Penelitian Jantung dengan SMART Health

Penelitian Jantung dengan SMART Health

Usia 40-50 tahun adalah usia yang pantas untuk memimpin suatu organisasi atau institusi. Namun kenyataannya kita sering mendengar informasi bahwa orang yang memiliki usia 40-50 tahun telah meninggal karena jantung atau stroke. Di Inggris atau Amerika, orang yang meninggal karena jantung atau stroke itu berusia 60 tahun ke atas. Sedang di Indonesia meninggal di usia 50 tahun ke atas. Sehingga masalah penyakit tidak menular khususnya penyakit jantung dan stroke perlu diperhatikan dan ditanggulangi bersama. Perlu diteliti kegiatan fisik, postur dan asupannya.

dr. Gindo beserta tim mengumpulkan ribuan sampel darah orang Indonesia dan hanya mengambil orang yang berusia diatas 40 tahun karena ingin melihat berapa orang yang berisiko meninggal karena sakit jantung dan stroke dalam waktu 8 tahun ke depan. Hasilnya bahwa orang Indonesia yang berumur diatas 40 tahun dan berisiko penyakit jantung dan stroke ternyata 70 % tidak sadar bahwa mereka berisiko. Jadi mereka berisiko tapi tak sadar bahwa mereka berisiko seperti tidak pergi ke dokter, tidak mendapat tindakan dan tidak mendapat obat.

Hasil penelitian dr. Gindo ini di publish dengan judul “Unmet Needs or Cardiovascular Care in Indonesia”. Penelitian dilakukan di 4 kecamatan Desa di Malang. Sengaja di pilih Desa karena risiko banyak di kota tapi di desa pun sudah mulai banyak. Jadi bila kita lihat di desa maka apalagi di kota. Sampel ada kontrol dan intervensi. Hal yang menarik adalah bila kader posyandu dilibatkan dalam intervensi maka seluruh penduduknya rata-rata lebih rendah tekanan darahnya. Selain itu, kepatuhan minum obat meningkat karena dilibatkannya kader. Selain itu, dalam penelitian ini pemantauan dilakukan dengan WA (Whatsapp). Dengan adanya WA, kader saling memantau dan mendukung. Kader itu sulit-sulit gampang. Perlu pendekatan personal dengan kader untuk keberhasilan. Bila hanya dilatih maka tidak akan jalan. Harus ke rumah kader karena mereka akan merasa diperhatikan. Bila di daerah yang tidak ada kader kesehatannya, bukan berarti penelitian ini tidak bisa berjalan. Kader pasti memiliki setidaknya sedikit mengetahui tentang kesehatan ibu dan bayi. Sehingga soal kesehatan bukan yang asing bagi kader.

Penelitian ini merupakan skema riset implementasi dengan melakukan intervensi yang melibatkan lebih dari 10 ribu orang di Kabupaten Malang. Selain itu, juga melibatkan kader posyandu dalam deteksi risiko penyakit kardiovaskuler di kampung dengan pendekatan sosioteknis. Penggunaan smartphone dengan algoritma dari penelitian sebelumnya disertai dengan dashboard hijau, kuning, merah. Perluasan peran kader posyandu yaitu mengambil darah, memasukkan hasil pemeriksaan ke aplikasi, memberikan informasi lanjutan kepada masyarakat baik rujukan atau promotif, dan pemantauan terapi. Penelitian ini juga menyediakan obat dan penyediaan bukti untuk pembuatan kebijakan kesehatan.

Responden aktif mengikuti penelitian karena selain ada rasa takut, ada daya kendali di dalam diri penduduk sehingga mereka ingin ikut. Temuan mereka di desa adalah memperlambat adopsi berbagai program untuk menanggulangi penyakit tidak menular. Belum banyak pemahaman bahwa ini harus dilakukan untuk mencegah, menunda, mengurangi risiko ini. Di Indonesia, kalau ingin menanggulangi penyakit dengan memberikan obat kadang-kadang dibilang “saya kan gak sakit. Gak merasa sakit”. Apalagi penyakit tidak menular. Ini karena akar kata penyakit dan sakit sama berbeda dengan di Inggris yang berbeda. Hambatan dalam pemahaman kesehatan di Indonesia agak sulit dibandingkan Inggris.

Promosi kesehatan di Indonesia sangat terdukung ketika kita mampu menggaet public figur. Ketika kita mempromosikan kesehatan tentang kanker, maka viewernya hanya 100-200. Namun bila kita memasukkan keyword julia peres maka akan meningkat 1500. Jadi masyarakat masih mendengar apa yang dikatakan public figur.

Oleh : dr. Gindo Tampubolon (The University of Manchester) disampaikan pada tanggal 21 Agustus 2018

loading...
Share

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*