Memilih Pemimpin untuk Siapa ?

Selalu teringat dengan tulisan om Nash yang bilang “pemimpin menggambarkan siapa yang di pimpinnya”. Saya dan keluarga saya selalu peduli kalau sudah bahas pemimpin karena pak Salim dan bu Hartinah pernah merasakan rasanya menjadi pemimpin. Pemimpin memiliki pengaruh besar untuk orang-orang yang di pimpinnya. Jadi saya sangat bisa merasakan dampak dari kepemimpinan kedua orang tua saya. Pak Salim selalu bilang pimpinan itu panutan yang harus jadi contoh. Itu tidak hanya berlaku di Instansi Pak Salim tapi juga di rumah. Begitupun saat memilih pemimpin untuk Jakarta.

Kemarin saya membaca tulisan pandji stand up comedy “Saya di bayar Anies Baswedan”. Setelah membaca tulisannya, saya langsung follow twitter nya. Saya suka dengan tulisan beliau. Tulisannya benar-benar mencerminkan siapa pemimpin yang dia pilih.

Saya suka dengan pertanyaan beliau “Anda memilih Gubernur untuk anda. Atau untuk seluruh warga Jakarta?” Langsung saya teringat dengan acara yang saya tonton kemarin di TV one bahwa ternyata rakyat Jakarta memilih Gubernur sesuai dengan dirinya sendiri, tanpa paksaan. Jadi benar-benar rakyat Jakarta sangat cerdas memilih pemimpin sesuai dengan hati nya bukan karena uang. Dan kebanyakan orang pasti memilih pemimpin untuk dirinya sendiri.

Lalu, kira-kira saya menulis ini untuk diri saya sendiri atau untuk Jakarta ? Kalau untuk diri saya sendiri rasanya gak karena saya bukan orang Jakarta yang tinggal di Jakarta. Tapi saya peduli dengan Jakarta yang benar-benar berharap memiliki pemimpin luar biasa seperti Pak Ridwan Kamil dan Bu Risma.

Bagi yang bekerja pasti sangat bisa merasakan memiliki pemimpin yang baik dan tidak baik di mata nya. Masing-masing memiliki kriteria pemimpin yang di rasa baik dan tidak baik. Tapi untuk saya, pemimpin itu dilihat dari akhlak / perilaku nya dulu. Soal pintar itu bisa dipelajari. Karena kalau akhlak / perilaku sudah baik, dia pasti bisa memimpin dengan sangat bijaksana dan paham pada bawahannya.

Gak usah jauh-jauh bilang pemimpin itu yang penting tidak korupsi. Korupsi atau tidak itu tidak nampak. Tidak bisa dilihat oleh kasat mata. Tapi yang jelas bisa terlihat dan di nilai dari luar adalah perilaku nya. Perilaku tidak bisa membohongi isi dalam hati dan pikirannya. Karena itu, kalau di Islam bila ingin tahu orang itu seperti apa maka cobalah tinggal 3 hari di rumah nya, cobalah berbisnis dengan nya, dan satu lagi apa gitu lupa. Hahaha.

Saya tidak meminta semua yang membaca tulisan saya untuk memilih pak Anies-Sandi. Karena saya tahu setiap orang punya rasa yang berbeda untuk memilih pemimpinnya. Saya hanya minta, carilah info-info yang nyata di mbah google tentang masing-masing calon gubernur.

Saya memilih Anies dan Sandi begitu simple. Pak Anies adalah seorang pendidik. Dan pak Sandi yang seorang pengusaha. Jadi kalau ditanya tidak korupsi, Pak Sandi adalah orang yang tidak akan korupsi. Secara beliau udah jadi horaangg kayaa dari usahanya. Untuk apa korupsi. Kalau pak Anies yang pendidik akan punya naluri bermanfaat untuk banyak orang. Kalau soal ahlak / perilaku tidak perlu di tanya. Sayangnya pak Anies & Sandi ke kedua orang tua, istri dan anaknya sudah cukup mencerminkan seperti apa beliau berdua.

loading...
Share

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*