Menjadi Orang Tua Asyik Bagi Remaja

Menjadi Orang Tua Asyik Bagi Remaja
Menjadi Orang Tua Asyik Bagi Remaja

Mendengar kata “asyik” itu sangat netral buat remaja. Sebagai orangtua, kita belajar parenting dengan harapan menjadi orang tua yang baik, lebih baik dan semakin baik. Bagi remaja, kata “baik” bagaikan istilah “suci” dan sah-sah saja sebenarnya jika mereka menganggap seperti itu. Namun, kadang mereka juga memandang bahwa hal yang baik itu sudah umum, padahal mereka senang sekali dengan hal-hal yang anti mainstream.

Para pakar mengatakan, remaja sangat dekat dengan dunia psikologi. Ada yang menyebut masa yang menggoncangkan, ini identik dengan perubahan fisiologisnya, kemudian mereka berkembang secara hormonal dan kemudian terjadilah goncangan.

Menurut orangtua, remaja adalah masa yang membuat khawatir. Menghadapi anak yang akan masuk SMP, dalam isi pikiran “kayaknya anak harus masuk pesantren, biar anak kita gak ikut pergaulan bebas, biar anak kita jauh dari hal-hal yang negatif, biar anak kita gak pacaran”. Pokoknya masa remaja menurut orangtua adalah masa yang sangat mengkhawatirkan.

Menurut remaja sendiri, masa remaja adalah masa yang bebas, inginnya bebas. Oleh karena itu, penting sekali sebagai orangtua harus memberikan batasan. Apa yang anak-anak bilang tentang kebebasannya? Menurut remaja, pokoknya main gadget bebas, ingin pulang malam, intinya mereka menginginkan kebebasan. Termasuk mau sekolah di mana, inginnya bebas.

Remaja adalah pemuda masa depan. Karena memang anak usia remaja itu bukan anak kecil lagi. Remaja mulai berubah fisik, psikologis, dan sosialnya. Fisiknya sudah mulai besar, kemudian dari sisi psikologisnya, dinamika perilakunya, pikirannya, dan perasaannya sudah mulai lebih beragam muncul. Sehingga mempengaruhi remaja dalam bersosialisasi dengan orangtua, interaksi dengan teman, guru dan sebagainya.

Remaja juga mulai berpikir kritis dan mulai membangun egonya. Ini yang kadang orangtua tidak sadar ketika konflik dengan remaja. Orangtua perlu mengenali bahwa remaja sudah mulai beragam dinamika perasaannya. Dulu waktu orang tua mengalami konflik dengan anak, anak cepat sekali cair kembali bersama orangtuanya dengan sendirinya. Tetapi kalau sudah mulai memasuki usia remaja, remaja mulai baper, kemudian dia juga mulai caper dan selanjutnya dia mulai galau.

Remaja mulai penasarannya semakin besar. Anak-anak remaja yang tidak terkontrol rasa penasarannya ini, banyak mengalihkan ke hal-hal yang kurang tepat. Tetapi kalau mereka diarahkan maka rasa penasarannya pun tentu saja akan ke arah yang positif kemudian remaja juga cenderung dekat dengan teman. Di pikiran anak remaja, teman adalah segalanya, terbangun rasa solidaritas. Di usia ini, remaja punya dua teman baik yaitu di dunia maya maupun di dunia nyata.

Anak remaja juga sudah mulai suka tantangan dan menentang. Menentang ini, kalau memang anak remaja tidak dikendalikan maka dia akan menentang. Tapi kalau misal kita kendalikan, bahkan dia punya energi untuk menentang itu untuk hal-hal yang positif sebenarnya. Jadi bukan bentuk perlawanan dalam arti melawan orangtua. Tetapi kalau kita arahkan, hal ini akan terbangun sisi emosinya.

Sebagai ilustrasi, ada sebuah tim sepakbola ketika ada lawan yang besar dan luar biasa punya nama besar, ketika anak diarahkan dan dibangkitkan semangatnya maka akan muncul pertentangan di kepala mereka dan mereka meyakini, misalnya bahwa aku pasti bisa melawannya. Namun, jika hal itu tidak di arahkan, yang muncul adalah anak menentang kepada orangtua, guru dan orang sekitarnya.

Remaja itu punya 4 potensi besar yaitu potensi fisiknya, emosinya, pikirnya dan spiritualnya. Bila 4 potensi ini tidak dikendalikan, tidak diarahkan dan tidak dibimbing, otomatis 4 potensi ini menjadi hal yang sia-sia. Potensi fisik seharusnya membuat dia menjadi rajin olahraga. Begitu juga dengan emosi, emosi harus diarahkan. Di usia remaja ini seharusnya sudah mulai mengenalkan pada anak tentang bagaimana mengelola dan mengendalikan emosinya. Termasuk berpikir.

Remaja itu punya potensi dan sebenarnya sebagai orangtua bisa melihat peluang. Misalnya anak remaja sudah punya potensi pikir yang bagus. Nah, ini sebenarnya perlu di ketahui bahwa remaja sudah menjadi seorang manusia setengah isi. Di kepalanya sudah punya resource, punya sumber. Sehingga kalau sedang komunikasi dengan anak gunakan pertanyaan “Menurut kamu gimana? Seperti apa? Bagaimana caranya?”. Sebenarnya tidak perlu banyak nasihat, hanya berikan inspirasi saja. Sehingga resource yang sudah dimiliki remaja, tugas orangtua adalah menguatkan. Tanamkan value-value lewat dialog pada remaja. Pertama, masukkan value kemandirian. Misalnya anak mengerjakan tugas “aduh susah banget nih, bingung banget segala macem”, orangtua tanya sama anak “apa ya Nak yang dirasa sulit ? Bagaimana ya cari jalan keluarnya? Apa ya yang ayah bisa bantu ? Apakah ayah harus bantu sekarang atau nanti?”. Jadi orangtua dorong anak untuk mandiri dulu. Karena membangun seorang remaja itu adalah membangun kemandiriannya. Membangun tanggung jawabnya, dan yang paling penting juga membangun rasa pedulinya. Kemudian, membangun value agar sebelum melakukan sesuatu harus dipikirkan. Sehingga ajak anak untuk berpikir dulu sebelum melakukan sesuatu. Karena apa? Karena ini dalam rangka mengajak anak mengendalikan dorongannya, sesuai yang sebelumnya sudah dijelaskan bahwa sistem limbiknya sudah terbentuk, sehingga membuat keputusan berdasarkan atas dasar suka, enak, menantang. Orangtua tidak bisa mengawasi anak 24 jam, orangtua harus selalu bilang ke anak bahwa selalu dalam pengawasan Alloh.

Sumber : Nur Firdaus. Keluarga LIKE Langkah kita. Menjadi Orangtua Asyuk bagi Remaja. 13 Maret 2020

loading...
Share

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*