Bedah Buku : Inspirasi dari Rumah Cahaya

Inspirasi dari Rumah Cahaya

Manusia itu BERUBAH. Seperti qisah Muhammad Al Fatih. Pada halaman 48 diceritakan oleh Budi Ashari, bahwa sesungguhnya Al Fatih (penakluk konstantinopel) bukanlah anak yang terbilang istimewa sejak kecil. Ayahnya, Sultan Murad II justru mengeluhkan Al Fatih kecil yang tidak mau belajar. Terlahir sebagai anak bangsawan-menyandang predikat putera mahkota-ternyata sedikit banyak membuatnya merasa bisa bersikap semaunya. Al Fatih kecil menganggap tak seorang pun yang melarangnya. Guru silih berganti, tak ada juga yang PAS. Hingga ada satu ulama bernama Ahmad bin Ismail Al Kurani dipanggil ke istrana. Sultan curhat tentang kelakuan Al Fatih kecil ke beliau. Sultan menyerahkan satu pemukul kecil kepada sang gutu untuk digunakan seandainya Al Fatih tidak mau mendengarkan/menurut. Tibalah hari pertama Syaikh Ahmad mengajar Al Fatih. Benar saja, Al Fatih bertindak semaunya. Tak ada penghargaan sedikitpun terhadap sang guru, ia menertawakan gurunya. Maka, pelajaran pertamanya adalah merasakan sabetan sang guru, sesuai amanah ayahnya.

Dahsyat! Teguran itu membuatnya terkejut. Di luar dugaan Al Fatih. Selama ini keyakinannya pasti semua guru menuruti keinginannya, mendadak runtuh. Setelah kejadian itu, Al Fatih kecil menurut dan mau belajar dengan tekun. Pukulan itu telah mengentak jiwanya. Sekaligus menyadarkan tentang siapa sesungguhnya dirinya. Hanya seorang anak kecil yang bukan penguasa. Dan yang terpenting semua peristiwa itu telah membuka hatinya untuk menerima ilmu kedua, guru spiritualnya Aq Syamsudin yang selalu mengajak Al Fatih berkuda menyeberangi boshporus, saat kuda sudah tak berani lagi maju karena sudah terasa dalam, sang guru menunjuk benteng megah di seberang selat sambil membacakan janji Nabi akan penaklukan benteng itu oleh generasi istimewa “itulah bentengnya dan kamulah panglimanya”.

Kalau orangtua sekarang ? jangan jualan, jangan mikir macem-macem, udah kamu yang penting sekolah yang bener, kuliah yang rajin, supaya sukses dapat uang banyak/kerja layak. Itu adalah pragmatisme murahan BUKAN proses penanaman visi jauh ke depan. Ternyata masa depan yang dipikirkan (kebanyakan) orangtua hanya masa kini. Masa depan sesungguhnya adalah kebesaran Islam.

Pada buku Inspirasi dari Rumah Cahaya halaman 13 ada sebuah kutipan yang penting “Hati-hatilah ayah bunda dengan kalimat legitimasi” seperti “ah itu wajar, kayak gak pernah muda aja”. Memang remaja sedang dalam usia mencari jati diri. Ini bisa jadi pemantik api besar. Segera bertanya dan tidak mendiamkan setiap gejala perubahan. Perubahan bukan sesuatu yang terjadi begitu saja. Tetapi ada keyakinan salah di baliknya yang harus segera diluruskan sebelum api membesar. Teknik yang bisa dilakukan dengan bertanya “pacaran itu menurutmu apa, dek?”, kalau menurut ibu pacaran itu “perbaikan cara membaca al qur’an” (misalnya). Lalu soal CINTA, senangnya dikaruniai CINTA, sebaik-baik cinta itu cinta sama Alloh dan Rosulullah SAW. Kalau cinta kita sudah dibalas oleh Alloh, nanti kita bisa meRASAkan dicintai makhlukNya. “Adek, pingin dicintai siapa?”. Terkait pacaran, kasih hadiah buku “udah putusin aja” atau buku “budaya pop remaja”.

Pesantren bukan tempat anak-anak bermasalah. Survey dulu bagaimana guru/pendidik/pengasuh si pesantren. Carikanlah pendidik yang bukan saja BERILMU tinggi, tapi juga BERAKHLAH MULIA. Sebab seringkali sesuatu yang tidak terucapkan tetapi terajarkan (halaman 41). Yakinkan cita-cita masa depan (akhirat) harapan orangtua.

Sumber : Susan Motherpreneur untuk KBI online 24 Oktober 2017.

loading...
Share

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*