Ayah

Ayah
Ayah

Dari Jabir Bin Abdillah ia berkata: Datang seseorang kepada Nabi SAW lalu berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ayahku telah mengambil hartaku”. Maka Rasulullah SAW berkata kepadanya, “Pergilah dan bawalah ayahmu kepadaku”.

Maka turunlah malaikat Jibril kepada Nabi lalu berkata “Sesungguhnya Alloh SWT mengirim salam kepadamu dan berkata, “Jika ayahnya dating maka tanyakanlah kepadanya tentang sesuatu yang terbesik di hatinya namun belum pernah di dengar oleh kedua telinganya (karena belum terucapkan)”.

Maka ketika sang ayah –yang sudah tua- dating bersama anaknya, Nabi berkata kepadanya, “Anakmu terus mengeluhkan dirimu, benar engkau telah mengambil hartanya?”. Orang tua itu berkata, “Tanyakan kepadanya wahai Rasulullah, apakah aku menyalurkan hartanya tersebut untuk salah satu bibinya atau untuk diriku sendiri?”. Maka Nabi berkata, “Lupakanlah hal itu, sekarang ceritakan kepadaku tentang sesuatu yang kau ucapkan dalam hatimu dan tidak didengar oleh kedua telingamu!” Orang tua itu berkata, “Demi Alloh wahai Rasulullah, Alloh senantiasa menambahkan kepada kami keyakinan kepadamu. Aku berkata dalam hatiku sesuatu yang belum pernah di dengar oleh kedua telingaku”. Nabi berkata, “Ucapkanlah aku akan mendengarkannya!”. Lalu orang tua itu berkata: “Aku yang mengasuhmu ketika kau lahir, dan aku yang memeliharamu (memenuhi kebutuhanmu) ketika kau remaja.  Semua jerih payahku engkau minum dan kau reguk sepuasmu. Bila engkau sakit di malam hari, maka aku tidak bisa tidur lantaran sakit yang kau derita, aku resah dan gelisah tidak bisa tidur karena sedih dan khawatir. Aku mengkhawatirkan jiwamu disambar maut, padahal aku tahu bahwa kematian itu ada ajalnya. Seakan-akan akulah yang sedang sakit bukan engkau yang sakit, maka kedua mataku tak kuasa mengalirkan air mata. Tak kala engkau telah mencapai dewasa dan menggapai apa yang kau cita-citakan, yang dahulu itulah yang kuharapkan darimu.. Engkau membalas budi baikku dengan sikap keras dan kata-kata kasar… seakan-akan engkaulah yang telah berjasa dan telah berbuat baik kepadaku. Seandainya engkau tidak mempedulikan hak ku sebagai seorang ayah… (anggaplah aku seperti tetanggamu) sikapilah aku sebagaimana seorang bersikap baik kepada tetangganya.

Maka Rasulullah pun menangis dan memegang kerah dada baju anaknya dan beliau berkata “Engkau dan hartamu adalah milik ayahmu”. (HR. Thabrani dalam Al Mu’jam Al Awsath dan Baihaqi dalam Dalail An Nubuwwah). Sungguh agung hak seorang ayah, haknya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Ayah.. dialah cahaya dalam keluarga, kehadirannya selalu diharapkan, canda dan tawanya adalah penghias kehidupan, pelukan dan kasih sayangnya adalah pelita kehidupan. Memandangnya mendatangkan kebahagiaan. Kepergiaannya membawa kesedihan.

Ayah.. dialah sosok yang telah berkorban untuk keluarga. Dialah yang telah berusaha terus membimbingmu dengan tak pernah lelah. Dialah yang selalu mengharapkan kebaikanmu dengan penuh ketulusan.

Ayah.. Dialah yang selalu memberikan kepadamu tanpa rasa pelit sama sekali, tanpa perhitungan, yang penting baginya engkau bisa tertawa, bisa tersenyum bahagia, ia korbankan waktunya hanya untuk mu…

“Ayah adalah pintu surga yang paling tengah, maka jagalah pintu tersebut jika kau mau, atau tinggalkan pintu tersebut” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, Al Hakim dan Ibnu Hibban).

Wahai hamba Alloh, renungkanlah kedudukan ayahmu, besarnya jasanya kepadamu. Betapa banyak harapan yang ia harapkan darimu… Saat engkau bertambah usia, bertambah pula sayangnya padamu, hingga engkau menjadi yang nomor satu dalam kehidupannya. Jadilah engkau dilayaninya setiap hari, siang dan malam. Pikirannya selalu tentangmu, hatinya selalu bersamamu.

Tahun-tahun berlalu hingga dirimu menjadi seorang pemuda, jadilah dirimu adalah kebanggaanya, engkau diceritakan di sana dan di sini, betapa gembiranya ia dengan keberhasilanmu, betapa bahagianya ia melihat derap langkahmu.

