Mewujudkan Perubahan Citarum yang Wangi

Mewujudkan Perubahan Citarum yang Wangi

Sungai Citarum merupakan sungai terpanjang dan terbesar di tanah Pasundan Provinsi Jawa Barat. Citarum berawal dari Situ Cisanti yang terletak di kaki Gunung Wayang mengalir sejauh 269 km yang akhirnya bermuara di laut Jawa. Citarum memiliki daerah aliran sungai seluas 12.000 Km2. Sedikitnya 15 juta orang hidup di sepanjang aliran sungai Citarum. Sungai Citarum melintasi 12 wilayah administrasi kabupaten/kota meliputi Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Bogor, Kabupaten Bekasi, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Karawang, Kabupaten Purwakarta, Kabupaten Subang, Kabupaten Sumedang, Kota Bandung, Kota Cimahi. Namun, potret sungai Citarum yang keruh, penuh sampah, dan tercemar ragam limbah menjadikannya sebagai salah satu sungai paling tercemar di Dunia. Walaupun sungai Citarum dinobatkan sebagai sungai paling kotor di Dunia namun mengembalikannya ke kondisi semula bukan merupakan hal yang mustahil untuk terjadi.

Permasalahan Sungai Citarum dari Hulu, Tengah dan Hilir

Pemetaan permasalahan citarum terbagi menjadi tiga area yaitu Citarum hulu, Citarum tengah dan Citarum hilir. Permasalahan pertama di area Citarum hulu adalah banyak masyarakat membuka ladang dengan cara merambah hutan. Sehingga terjadi penebangan dan penggundulan hutan serta pengolahan lahan yang kurang tepat sehingga menyebabkan lahan kritis muncul dari berkurangnya fungsi kawasan lindung yang disusul dengan permasalahan berikutnya. Penebangan pepohonan menyebabkan erosi yang tinggi mencapai 31,4 % dari luas wilayah sungai Citarum. Serta sedimentasi mencapai 7.900 ton/Ha. Eksploitasi air tanah yang tak terkendali di wilayah perkotaan dapat menyebabkan keringnya air tanah. Fakta menyebutkan penurunan muka air tanah mencapai 5 meter/tahun. Permasalahan berikutnya yaitu penurunan kualitas air yang disebabkan oleh beberapa hal seperti pencemaran akibat limbah kotoran sapi. Sebanyak 29.000 ekor sapi yang dimiliki oleh 7.000 peternak menghasilkan limbah kotoran mencapai lebih dari 400 ton/hari. Penyebab berikutnya yaitu pencemaran limbah pabrik. Lebih dari 3000 pabrik tekstil berdiri bersisian dengan jalur sungai Citarum. Dari jumlah pabrik tersebut hanya 10 %  saja yang mengelola kembali limbahnya. Sisanya, limbah dibuang begitu saja ke sungai Citarum dan anak-anak sungai. Tercatat dari sejumlah industri di kabupaten Bandung membuang limbah kimia sebanyak 280 ton/hari. Pendirian pabrik sepanjang Citarum telah berlangsung sejak dekade 80an. Industri tekstil menjadi wajah utama pabrik-pabrik tersebut. Tak pelak limbah tekstil mewajahi sungai Citarum. Merah bahkan hitam adalah rona Citarum. Warna biru seharusnya menjadi kodratnya. Pabrik-pabrik nakal ini biasa membuang kotoran saat malam hari terutama saat musim hujan agar praktek kotor pembuangan limbah tak terlihat masyarakat. Pencemar Citarum bukan hanya limbah industri saja, sampah organik dan non organik turut mencemari sungai Citarum. Sedikitnya 20.000 ton ampas rumah tangga maupun non medis dilarung di Citarum setiap harinya.

Permasalahan di Citarum tengah. Proses erosi yang terjadi di Citarum hulu menyebabkan sedimentasi pada dasar Waduk di Citarum tengah. Laju sedimentasi di Waduk Saguling sampai 8,2 juta m2/tahun, di Waduk Cirata mencapai 6,4 juta m2/tahun dan di Waduk Jatiluhur mencapai 1,6 juta m2/tahun. Sedimentasi semakin tebal akibat pemberian pakan ikan yang berlebihan dan kemudian mengendap di dasar waduk. Pencemaran akibat sampah padat menjadi salah satu permasalahan klasik lainnya. Tercatat sampah padat lainnya sebanyak 250.000 m3/tahun berhasil di angkut di area Waduk Sagule. Hal ini berpotensi sebagai penyebab kerusakan pada instalasi PLTA.

