Persepsi Perawat Terhadap Continuing Professional Development

Persepsi Perawat Terhadap Continuing Professional Development

Pelayanan kesehatan secara konstan terus berkembang, maju, berevolusi, dan terus meningkat seiring dengan kebutuhan dari perubahan masyarakat. Pengetahuan dan teknik dalam layanan kesehatan terus melaju dengan pesat dan bahkan lingkungan pelayanan kesehatan menjadi semakin kompleks. Penerima layanan kesehatan mempercayai professional kesehatan untuk terus menerus memberikan pelayanan kesehatan yang aman, efisien, efektif, tepat waktu dan berpusat pada pasien. Oleh karena itu, saat ini perawat terdidik dengan baik dan sesuai dengan pengetahuan dan keterampilan.

Continuing Professional Development / Pengembangan professional lanjutan (CPD) dan pendidikan profesional lanjutan (CPE) menjadi istilah yang semakin populer diantara kelompok-kelompok professional sebagai sarana untuk memperbarui pengetahuan dan keterampilan (Xiao, 2006). Tujuannya untuk memastikan bahwa para professional meraih dan mempertahankan kompetensi inti dari Continuing Professional Development (CPD). Sedangkan CPE bersifat penting karena menyajikan teori-teori baru pada profesional dan bukti yang bermanfaat dan tidak bermanfaat dalam praktek mereka.

Di Nigeria, Kementerian Kesehatan, Departemen Ilmu Kesehatan di berbagai universitas, asosiasi professional, institusi kesehatan dan organisasi lainnya serta organisasi non-pemerintah juga menyusun CPE untuk para perawat guna meningkatkan kualitas praktek mereka, biasanya dalam bentuk konferensi, seminar, workshop, dan pertemuan-pertemuan klinik. Akan tetapi, beberapa program tersebut dilaksanakan secara tidak tersruktur.

The Health & Care Professions Council HCPC (2010) mendefinisikan CPE sebagai cakupan aktivitas pembelajaran melalui pengembangan dan mempertahankan para professional layanan dan kesehatan di sepanjang karir mereka untuk memastikan bahwa mereka mempertahankan kapasitas mereka untuk melakukan praktek secara aman, efektif dan legal dalam memperluas cakupan praktek mereka.

Para peneliti (Rodriguez dll, 2010) telah menyatakan bahwa ada pembatasan focus pada evaluasi pendidikan lanjutan (CME) dan pendidikan medis lanjutan (CME) pada khususnya terkait dengan spesialisasi professional yang berbeda sehubungan dengan profesi kesehatan dalam berbagai hal yang berhubungan dengan hasil pasien. Karena CPE dimaksudkan untuk memelihara, meningkatkan dan memperluas pengetahuan dan keterampilan mereka di sepanjang karir kehidupan professional seseorang maka dalam CPE seharusnya dimonitor dan ada feedback dalam praktek dan perilaku yang diberikan. Program CPE harus dapat diakses, interaktif dan digerakkan oleh pembelanjar.

Keuntungan yang dirasakan setelah mengikuti pendidikan professional lanjutan. 99.3% partisipan merasa bahwa CPE membantu para praktisi untuk mempertahankan pekerjaan mereka, 82% mengatakan bahwa CPE membantu mereka memenuhi kebutuhan pasien dan 67.3% mengatakan CPE membantu mengembangkan keterampilan baru. Oleh karena itu, pemertahanan pekerjaan merupakan keuntungan yang paling penting yang dirasakan dari CPE.

Persepsi pembiayaan dalam pendidikan professional lanjutan. Para partisipan menyatakan bahwa pembiayaan CPE harusnya dipikul oleh atasan (72.6%), badan peraturan professional (80.7%), praktisi individu (42.7%) dan asosiasi professional (39.3%) dan 64.0% mengatakan itu seharusnya gratis. Mayoritas (91.3%) merasa bahwa pemberian sponsor dari atasan akan meningkatkan partisipasi terutama ketika program serupa dilaksanakan di luar lingkungan kerja mereka.

Persepsi factor (yang memotivasi dan menghambat) yang mempengaruhi partisipasi dalam pendidikan professional lanjutan. Persepsi factor-faktor yang memotivasi partisipasi CPE mencakup “karena itu perintah” (100%), tanggung jawab professional (67.3%) dan “untuk kepentingan dan pengembangan diri” (54%). Sedangkan factor-faktor yang dirasa menjadi penghambat mereka adalah factor organisasional dan fisik pada sifat dasarnya. Sikap manajer perawat juga dirasa menjadi penghambat partisipasi (45.3%).

Persepsi bagaimana pendidikan professional lanjutan berperan sebagai sarana pemberian kualitas layanan. Para partisipan merasa bahwa CPE memungkinkan para perawat untuk memberikan kualitas layanan dalam hal efektivitas (100%), efisiensi (100%), relevansi (98.0%), dan keselamatan (92.0%) dengan hanya 12.7% untuk konsistensi layanan. Sebagian partisipan, 135 (90.0%) merasa bahwa karena tidak ada monitoring follow up untuk memastikan bahwa pembelajaran CPE diterapkan dalam praktek, maka sulit untuk menilai secara objektif apakah program tersebut berpengaruh atau tidak terhadap kualitas layanan perawat yang mengikuti program CPE.

Pada umumnya, perawat memiliki persepsi positif terhadap pendidikan professional lanjutan. CPE dianggap berharga untuk praktek meskipun terfragmentasi dan tidak digerakkan oleh pembelajar. Para perawat terutama termotivasi untuk berpartisipasi karena program-program CPE merupakan perintah, untuk mempertahankan pekerjaan mereka dan untuk mengembangkan keterampilan mereka dalam praktek.  Direkomendasikan bahwa pemimpin perawat di Nigeria harus mengembangkan modul CPE dengan topic keperawatan dan isu-isu kesehatan serta mengalokasikan poin untuk mereka sehingga partisipasi CPE akan berkontribusi pada kemajuan karir. Modul tersebut harus berupa arahan diri dan dapat diakses secara online. System monitoring dan evaluasi yang efektif juga harus dilaksanakan di Nigeria untuk menilai CPE dan dampaknya pada kompetensi professional, kinerjanya, dan hasilnya pada pasien.

loading...
Share

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*