Asyiknya Bangun Cinta

Asyiknya Bangun Cinta
Asyiknya Bangun Cinta

“Orang-orang yang sebelumnya belum pernah mengenal, pada akhirnya merasakan bagaimana asyiknya “BANGUN CINTA”. Kalau orang-orang yang jatuh cinta biasanya banyak menyembunyikan segala kekurangan yang ada dalm dirinya”.

Mensyukuri Kelebihannya

Setelah malam-malam indah terlewati, fase perkenalan telah dijalani, kini suami dan istri memasuki fase perjuangan. Akan muncul berbagai hal yang tak terpikirkan sebelumnya. Bahkan beberapa masalah terasa cukup berat untuk dihadapi, sehingga kita melihat pasangan tak seperti dulu lagi.

Ingatlah itu semua adalah ujian cinta kita terhadap pasangan. Allah ingin melihat seberapa besar perjuangan untuk mengekalkan cinta hingga ke surga.

Untuk itu berpikirlah bahwa selalu ada banyak kelebihan yang dapat kita syukuri dari pasangan yang Allah hadirkan untuk kita. Namun, kepekaan kita lah yang mampu menyadari semua anugerah itu.

Coba tatap wajah pasanganmu saat ia tertidur. Ingat-ingat bagaimana kesediannya menerimanu apa adanya. Ingat bagaimana ia rela melupakan semua cinta dan masa lalunya demi memilihmu. Bukankah di luar sana mungkin ada yang lebih cantik atau tampan darimu ? Namun ia percaya kau kan jadi pasangan terbaiknya.

Ya, terlalu banyak kelebihan pasangan yang mesti kita syukuri.

Setelah menikah, ada seorang suami yang merindukanmu, yang membutuhkan belaian hangat dan senyuman mesra dari bibirmu. Padahal dulu ada banyak wanita yang menyukainya, namun hanya kaulah yang mampu membuat hatinya terpikat. Kaulah wanita spesial baginya. Maka, jaga kesetiaannya dengan sebaik-baiknya.

Setiap hari biasakanlah untuk memeluknya, mengucapkan kata cinta san sayang padanya secara langsung. Atau dapat juga menyampaikan rasa cinta melalui sms, BBM, WA dan telepon. Sediakan juga waktu untuk berbincang berdua.

Ada banyak masalah besar yang selesai saat suami dan istri bicara dari hati ke hati. Namun ada banyak masalah kecil menjadi besar jika tak ada komunikasi yang jujur dan terbuka.

MEMAAFKAN KEKURANGANNYA

Salah satu hal penting yang mesti dipersiapkan sebelum menikah adalah kedewasaan mental emosional. Karena, setelah menikah ada banyak hal yang tak sesuai dengan harapan dan impian.

Misalnya suami baru pulang dari tempat kerja ingin dilayani, ternyata istri sedang cukup stres dengan pekerjaan rumah dan mengurus anak. Jika tak ada kedewasaan mental yang terjadi adalah kemarahan.

Suami ingin dilayani tetapi istri ingin dimaklumi. Apalagi saat suami pun banyak masalah di kantornya. Di tambah godaan di sepanjang jalan menuju pulang. Jika tanpa iman peluang tergelincir ke dalam dosa amat besar.

Maka, disini kita mesti belajar bagaimana sang panutan memberikan teladan. Hari itu, Rasulullah sedang menemui sejumlah tamu yang tidak lain adalah para sahabat beliau. Tiba-tiba terdengar suara piring pecah. Ternyata ‘Aisyah baru saja memukul piring berisi makanan yang dibawa oleh pembantu Zainab untuk disuguhkan kepada Rasulullah. Piring itu pecah dan makanannya pun jatuh.

Menyaksikan insiden tersebut Rasulullah tidak marah. Beliau tidak merasa harga dirinya turun. Beliau tidak merasa harga dirinya turun. Beliau tidak merasa kehormatannya dipermalukan. Beliau tidak merasa khawatir disebut sebagai suami yang tidak mampu mendidik istrinya untuk mengendalikan emosi. Sama sekali tidak.

Rasulullah mendekati mereka dengan tenang, seperti tak terjadi apa-apa. Lalu beliau memunguti makanan dari kurma tersebut dan meletakkannya di sisa-sisa piring, kemudian membawanya ke majelisnya semula untuk dimakan bersama para tamu.

“Mohon maaf.. ibu kalian sedang cemburu”. Kata Rasulullah kepada para sahabatnya. Tak lupa, beliau mengganti piring yang sudah pecah tersebut dengan piring yang utuh untuk dibawa kembali oleh pembantu kepada Zainab.

Subahanallah, begitu agungnya akhlak seorang suami idaman seperti Rasulullah. Beliau dapat memahami kondisi jiwa istrinya serta dapat menyelesaikan masalah dengan bijaksana.

Tugas kita bukan untuk mendapatkan pasangan yang sempurna. Tapi menjadi sebaik-baik pribadi bagi pasangan kita, seperti apapun pasangan yang kelak ditakdirkan.

Fokusnya bukan dilayani tapi melayani

Fokusnya bukan dimengerti tapi mengerti

Fokusnya bukan dibahagiakan tapi membahagiakan

Karena cinta itu kerja jiwa. Membangun cinta itu adalah proses mengenal, memahami, menolong juga membimbing pasangan. Maka, menikah bukan akhir sebuah perjuangan, tapi awal sebuah misi peradaban.

Mungkin, pada awal masa pernikahan belum terlihat apa kelemahan atau kekurangan pasangan. Tapi seiring berjalannya waktu mulai terlihat aslinya. Kenapa? Karena kita hidup 24 jam bersamanya. Tak ada yang bisa ditutup-tutupi.

Menikah itu bukan tentang bagaimana menerima kelebihannya saja, tapi bagaimana menyiapkan hati untuk memaafkan dan memperbaiki kekurangannya.

Beri ruang yang lebar untuk memaafkan kekurangan dan kelemahan pasangan. Karena kita pun tidak sempurna. Justru bertekadlah untuk menjadi kesempurnaan hidupnya.

MENANYAKAN APA YANG DISUKA DAN TAK DISUKA

Setiap pasangan tentu punya kecenderungan. Ada yang suka sesuatu, ada juga yang tidak suka. Pacaran setelah menikah memungkinkan kita semakin mengenal apa yang disukai juga yang ia benci.

Seorang pasangan yang baik akan mencoba untuk mencari tahu baik dengan menanyakan langsung atau dengan berjalannya waktu.

Sumbe : Kang Setia Furqon

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*