Permasalahan di Citarum hilir. Perkembangan sosial ekonomi memicu pesatnya urbanisasi dan pertumbuhan penduduk. Hal ini menyebabkan berkurangnya ruang hijau di daerah aliran sungai citarum dan tergantikan oleh pertumbuhan kawasan pemukiman dan industri. Perlakuan negatif pada sungai ditambah tingginya curah hujan berpotensi menyebabkan banjir. Ketika banjir terjadi, permukaan air sungai akan meninggi akibatnya ikan di tambak akan hanyut dan lepas. Kerugian para nelayan sungai tersebut menjadi lebih besar ketika ikan mati atau akibat pencemaran air. Kenyataan pahit lainnya yaitu kualitas hidup masyarakat yang rendah dan minimnya sarana sanitasi menyebabkan berbagai penyakit seperti diare dan penyakit kulit yang menjangkiti masyarakat yang hidup di sekitar daerah aliran sungai citarum. Di bidang pertanian, masalah terjadi ketika debit air berkurang pada saat musim kemarau, saluran air dan fasilitas irigasi yang buruk menyebabkan tidak semua petani mendapatkan air yang cukup untuk mengolah sawahnya. Dan masalah ini berujung pada konflik antar warga. Eksploitasi air tanah yang berlebihan juga terjadi di wilayah Citarum Hilir. Permasalahan tersebut terakumulasi dengan pengrusakan ekosistem yang menyebabkan hilangnya hutan mangrove sebagai pencegah abrasi. Kedua hal tersebut menyebabkan peningkatan proses intrusi air laut ke air tanah.

Perbaikan Sungai Citarum

Pergerakan sudah dimulai. Perbaikan sudah dilakukan oleh banyak pihak, kalangan dan stakeholder yang membersihkan Citarum mulai dari beberapa tahun yang lalu. Sejak tahun 2014 ada Citarum Bestari hingga terbit Peraturan Gubernur Jawa Barat No 78 Tahun 2015. Tahun 2016 menggandeng TNI dan polri dan tahun 2018 ini menggandeng seluruhnya untuk bergerak yang diperkuat dengan terbitnya Peraturan Presiden No 15 tahun 2018.

Beberapa program yang sedang dijalankan yaitu pertama, rehabilitasi kanal tarum barat bertujuan untuk meningkatkan penyediaan air bersih dan sanitasi, meningkatkan produktivitas pertanian, memperbaiki pasokan air baku untuk Jakarta. Dua, system rice intencification bertujuan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan air dan peningkatan produktivitas pertanian melalui metode SRI. Saat ini SRI sudah dilakukan pada 3.000 Ha di 3 kabupaten (Karawang, Subang, dan Bandung). Tiga, perbaikan air minum dan sanitasi. Memberikan subsidi fasilitas air minum sistem sanitasi dan sistem drainasi berbasis masyarakat untuk perbaikan perilaku hidup sehat. Empat, perbaikan kualitas air.

