dan PKM-P harus selesai dalam waktu 4 bulan.

Dosen pendamping cukup mengoreksi dengan form penilaian yang tersedia di buku panduan PKM. Tinjauan pustaka boleh satu-dua halaman, gunakan bahasa sederhana saja. PKM yang dinilai adalah kreativitas. Selain itu, harus ada surat kesediaan yang form nya sudah disediakan dikti. Di dalam proposal, cantumkan tulisan “akan dipatenkan karena perguruan tinggi memiliki UPTnya”.

5. PKM-KC

Gagasan mahasiswa kadang bagus namun saat dituangkan dalam aktivitas, mereka mendapatkan kesulitan. Jadi bila ada mahasiswa yang ingin mengambil PKM-KC, tanyakan apakah memungkinkan diselesaikan dalam waktu singkat. Selain itu, aspek teknologi harus muncul pada proposal.

Sumber : Dr. Cukup Mulyana, MS (Dosen Fisika UNPAD) pada Pelatihan PKM untuk dosen pendamping tanggal 7 September 2017. Jatinangor

Pages

Posts by category

My Templates

Ads

loading...
Share

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*