Inilah hasil perjuangannya mendidikmu selama ini, jerih payahnya yang penuh dengan kesulitan dan penderitaan demi memperjuangkan kebahagiaanmu.

Betapa banyak kesedihan yang ia lalui saat mendidikmu ketika engkau dahulu membangkangnya. Betapa banyak gelas-gelas air mata pilu yang harus diminumnya ketika engkau nakal dan melawannya. Mungkin memang ia pernah memarahimu, tapi itu semua karena rasa sayangnya padamu, mungkin ia pernah menjewer dan membentakmu, tapi itu semua karena rasa khawatir akan dirimu.

Ia melawan kerasnya kehidupan, bertarung mencari nafkah, semuanya demi kebahagiaanmu, demi melihatmu tersenyum. Betapa sering engkau memintanya untuk membelikanmu sesuatu, sementara engkau tidak tahu kondisinya yang begitu berat yang sedang dihadapinya, namun tak pernah sepatah kata pun ia ucapkan beban beratnya itu.

Terkadang engkau tak peduli dengan dirinya, sementara ia begitu mempedulikanmu. Baginya yang terpenting adalah kebutuhanmu, kebutuhan sekolahmu, kebutuhan kuliahmu dan pendidikanmu terpenuhi, ayah tak peduli meski untuk memenuhi kebutuhanmu ia harus berhutang, ia tak peduli meski harus dimaki dan dihina orang, semua itu untuk dirimu.

Betapa sering ia terbangun di tengah gelapnya malam untuk mendoakanmu, sementara dirimu mungkin masih terlelap dalam buaian mimpi. Betapa sering air matanya mengalir memohon kepada Yang Maha Kuasa seraya berkata, “Ya Alloh, yang penting anakku menjadi anak yang berhasil, yang mampu menggapai cita-citanya”. Sementara engkau tak tahu itu.

Itulah ayahmu, itulah ayahmu..

Itulah perjuangannya. Itulah pengorbanannya. Ia memberikan kepadamu segala sesuatu dan ia tidak meminta upah darimu.

Ia berusaha semaksimal kemampuannya untukmu, dan ia tak pernah menanti ucapa terima kasihmu. Ia telah berbuat banyak kebaikan untukmu yang engkau tak melihatnya.

Ia berbakti kepadamu dengan pengorbanan yang engkau tak akan sanggup membalasnya. Berbakti kepada ayah adalah wajib setiap saat dan di mana pun, akan tetapi semakin ditekankan ketika ayah memasuki usia lanjut, kala rambutnya mulai memutih, jari-jarinya gemetar, jalannya mulai tertatih-tarih, kala penyakit mulai meliputinya. Masa kuatnya telah sirna, telah ia habiskan untuk memberi kebahagiaan.

Maka itulah saatnya engkau menyambutnya dengan penuh kasih sayang, dengan penuh kerendahan seperti perintah Rabbmu “Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh rasa sayang” (QS. Al Isra: 24)

Senandungkanlah selalu doamu untuknya “wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidikku waktu kecil”. Ciumlah tangannya, karena itulah tangan yang telah hilang kekuatannya karena bekerja demi kebahagiaanmu. Ciumlah keningnya, itulah kening yang dulu sering berkerut memikirkan keberhasilanmu.

Pijatlah kedua kakinya yang telah hilang kekokohannya karena bekerja memenuhi kebutuhanmu. Inilah kesempatan yang tidak akan pernah terulang, demi Alloh akan datang suatu masa engkau tidak lagi bisa melihat ayahmu, pintu surga yang selama ini bisa engkau raih telah diangkat oleh Alloh.

Jika ayahmu telah tiada, engkau tidak bisa lagi mencium tangannya, mencium keningnya, memijat kakinya. Tapi janganlah pernah terputus doamu untuknya, itulah yang sangat ia harapkan dalam kuburnya. Berinfaklah, bersedekahlah, berwakaflah untuknya, niscaya pahalanya akan melapangkan sempitnya kubur, menyinari gelapnya kubur, berbuat baiklah kepada keluarga dekat ayah dan kepada sahabat-sahabat dekatnya.

Ya Alloh anugerahkan kepada kami berbakti kepada kedua orang tua kami, baik mereka dalam kondisi hidup maupun telah tiada. Ya Alloh jadikanlah kami termasuk orang-orang yang berbakti kepada kedua orang tua kami, baik mereka dalam kondisi hidp maupun telah tiada. Ya Alloh, ampunilah dosa-dosa kedua orang tua kami dan sayangilah mereka sebagaimana mereka telah mendidik kami saat kami kecil. Ya Alloh, turunkanlah keridhoanmu untuk mereka. Ya Alloh tempatkanlah kedua orang tua kami di surga Firdaus.

Sumber : Firanda Andirja dari khutbah Asy Syaikh Hatlaan Ali Al Hatlaan.

loading...
Share

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*