Ada berbagai cara mewujudkan citarum menjadi lebih wangi. Pertama, membuang sampah pada tempatnya. Sedikit demi sedikit lama-lama jadi bukit. Sama halnya jika membuang sampah sembarangan. Mulai dari diri sendiri maka bukan mustahil jika sungai citarum bisa bersih kembali. Kedua, pengelolaan limbah. Kotoran ternak seperti Sapi, Kerbau, atau Kuda bisa menjadi sumber energi alternatif yang ramah lingkungan. Kotoran ternak dibuang menjadi gas metana yang dapat dimanfaatkan sebagai kebutuhan energi rumah tangga seperti memasak. Berdasarkan penelitian, 1 m3 biogas setara dengan 0,62 liter minyak tanah. Sedangkan dari 1 ekor ternak sapi atau kerbau dapat dihasilkan 2 m3 biogas per hari. Ketiga, pemilihan vegetasi pertanian. Walaupun penyebab utama lahan kritis di lereng gunung adalah akibat dari pertanian bukan berarti pertanian menjadi suatu hal yang dilarang. Petani tetap dapat bertani sekaligus menjaga lingkungan apabila lebih bijaksana dalam pemilihan vegetasi yang akan ditanam. Tanaman seperti kopi memiliki akar serabut cukup banyak yang bisa menahan air. Termasuk tanaman murbey. Bambu selain dapat di tanam dibawah teduhan kayu sebagai penahan erosi dan menstabilkan tanah juga memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi. Empat, penghijauan. Apa yang dibutuhkan adalah kesabaran. Efek positif yang diharapkan ketika bersusah payah menanam pohon memang tidak akan langsung dirasakan saat ini juga. Tetapi pada saat pohon-pohon sudah mulai tumbuh, manfaat yang akan dirasakan sungguh besar. Menjadi paru-paru di lingkungan perkotaan, mengurangi erosi dibantaran sungai, mencegah abrasi di pesisir pantai. Lima, tidak mendirikan bangunan di bantaran sungai. Jika mendirikan bangunan di bantaran sungai juga dapat membahayakan jiwa. Hal ini karena jika terjadi banjir maka rumah di bantara sungai dapat tergerus dan longsor atau bahkan terbawa aliran air. Lebih baik jika bantaran sungai dibiarkan bebas dan jika ditata dengan baik dapat dimanfaatkan sebagai ruang terbuka untuk masyarakat. Enam, membuat lubang biopori. Bagi orang-orang yang tinggal diperkotaan, pembuatan lubang biopori ini sangat mudah diterapkan disekitar lingkungan perumahan. Pada prinsipnya lubang biopori disebabkan oleh aktivitas organisme didalam tanah yang akan memperluas volume resapan air hujan. Dampaknya, Selain memperbanyak volume air tanah, air hujan tidak akan langsung mengalir ke saluran pembuangan yang berpotensi sebagai penyebab banjir. Tujuh, pengelolaan sampah rumah tangga. Dapat dimulai dari rumah sendiri. Selain itu, dapat mengajak orang di sekitar lingkungan untuk berpartisipasi dalam pengelolaan sampah. Pengelolaan sampah rumah tangga dimaksudkan untuk memilah sampah organik dan non organik yang bisa didaur ulang dan tidak bisa didaur ulang. Kemudian menentukan apakah sampah tersebut dapat dijadikan kompos, dibakar, atau bahkan dijual kembali. Di mulai dari hal kecil, dimulai dari diri sendiri. Mari ubah perilaku menjadi lebih positif demi lingkungan dan citarum yang lebih baik. Delapan, memperbanyak bank sampah dan menggaet asosiasi pengusaha daur ulang guna memanfaatkan sampah-sampah yang ada di Citarum. Sembilan, penegakan hukum pada penanganan limbah cair.

Kunci pendukung berupa pemberdayaan masyarakat dan data informasi akurat yang ditunjang dengan monitoring untuk mewujudkan sebuah visi mulia bersama yaitu pemerintah dan masyarakat bekerja bersama demi terciptanya sungai yang bersih, sehat dan produktif serta membawa manfaat berkesinambungan bagi seluruh masyarakat di wilayah sungai Citarum.

Kesehatan Masyarakat di Daerah Aliran Sungai Citarum

Jawa Barat memiliki 27 wilayah Kabupaten/Kota yang mana sungai Citarum melintasi 12 wilayah administrasi kabupaten/kota seperti yang telah dijelaskan di awal tulisan ini. Bila melihat Keputusan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Nomor 126 Tahun 2017, 10 dari 12 wilayah yang dilintasi oleh sungai Citarum terdapat desa tertinggal diantaranya 13 Desa tertinggal di Kabupaten Purwakarta, 27 Desa tertinggal di Kabupaten Karawang, 8 Desa tertinggal di Kabupaten Bekasi, 21 Desa tertinggal di Kabupaten Bandung, 16 Desa tertinggal di Kabupaten Bandung Barat, 44 Desa tertinggal di Kabupaten Bogor, 12 Desa tertinggal di Kabupaten Indramayu, 20 Desa Tertinggal di Kabupaten Cianjur, 8 Desa Tertinggal di Kabupaten Subang, 12 Desa tertinggal di Kabupaten Sumedang. Sehingga kemungkinan tercemarnya sungai Citarum akibat masyarakat membuang sampah ke sungai karena kurangnya pengetahuan masyarakat tentang perilaku membuang sampah di desa tertinggal. Seperti yang disampaikan pada penelitian Yulida (2015) bahwa pengetahuan, sikap, infrastruktur dan implementasi kebijakan pemerintah berpengaruh terhadap perilaku orang dalam membuang sampah di sungai Batang Bakarek-Karek.

