Problematika Rumah Tangga

Stop Mencari yang Sempurna, Jadilah Penyempurna
Stop Mencari yang Sempurna, Jadilah Penyempurna

Dalam komunikasi tidak dapat dihindari adanya perbedaan pendapat dan pertentangan pendapat yang kemudian dapat mengarahkan pada terjadinya konflik. Konflik merupakan hal yang tidak dapat dihindarkan dalam semua hubungan antar pribadi.

Patut disayangkan bahwa dalam masyarakat kita sebagian menganggap konflik sebagai hal yang harus dihindari, padahal sebenarnya konflik juga dapat bersifat positif dan membuat hubungan menjadi lebih sehat.

Konflik dapat meningkatkan kesadaran tentang adanya masalah dalam hubungan tersebut, dapat juga memberikan kekuatan dan motivasi dalam menghadapi masalah dan bukannya menghindari masalah, dapat membantu membuat keputusan yang lebih baik dan membantu kita untuk memahami dan lebih mengerti diri kita sendiri, serta dapat memperdalam suatu hubungan.

Biasakan jika ada masalah kecil komunikasikan, meski masing-masing sedang sibuk maka sempatkanlah, jangan memendam masalah, ini akan membahayakan.

EKONOMI : ISTRI KERJA ATAU NGGAK

Sebelum menikah sangat penting bagi calon pasangan suami istri jelaskan dari awal apakah seorang istri boleh bekerja, berkarya atau sebagainya. Tidak semua laki-laki menginginkan istrinya bekerja, jika membolehkan tanyakan syarat-syarat apa yang harus dipenuhi.

Sebetulnya seorang istri bekerja boleh-boleh saja, asalkan ada niat yang jelas dan bukan untuk mengejar karir, karena tugas utama seorang wanita itu di rumah bukan bekerja, mengurus suami dan mendidik anak-anak itu adalah hal yang utama.

Ketika syarat-syarat tersebut telah terpenuhi, maka wanita pun boleh keluar rumah bahkan untuk bekerja. Namun hendaknya dipahami lagi, jenis-jenis pekerjaan seperti apa yang boleh dilakukan oleh wanita, sesuai dengan aturan Islam.

SEBAIK-BAIK TEMPAT WANITA ADALAH RUMAH

Dari ulasan diatas, tetaplah sebaik-baik tempat wanita adalah di rumahnya. Allah SWT berfirman :”Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu” (QS Al Ahzab : 33).

Yang dimaksud dengan ayat ini adalah hendaklah wanita berdiam di rumahnya dan tidak keluar kecuali jika ada kebutuhan.

Sehingga jika ada pekerjaan bagi wanita yang bisa dikerjakan di rumah, itu tentu lebih layak dan lebih baik. Dan perlu ditekankan kewajiban mencari nafkah bukanlah jadi tuntutan bagi wanita. Namun prialah yang diharuskan demikian. Inilah yang Allah perintahkan.

Allah SWT berfirman “Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya” (QS. Ath. Tholaq : 7)

LDR (LONG DISTANCE RELATIONSHIP)

Hubungan jarak jauh atau yang saat ini terkenal dengan nama LDR (Long Distance Relationship) memang saat ini tengah popular-populernya dan mungkin banyak orang yang harus menjalani hubungan tersebut karena suatu keadaan dan juga keterpaksaan.

Bagaimana jika suami harus menghidupi keluarganya dengan bekerja di luar kota ? Dalam hal ini memang keputusan, keridhoan dan juga kesadaran dari seorang istri juga sangat penting, apakah ia rela pasangannya (suami) tersebut pergi jauh meninggalkan dirinya ataukah tidak.

Hal inilah yang juga harus dipikirkan terlebih dahulu oleh kehidupan berkeluarga. Seorang suami dalam mengambil keputusan juga harus memahami bagaimana pikiran dari pasangannya dan begitu sebaliknya.

Namun meskipun mereka sudah ridho menjalani hubungan jarak jauh. Suami juga harus memahami dan juga harus memberikan waktu untuk bertemu dengan istrinya. Suatu pasangan tidak boleh tidak bertemu sama sekali dengan pasangannya dalam kurun waktu yang begitu lama.

Setidaknya mereka harus bertemu dalam kurun waktu paling lama 6 bulan sekali. Karena batas waktu itulah yang merupakan waktu maksimum untuk seorang istri dapat bertahan dalam perpisahan bersama suaminya.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh pasangan suami istri dalam menjalani hubungan jarak jauhnya yaitu :

  • ridha dan ikhlas
  • Sesering mungkin suami menjenguk istrinya
  • Tidak melebihi batas maksimum berpisah sebagai seorang suami istri yaitu 4 bulan. Namun jika dalam keadaan darurat diperbolehkan 6 bulan
  • Berhati-hati dengan hasutan dunia luar dan juga lingkungan
  • Sebaiknya seorang istri ikut suami dimanapun mereka berada

PERSELINGKUHAN

Melakukan perselingkuhan sama artinya dengan melakukan pengkhianatan. Kendati perselingkuhan yang dilakukan hanya sebatas ketidaksetiaan emosional, berhati-hatilah terhadap salah satu bentuk zina karena dengan perbuatan tersebut pelakunya bisa juga melakukan zina hati.

Padahal, mendekati zina saja sudah tidak boleh, apalagi melakukannya. Terlebih lagi jika perselingkuhannya menghantarkan kepada sebenar-benarnya zina (zina kemaluan).

