Keluarga Ideal

Keluarga Ideal
Keluarga Ideal

Setiap orang tentu punya impian untuk membangun keluarga yang ideal. Ibarat sebuah bangunan, pondasi yang tidak kokoh bisa membuat bangunan roboh. Pondasi sebuah rumah tangga yaitu tauhid. Kalimat tauhid yang kita hafal semua yaitu ‘Laa ilaaha ilallah’. Tiada Tuhan selain Allah. Semestinya pondasi akidah ini yang bisa memperkuat keutuhan semua anggota keluarga. Baik itu istri dan suami, suami dan istri, juga antara orang tua dan anak.

Jika landasan cinta seorang suami karena akidah maka keluarga makin indah. Jika landasan cinta seorang istri karena akidah maka hidup makin berkah. Jika landasan cinta seorang anak karena akidah maka hidup terasa mudah.

Anak yang dididik dengan cinta yang berdasar tauhid mencintai orangtua dan saudara bukan hanya karena mereka terlahir dengan ikatan darah. Atau dipaksa mencintai karena ikatan anak dan orangtua. Tapi jauh lebih mulia dari hal tersebut. Ia melakukan semuanya karena ingin mendapat ridho TuhanNya.

Indahnya jika cinta dibingkai dengan tauhid. Seperti Nabi Ibrahim yang diuji Allah untuk menyembelih putra yang dicintainya, Ismail. Berat dirasa namun karena kecintaan pada Tuhan melebihi cinta pada selainNya maka perintah pun ditaati.

Apa jadinya jika bangunan tak berdinding ? Dingin terasa, tak ada privasi, yang pasti kenyamanan pasti kurang. Nah, begitu juga dengan keluarga yang dibangun. Dengan dinding ilmu bisa menjadikan keluarga yang dibangun menjadi keluarga idaman yang sakinah, mawaddah warahmah.

Suatu saat Imam Ali Bin Abi Thalib RA pernah ditanya tentang keutamaan ilmu oleh beberapa orang yang berbeda. Dan dengan cerdasnya beliau menjawab 10 keutamaan ilmu

  1. ilmu adalah warisan para Nabi dan Rasul, sedangkan harta adalah warisan Fir’aun dan Qarun
  2. Ilmu akan menjaga kita, sedangkan harta sebaliknya, kitalah yang harus menjaganya
  3. Semakin banyak ilmu semakin banyak orang yang menyayangi dan menghormatinya. sedangkan semakin banyak harta, semakin banyak musuh dan orang yang iri kepadanya
  4. Ilmu jika diamalkan malah akan semakin bertambah, sedangkan harta jika digunakan akan semakin berkurang
  5. Pemilik ilmu akan dihormati dan mendapat sebutan baik, sedangkan pemilik harta seringkali dicemooh dan mendapat julukan yang buruk
  6. Ilmu tidak ada pencurinya sedangkan harta banyak pencurinya
  7. Pemilik ilmu akan diberi syafaat (pertolongan) dihari akhir kelak, sedangkan pemilik harta akan dihisab diusut asal muasal hartanya oleh Allah SWT
  8. Ilmu akan kekal selamanya, sedangkan harta akan habis suatu saat nanti
  9. Pemilik ilmu akan dijunjung tinggi dengan kualitas manusianya, sedangkan pemilik harta akan dijunjung tinggi dengan kualitas hartanya
  10. Ilmu itu akan menyinari pemiliknya, sehingga hatinya menjadi lembut. Sedangkan harta akan membuat gelap mata pemiliknya, hati menjadi keras dan hidup tidak tentram

Indahnya jika keluarga yang mempunyai dinding ilmu. Ilmu mendidik anak, ilmu menjadi suami idaman, ilmu mendidik istri, ilmu taat pada suami, ilmu menjemput rizki, ilmu fikih, akidah, akhlak, tarikh (sejarah islam), ilmu bahasa arab, ilmu al qur’an, ilmu sains dan teknologi dan ilmu-ilmu lainnya.

Cinta pada seseorang menimbulkan harapan. Sayang pada seseorang menumbuhkan pengorbanan.

Cinta membutuhkan pertemuan fisik. Sayang menembus batas ruang dan waktu.

Cinta hadir karena sebab dan hilang saat sebab tak ada lagi. Sayang hadir tanpa sebab, ia abadi di sanubari.

Cinta itu memberi untuk menerima Tapi sayang memberi untuk menumbuhkan.

Cinta bertemu karena kesamaan persepsi. Sayang tumbuh karena kesamaan visi.

Ada jatuh cinta, tapi tak pernah ada jatuh sayang. Dalam beberapa detik kau bisa mencintainya, namun tidak begitu dengan sayang. Karena sayang itu proses mengerti, memahami, menolong, serta mendahulukan dalam rentang waktu yang panjang. Di lima tahun pertama usia pernikahan mungkin cinta yang dominan, namun selanjutnya yang membuat ikatan pernikahan senantiasa langgeng adalah sayang.

Apa jadinya kapal tanpa nahkoda ? Apa jadinya pesawat tanpa pilot ? Apa jadinya pula keluarga tanpa pemimpin dan visi. Visi yang membuat arah menjadi jelas, visi yang membuat semua anggota paham arah yang kan dituju.

Jika keluarga yang dibangun tanpa visi maka yang terjadi kesemrawutan. Suami bisa selingkuh, istri sibuk bergosip, anak asyik dengan narkoba dan sex bebas. Jangan salahkan jika ketenangan dalam rumah semakin hilang, jangan salahkan jika keberkahan dalam keluarga makin sulit dicapai.

Misalnya ada keluarga yang bervisi surga. Cita-citanya reuni di surga, semangatnya untuk saling membantu untuk bisa mendapatkan surga.

Idealnya sosok seorang muslim yaitu mempunyai istri yang sholehah, rumah yang lapang dan luas, tetangga yang baik dan kendaraan yang nyaman. Belum lagi kriteria untuk bisa mengajari berkuda, memanah dan berenang. Terbayang, luasnya dan lengkapnya fasilitas rumah idaman.

Ini dapat dijadikan motivasi yang baik bagi kita untuk terus menerus meningkatkan kapasitas dan kualitas hidup kita. Juga sekaligus sebagai sebuah patokan rumah seperti apa yang mesti dibangun. Misalnya sebelum memilih tempat tinggal lihat dulu siapa tetangganya, baik atau tidak. Lingkungannya baik dan memudahkan untuk ibadah atau tidak, dekat dengan masjid atau tidak.

Begitu juga dengan tuntunan untuk membuat rumah, Islam menganjurkan untuk membuat rumah yang lapang dan luas. Karena dalam sebuah penelitian anak yang dibesarkan di rumah yang luas dan lapang membuat hatinya luas dan berpikiran besar. ‘kasihan kan’ jika anak sedang senang berlari-lari setiap menit ‘kejedot’ pintu ‘saking’ sempitnya. Tapi biarpun rumah sempit kalau hatinya lapang insyaalloh tetap bahagia.

Sumber : Setia Furqon Kholid

loading...
Share

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*