Hasil pemantauan badan pengendalian dampak lingkungan (bapedal) provinsi Jawa Barat tahun 2008 menyatakan bahwa status mutu air Citarum sudah pada kondisi tercemar berat. Sebagian warga sekitar Citarum masih mencari ikan konsumsi dari sungai Citarum. Padahal Sungai citarum terbukti mengandung bakteri E-coli hingga logam berat mercuri. Pengetahuan akan kondisi sungai Citarum yang minim membuat mereka tak sadar akan bahaya kandungan ikan yang ditangkapnya. Menurut badan POM tahun 2017, ikan yang hidup di sungai Citarum mengandung merkuri sebesar 8,64 microgrm per gram ikan. Jauh melebihi ambang batas mercuri 0,5 microgram per gram ikannya. Padahal terdapat dampak berbahaya dari keracunan merkuri yaitu gangguan otak & mental, tremor, radang & pembengkakan gusi, gangguan perut & ginjal, bagi wanita hamil dapat mengganggu fungsi otak janin, tangan & kaki bengkak, kebas atau kesemutan, kulit tubuh mengelupas. Di beberapa tempat bahkan ada pula yang masih membuang hajat langsung dari WC gantung di atas sungai Citarum.

Hasil Riskesda tahun 2013 menjelaskan bahwa Tuberkulosis di Jawa Barat (0,7 %) menjadi penyakit tertinggi pertama di Indonesia, Jawa Barat menjadi provinsi ke tiga untuk prevalensi gangguan mental emosional tertinggi di Indonesia, Jawa Barat menjadi provinsi ke empat untuk prevalensi hipertiroid (0,5 %), Jawa Barat menjadi provinsi ke dua untuk prevalensi penyakit sendi (32, 1 %). Dari hasil tersebut, kemungkinan sungai Citarum yang tercemar turut andil menyumbang Jawa Barat menjadi provinsi tertinggi di Indonesia untuk beberapa penyakit. Sebagai contoh Tuberkulosis dapat menular dengan mudah melalui udata yang disebabkan karena menumpuknya sampah di sekitar lingkungan. Walaupun demikian, Jawa Barat menduduki menjadi provinsi tertinggi untuk pengetahuan tentang keberadaan Posyandu (78,2 %). Keberadaan Posyandu dapat dimanfaatkan sebagai promosi kesehatan terkait penyakit-penyakit yang dapat timbul akibat tercemarnya sungai Citarum karena limbah dan sampah.

Referensi :

Citarum riwayatmu kini. Official net news.

CNN Indonesia. Darurat Sampah Sungai Citarum – Insight With Desi Anwar

Crea Mago. Infographic cita citarum “citarum now”

Hardiyanti, Lia (2017). Hubungan kualitas sumber air, perilaku dan lingkungan terhadap infeksi parasit usus anak sekolah dasar di tepi sungai batang hari kecamatan Telanaipura, Kota Jambi. Tesis. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta

Infographi cita citarum “community participation”

Infographic cita citarum “Citarum roamap”

Keputusan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Nomor 126 Tahun 2017 tentang Penetapan Prioritas Sasaran Pembangunan Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi

Peraturan Gubernur Jawa Barat No 78 Tahun 2015 tentang Gerakan citarum bersih, sehat, indah dan lestari

Peraturan Presiden Nomor 15 Tahun 2018 tentang percepatan pengendalian pencemaran dan kerusakan daerah aliran sungai citarum

Kementerian Kesehatan. Riset Keseharan Dasar Tahun 2013

Yulida, Novrida (2015). Analisis Perilaku Masyarakat di Daerah Aliran Sungai Batang Bakarek-karek Kota Padang Panjang Sumatera Barat dalam Membuang Sampah. Tesis. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

loading...
Share

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*