Rokok Harus Mahal

Rokok harus mahal

Prevalensi perokok yang makin meluas menjadi beban dalam anggaran kesehatan pada program jaminan kesehatan nasional (JKN). Penyakit akibat rokok mendominasi pasien BPJS. Salah satunya yang membuat prevalensi perokok adalah harga yang murah. Menaikan harga rokok sehingga tak lagi terjangkau oleh kelompok miskin di yakini akan mengurangi prevalensi merokok di kelompok ini yang pada akhirnya akan memangkas beban JKN.

Menurut Prof. Hasbullah, mayoritas peserta JKN adalah perokok dan mayoritas masyarakat kurang mampu juga perokok. Masyarakat PBPU juga doyan rokok sehingga klaim BPJS paling tinggi. Perokok menyebabkan banyak penyakit akibatnya klaim JKN tinggi. Sehingga dana JKN yang terbatas terserap oleh mereka yang perilakunya kurang baik. Bila tidak dilakukan kendali maka dana JKN tidak memadai. Cara yang efektif terbukti di dunia adalah menaikkan harga rokok. Menurut hukum ekonomi, kalau harga rokok naik maka konsumsi akan turun sedikit tapi tidak berhenti karena mereka sudah kecanduan.

Kajian terdahulu menunjukkan beban biaya rokok kira-kira 3,5 – 4 kali lebih banyak dari penerimaan negara (cukai rokok). Jadi sebenarnya Indonesia defisit. Hanya saja petinggi negeri melihatnya ada yang diterima dan tidak melihat yang dikeluarkan secara jangka panjang seperti biaya berobat, kehilangan produktivitas. Belum lagi yang lebih parah lagi, perokok mempengaruhi pertumbuhan anak yang bisa menyebabkan anak kerdil (Fisik dan otak). Bila kerdil otak maka anak tidak bisa menjadi sumber daya tetapi menjadi beban masyarakat dan negara karena di didikpun susah sehingga tidak bisa bersaing dengan negara lain. Generasi Cemas bukan generasi emas karena kalah bersaing.

Kelompok miskin di Indonesia sangat royal karena menyumbang orang terkaya di Indonesia. Kelompok yang pendidikannya lebih tinggi dan pendapatannya lebih tinggi mengkonsumsi rokok lebih sedikit. Kebijakan pemerintah masih belum berubah. Prof Hasbullah khawatir pemerintah ke depan akan melanjutkan Program keluarga harapan yang mana masyarakat miskin diberikan uang. Khawatirnya uang tersebut digunakan sang ayah untuk merokok.

Rokok lebih berbahaya dari Ganja untuk jangka panjangnya. Karena pemerintah tidak melindungi rakyatnya dari bahaya rokok, dibiarkan harga murah, iklan dibiarkan dan mudah dilihat.

Kita tidak bisa mengidentifikasi orang sakit karena rokok atau tidak. Kalau sudah sakit maka harus menolong. Sehingga cara terbaik bukan dengan menghukum ketika sakit tapi janganlah membeli rokok. Hukum dia dengan membeli rokok dengan mahal dan sebagian orangnya digunakan untuk mendanai yang sakit.

Sumber : Prof. Hasbullah pada acara KBR tema rokok harus mahal.

loading...
Share

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*