Orang Kaya Tidak Perlu Ikut BPJS Kesehatan

prof laksono & Prof. Purwosantoso
prof laksono & Prof. Purwosantoso

Tidak ada sebuah kebijakan yang disusun sempurna. Setelah 3 tahun JKN, BPJS Kesehatan mengalami defisit dan supply site yang tidak merata, jurang pemisah yang makin melebar dan peserta yang kaya merugikan BPJS Kesehatan (klaim rasio diatas 100 %). Sebagai contoh operasi jantung. Peserta mana yang mendapat banyak? Ada di daerah maju atau sulit? Mungkinkah bila sebagian orang kaya tidak perlu ikut BPJS Kesehatan? Jadi mereka menggunakan dana sendiri sehingga tidak mengganggu ekonomi BPJS Kesehatan. Fokus BPJS Kesehatan hanya untuk mereka yang miskin.

Prof. Laksono menjelaskan BPJS Kesehatan rugi 7 Triliun. Dan Mengapa rugi? Katanya karena premi nya kurang. Premi untuk PBI masih aman namun PBPU (Peserta Bukan Penerima Upah) tidak. Sehingga muncul ideologis JKN itu untuk menjamin yang miskin dulu atau yang kaya? Karena bila PBPU masuk BPJS Kesehatan dan bisa mengambil banyak hal hanya dengan membayar 80 ribu maka BPJS Kesehatan akan rugi. Jadi orang kaya tidak perlu ikut BPJS Kesehatan.

Di Vietnam, KB tidak masuk ke BPJS nya Vietnam melainkan hanya untuk orang miskin yang dijamin Pemerintah Vietnam. Sehingga KB masuk ke sistem pasar karena mereka paham bahwa pemerintah Vietnam tidak mampu membayar untuk semua. Sehingga difokuskan hanya untuk yang miskin saja.

Prof. Purwosantoso menjelaskan bila dasar evaluasi berasal dari rencana yang dibangun dari asumsi yang salah maka rencana yang berjalan sama saja memastikan korban semakin bertambah. Persoalan JKN adalah multidimensional dan proses pembuatannya ada berbagai kepentingan politik. Yang menjadi pertanyaan, ideologis JKN itu melindungi penduduk atau warga negara?

Akan susah menjawab suatu keputusan bila tidak memasukkan ideologi. Kita pro siapa ? Kaya atau miskin ? Yang kaya sebenarnya bisa beli sendiri karena punya uang.

Sumber : Prof. Laksono Trisnantori & Prof. Purwosantoso dalam diskusi Kaleidoskop Kebijakan Kesehatan 2017 pada tanggal 28 Desember 2017 di Yogyakarta

 

loading...
Share

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*