Hubungan Dukung Bela Qur’an dengan Kedekatan pada Qur’an

Bolehkah saya mengklaim bahwa muslim yang membela qur’an adalah muslim yang sering membaca qur’an?? Mungkin harus melakukan penelitian dulu biar bisa menjawab penasaran saya bahwa seseorang yang sering membaca qur’an akan membela qur’an. Kenapa saya bisa berpendapat demikian? Saya bukan muslim yang sholeha / alim. Saat masih SD di Al Irsyad,disuruh menghafal surat-surat pendek. SMP dan SMA hampir dibilang jarang sekali pegang qur’an. Pas kuliah baru sedikit insyaf karena ikut rohis. Paling insyaf pas awal kerja yang tanpa sebab pingin ikut gabung di grup WA ODOJ (one day one juz). Pas gabung, benar-benar perjuangan sekali harus khatam 1 juz tiap hari apalagi kalau lagi sibuk-sibuknya tugas kantor. Kemana pun pergi di tas selalu bawa qur’an karena waktu itu HP ga cukup instal quran digital. Satu bulan aman. Dua bulan masih aman. Dan akhirnya kira-kira 7 bulan, saya memutuskan untuk left dari grup WA ODOJ. Apalagi kalau bukan karena gak kuat harus 1 hari 1 juz dengan kerjaan yang gak ada habisnya. Haha. Setan datang.

Kemarin saat aksi damai 4 November 2016, saya ikut menyebarkan informasi di FB tentang aksi damai tersebut. Saya merasa harus melakukannya. Saya pun tak tahu siapa yang menggerakkan saya. Tapi saya mencoba menganalisis diri saya sendiri. Kenapa saya mau ikut membela qur’an? Kalau di alam sadar, saya merasa melakukannya karena para ulama seperti Aa gym, Bachtiar Nasir, Yusuf Mansyur, Arifin Ilham, Syech Ali Jaber ikut turun ke jalan bela qur’an. Karena jarang-jarang para ulama terkenal yang sudah tidak diragukan lagi kedekatannya dengan Allah SWT, Rasulullah, dan al qur’an mau turun ke jalan. Berarti ini masalah besar. Dan saya sebagai muslim yang tidak alim merasa harus mendukung berada di belakang para ulama.

Namun saya pikir-pikir, mungkinkah yang menggerakkan saya adalah al-qur’an yang selama 7 bulan tidak pernah lepas dari saya. Saya sangat ingat sekali. Seberat-beratnya tas saya, saya harus bawa al qur’an. Bahkan pulang ke rumah pun harus bawa al qur’an saya walau di rumah juga ada al qur’an. Saya bahkan pernah merasa sendiri dan menangis dengan masalah saya. Dan yang saya punya dan selalu menemani saya adalah al qur’an saya ini. Saya memeluknya saat tidur agar saya bisa tenang menghadapi masalah-masalah saya.

Saya ingin membela qur’an karena saya pernah merasakan kedekatan yang begitu nyata dengan qur’an yang bahkan orang lain pun tidak peduli dengan urusan-urusan saya. Walau sekarang saya sudah tidak 1 hari 1 juz lagi tapi setidaknya saya pernah menjadi mantan anak ODOJ yang dekat dengan qur’an.

Kepada muslim yang masih membela bapak penghina qur’an, saya tidak marah atau memaksa Anda untuk ikut membela qur’an. Karena memang hanya orang-orang yang dekat dengan qur’an yang bisa merasakan bagaimana rasanya qur’an di hina. Seperti Anda yang sayang dengan anak-anak Anda. Anda rela dihina tapi jangan hina anak dan orang tua Anda.

Tulisan ini untuk teman saya yang baru saya curhat ke saya karena habis di bully dikira membela bapak pembela qur’an. Dia teman saya dan saya yakin dia ada di pihak saya yang juga membela qur’an. Hanya saja cara penyampaian dia yang disalah artikan oleh orang-orang yang belum paham tentang teman saya ini. Jangan sedih. Semoga sedihmu sebagai bukti atau saksi di hari akhirat bahwa kau pembela qur’an. Aamiin

loading...
Share

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*