Menjaga Anak dari Pelecehan Seksual

Menjaga Anak dari Pelecehan Seksual

Apa itu pelecehan seksual ? Pada biblioterapi tematik kali ini mengangkat tema dari buku pelecahan anak karya Nurul Chomaria. Buku ini merupakan buku non fiksi yang akan membantu dalam biblioterapi kognitif. Pada halaman 16-18 menjelaskan bahwa pelecehan seksual adalah kontak atau interaksi antara anak dan orang dewasa, kemudian anak tersebut dipergunakan untuk stimulasi seksual oleh pelaku atau orang lain yang berada dalam posisi memiliki KEKUATAN atau KENDALI atas korban.

Sikap/perilakunya: kontak fisik yang tidak pantas, membuat anak melihat tindakan seksual atau pornografi, menggunakan anak untuk membuat pornografi/pornoaksi, memperlihatkan alat genital orang dewasa kepada anak, untuk menstimulasi hasrat si pelaku, diajak melihat film porno, diperlihatkan aktivitas seksual secara langsung. Pokoknya segala tindakan melanggar kehormatan diri anak secara seksual, secara fisik dan verbal. Cakupannya luas, mulai dari kata-kata jorok yang ditunjukkan kepada anak sehingga ia merasa malu, tersinggung, marah, sakit hati, tindakannya memegang, mencowel, melakukan sentuhan-sentuhan tidak pantas, dst.

Apa yang harus dilakukan anak/orangtua/keluarga sebagai pencegahan? Membekali anak mengenali tindakan yang pantas atau tidak pantas dilakukan orang lain terhadap dirinya, sebagai bekal bergaul dengan teman sebaya atau orang yang lebih dewasa. Lebih penting lagi berikan rasa aman kepada anak sehingga anak dengan suka rela selalu menceritakan berbagai pengalamannya. Bekali dengan pemahaman agama yang komprehensif (bisa lewat berqisah). Ada 12 pencegahan.

Bagaimana bila sudah terjadi ? Pada halaman 94, reaksi umum biasanya marah, terkejut, bingung, sedih dan tidak terima. Meski begitu wajar, tapi tetaplah bersikap tenang. Jangan tampakkan ledakan emosi yang justru membuat anak malah takut dan jadi mengangggap kita marah kepadanya. Bisa-bisa anak bungkam lalu merasa bersalah. Minta ahli biblioterapi untuk mengelola emosi kita dan melakukan eksplorasi kejadian kepada anak. Jangan juga merasa malu untuk mengungkap kejadiannya karena itu musibah dan bukan aib. Meski bukan menimpa anak kita, jangan merasa berat membantu, juga bahkan jangan merasa berat untuk jadi saksi di pengadilan. Yakinkah bahwa anak tidak bersalah dalam kasus ini.

Early sex education untuk anak usia pra sekolah (3-7 tahun) efektif dapat mencegah pelecehan seksual pada anak. Tentu saja early sex education bukan langsung pada material reproduksi yang dipelajari secara ilmiah di usia 11 tahun (5-6 SD). Ada tingkatannya. Early sex education untuk usia pra sekolah diawali dengan mengenalkan bagian tubuh. Menyebut nama alat kelamin secara jelas merupakan ‘pintu gerbang’ untuk menjelaskan tahap selanjutnya yang berkenaan dengan menstruasi dan mimpi basah. Beri pemahaman tentang seks terhadap prasekolah berdasarkan nilai ajaran agama dan nilai moral, rasa aman, komunikasi supaya ke depan tidak takut bertanya pada orangtua. Sesuaikan penjelasan dengan usia dan tingkat pemahaman anak. Misalnya tanya dari mana datangnya adik bayi ? Jawab “dari perut ibu”. Batasi penjelasan/jawaban tanpa perlu melebar misal saat menstruasi tidak sholat. Anak tanya, jawabannya “sedang menstruasi jadi tidak boleh sholat”.

Sumber : Bunda Susan (Susanti Agustina) dalam Komunitas Biblioterapi Indonesia

loading...
Share

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*