Pikiran Positif

Pikiran Positif
Pikiran Positif

Pikiran positif hadir ketika kita dalam kondisi tenangg. Tidak grusak grusuk, latih dengan ibadah ritual. Pikiran positif juga bisa terkondisikan dengan lingkungan pergaulan. Pilih teman yang positif. Pikiran negatif itu seperti monster alam bawah sadar, maka untuk mengganti dengan pikiran positif hanya tinggal mengubah channel. Remote controlnya ada di otak kita. Jadi hanya tinggal mengizinkan pikiran positif itu hadir saja sebenarnya. Perkuat dengan kata-kata afirmasi. Misal kalau biasa kita suka ngeluh “duh, jalanan macet banger nih”, coba ganti dengan afirmasi positif “wow keren, jalanan penuh jam segini..” sambil ajak ketawa. Ya begitulah. senyumin ajah! Kalau batu saja bisa berlubang dengan setetes air, begitu juga kekuatan air otak dan air tubuh kita.

Alur positif thinking itu dimulai dengan peRASAan positif dulu, positif lagi positif terus. Dengan ikhlas pasrah maka keajaiban itu datang. Qisaah siti hajar bolak balik cari air berusaha berjalan dari bukit shafa ke marwah mencari sumber mata air, di tengah gurun yang tandus yang sebetulnya secara logika rasanya kok tidak yakin akan ada. Tapi, Siti Hajar yaqin bahwa Alloh memberi perintah pada Ibrahim untuk meninggalkannya berdua dengan Ismail disitu itu.. Alloh tidak akan menyia-nyiakannya. Yaqin. Dan MasyaAlloh. Ketika sudah bolak balok usaha cari air, tidak juga ketemu… di tengah kepasrahan bercampur keikhlasan dan sedikit rasa menyerah “pada Alloh”, pertolongan Alloh justru datang dalam bentuk yang luar biasa AJAIB. Mata air itu justru ada di dekat telapak kaki Ismail kecil. Mengeluarkan air berlimpah. Bahkan tidak kering sampai saat ini.

Jadi ? Pikiran positif itu bentuknya adalah usaha itu sendiri terlepas apakah nanti hasilnya sesuai atau tidak dengan yang kita harapkan. Yang jelas Alloh tidak pernah dzolim. Kita yang dzolim dengan diri kita sendiri. Dan kedzoliman itulah yang jadi perisai/pencegah kita mendapatkan apa yang kita mau. Ya bentuknya DOSA. Kalau di IQRO takdir itu namanya potensi buruk. Kita akan menemukan takdir buruk selama potensi buruk yang ada pada penciptaan kita, lebih mendominasi dari potensi baiknya.

Dan potensi buruk ditentukan semenjak kita berada 4 bulan dalam kandungan. Pada hari yang ke 120, ruh ditiupkan dan Alloh SWT mengutus malaikat untuk mencatatkan rejeki, waktu kematian, amal perbuatan dan nasibnya celaka atau bahagia. Catatan 4 perkara ini sengaja dirahasiakan agar manusia tetap berusaha menjadi yang terbaik. Manusia tahu akan takdirnya setelah suatu peristiwa telah terjadi. Ketetapan ini bukan berarti Alloh SWT mendzolimi hambaNya jika ia celaka. Manusia tidak berhak menyalahkan Alloh atas ketetapanNya, karena Alloh SWT sangat sayang terhadap hambaNya (QS 6 : 12) dengan memberikan al qur’an sebagai buku panduan, hidayah, akal, hati, panca indera, dan sarana lainnya yang terbaik yang dicontohkan oleh para Nabi dan RasulNya, mengabilkan setiap permohonan (QS. 14 : 34) dan diberi hak untuk memilih perubahan dirinya (QS 13 : 11)

Sumber : Bunda Susan.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*