Allah berfirman “Dan janganlah kalian mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk” (QS Al Isra : 32)

PEMICU PERSELINGKUHAN

Banyak sekali faktor yang memicu aksi ini tercipta, entah karena faktor internal, eksternal atau sosial. Beberapa faktor yang banyak menjadi biang keladi tercipta dan tersebarnya perselingkuhan adalah

  1. Minimnya pemahaman beragama
  2. Minimnya komitmen berumah tangga dan kedewasaan berpikir dalam mempertahankan pernikahan.
  3. Pergaulan bebas antara laki-laki dan wanita
  4. Kurang tercapainya kepuasan dalam perkawinan (marital disatisfaction)
  5. Kepribadian narsistik
  6. Tidak menundukkan pandangan
  7. Ada “dayyuts” (pria yang tidak memiliki rasa cemburu) di rumah Anda
  8. Bertebaran wanita yang bertabarruj
  9. Bosan
  10. Pelarian dari tekanan masalah dalam rumah tangga

MENYALAHKAN PASANGAN

Ada sebuah ucapan yang dinisbahkan kepada Sayyidina Ali, salah seorang sahabat Nabi yang dikenal keluasan ilmunya dan kedalaman hikmahnya. Konon beliau mengatakan “sahabat terbaik bukanlah orang yang selalu membenarkanmu. Tetapi sahabat terbaik adalah yang membuat kamu benar”.

Dari sisi makna, perkataan ini mempunya maksud bahwa sahabat terbaik adalah seseorang yang senantiasa menginginkan kebenaran selalu beserta kita sehingga tidak membiarkan kita berada dalam kesalahan.

Ia mengingatkan kita ketika terjatuh dalam perilaku atau pikiran yang salah, apalagi sesat. Ia menunjukkan kepada kita dengan penuh kasih sayang letak kesalahan kita dan bila perlu memarahi kita, marah karena rasa kasih. Ia mengoreksi apa yang melenceng, membetulkan apa yang tidak tepat, meluruskan apa yang bengkok, dan apabila perlu mematahkan apa yang berlebihan dan tidak perlu.

Sahabat yang berbahaya bagi keselamatan kita di dunia dan akhirat justru yang selalu mengiyakan perkataan kita, membenarkan setiap perkataan kita meskipun nyata-nyata salah hanya agar kita menganggapnya sebagai sahabat yang setia dan seterusnya.

Lebih berbahaya lagi jika sahabat itu mencarikan untuk kita bahan-bahan pujian untuk perkara yang seharusnya tidak dipuji, selalu menunjukkan pemakluman dengan pembelaan panjang atas kekeliruan kita (bukan memaklumi untuk meluruskan kita dengan cara hikmah), dan semacamnya.

Jika sahabat terbaik adalah yang selalu ingin membuat kita benar sehingga ia tak pernah segan mengingatkan kita tentang perkara yang salah, maka tidak demikian yang dimaksud dengan sikap menyalahkan pasangan dalam tema yang kita bahas sekarang. Sikap menyalahkan pasangan merupakan bentuk pertahanan diri, ketidakmauan dikoreksi atau karena ingin menunjukkan “jika aku bisa salah, sesungguhnya engkau juga sangat bisa salah, karenanya jangan salahkan aku”.

Apa yang dipersalahkan bisa jadi tepat, bisa jadi keliru. Boleh jadi istri memang melakukan kesalahan seperti yang dipersalahkan oleh suami; tetapi juga sangat mungkin bahwa apa yang dipersalahkan oleh suami adalah perkara yang tidak salah. Hanya suami belum melakukan tabayyun (mencari kejelasan) atau suami memang tidak mau mendengar bayan (penjelasan) yang diterima.

SALING MENYALAHKAN

Komunikasi suami istri akan bertambah runyam jika keduanya sudah saling menyalahkan. Munculnya situasi saling menyalahkan ini mudah dipahami. Kebanyakan dari kita mudah sekali terpancing oleh sikap yang ditunjukkan teman hidup kita, bahkan kadang sikap yang tidak dimaksudkan untuk membuat kita masygul. Kita mudah mereaksi, sehingga berbalas menyalahkan dapat dengan mudah terjadi ketika teman hidup kita menyalahkan. Alhasil, tak ada penyelesaian masalah kecuali menambah gerahnya suasana batin di rumah.

POLIGAMI

Untuk melakukan pernikahan poligamis kita harus melihat diri kita sendiri apakah kita termasuk orang yang mampu berbuat adil atau tidak. Untuk bisa melihat diri sendiri dengan tepat dan adil, ia memerlukan ilmu yang matang dan pengenalan diri yang mendalam.

Kehadiran seorang guru yang jujur dan adil sangat membantu untuk mengetahui apakah seseorang memenuhi persyaratan atau tidak ketika ingin melakukan pernikahan poligamis. Amat sering kita tidak mampu menilai diri kita sendiri. Terkadang kita menilai lebih diri kita sehingga kita menganggap diri kita memenuhi syarat, padahal tidak.

Namun demikian, kita kadangkala juga menilai diri kita terlalu rendah sehingga menganggap belum memenuhi syarat, padahal sudah saatnya menolong saudara-saudara kita. Jadi tidak setiap laki-laki muslim dengan sendirinya boleh begitu saja menikah secara poligamis.

Kata Jamilah Jones dan Amu Aminah Bilal Philips dalam buku mereka yang berjudul Poligami dan poligini dalam Islam “Kita pelu ingat bahwa prialah yang pertama kali disuruh menikah dengan dua, tiga atau empat orang wanita, kemudian dia dinasehati agar menikah dengan seorang wanita saja bila tidak dapat berbuat adil dengan lebih dari seorang istri. Ini tidak berarti bahwa Islam menganjurkan semua pria untuk menikah dengan sekurang-kurangnya dua orang wanita, tetapi tambahan istri itu jelas diperbolehkan bagi orang-orang (pria) yang dapat memenuhi persyaratan-persyaratannya.

Sumber : Setia Furqon Kholid

loading...
Share

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*