5 Level Cinta

5 Level Cinta
5 Level Cinta

Cinta itu ternyata ada levelnya.

  1. Ta’aruf / Mengenal. Ini level mengenal pasangan, sahabat atau partner. Di masa ini satu dan yang lainnya berusaha saling mengenal. Biasanya belum terlalu dalam dan rentan miskomunikasi. Disini mulai terlihat beberapa kesamaan dan perbedaan karakter masing-masing. Biasanya di level ini kita memilih mana yang cocok untuk makin dalam hubungannya. Teman jadi sahabat, calon jadi istri/suami, rekan jadi partner bisnis
  2. Tafahum / Memahami. Ini level lebih dalam, dimana partner, pasangan atau sahabat mulai berusaha memahami karakter dan keinginan pasangannya. Biasanya butuh waktu yang cukup panjang untuk sampai di level ini. Ada 3 hal yang bisa kita lakukan untuk sampai di level ini yaitu travelling (bersafar) bersama. biasanya karakter asli terlihat saat jalan bareng. Kita bisa lihat bagaimana cara dia dalam mengatasi konflik, penyabarkah ? tepat waktukah ? Pekakah ?. Kedua, bermalam bersama. Tentu dengan menjaga adab dan syariat ya. Saat mabit atau bermalam bersama bisa terlihat karakter aslinya. Ketiga, bertransaksi jual beli/berurusan dengan uang. Ada orang yang aman dengan dua hal sebelumnya, tapi karakter asli akan terlihat setelah berurusan dengan uang. Apakah ia orang yang amanah ? Apakah ia orang yang culas/licik ? Apakah ia orang yang mementingkan keuntungan atau persaudaraan ? Apakah ia orang yang mudah berhutang dan susah bayar atau justru pantang berhutang ?
  3. Ta’awun / Saling menolong. Setelah kita mengenal karakter pasangan, sahabat bahkan orang tua maka yang mesti dilakukan adalah saling menolong sesuai dengan bahasa cinta dan kebutuhannya. Misalnya seorang suami yang bahasa cintanya touch, istri yang paham akan sering memeluk hangat dan membahagiakan suaminya. Seorang suami yang paham bahwa bahasa cinta istrinya adalah words akan lebih sering memuji dan menggombal, sehingga tangki cintanya utuh. Seorang anak yang tahu bahwa bahasa cinta ibunya adalah gift atau hadiah maka ia akan sering memberikan kejutan dan hadiah sederhana namun menunjukkan kasih sayang dan perhatian. Menolong tak harus dengan uang, bisa dengan solusi, bahkan terkadang istri hanya butuh bahu untuk bersandar dan kedua telinga yang ikhlas mendengarkan.
  4. Takaful/Saling menjamin dan tanggung jawab. Seorang istri yang baik rela berkorban demi anak dan suaminya. Seperti Siti Khadijah di awal perjuangan Nabi Muhammad SAW, saat banyak orang tak mempercayai, ia orang pertama yang bersaksi dan percaya akan misi suaminya. Saat banyak orang memboikot ekonomi, Nabi dan sahabat yang membersamainya, ia orang pertama yang siap mengorbankan harta demi perjuangan jihad suaminya. Hari ini banyak ditemui justru sebaliknya. Istri menuntut suami, suami gak memberikan nafkah, akhirnya terjadi fitnah bahkan perceraian.
  5. Itsar / Saling mendahulukan. Ada kisah tentang 3 sahabat nabi yang terluka saat perang Yarmuk, “Ikrimah meminta air minum, kemudian ia melihat Suhail juga melihat al Harits sedang melihatnya, maka iapun berkata,”Berikan air itu kepadanya (al Harits)”. Namun belum sampai air itu kepada al Harits, ternyata ketiganya telah meninggal tanpa sempat merasakan air tersebut (sedikitpun) (HR. Ibnu Sa’ad). Dalam praktik rumah tangga, misalnya seorang suami lapar belum makan malam, namun ia teringat istrinya di rumah. Ia tahan lapar itu, demi bisa makan berdua dengan sang istri. Ada juga kisah luar biasa Ummu Sulaim, yang anaknya meninggal dunia namun tetap melayani suami dengan baik.

Semoga kita bisa menjadi pasangan yang mempraktekkan 5 level cinta ini kepada pasangan halal. Aamiin

Sumber : Setia Furqon Kholid

loading...
Share

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*